Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Penerjun Payung AS
Master Sgt. Richard Ebensberger

Ratusan Penerjun Payung dan Dua Kapal Induk AS Latihan di Guam

Berita Baru, Internasional – Pada hari Selasa (1/7), lebih dari 400 penerjun payung AS latihan terjun payung di Pangkalan Angkatan Udara Andersen Guam. Menurut Angakatan Udara AS, mereka sedang melakukan latihan serangan udara tiruan terbesar di Guam.

Mengutip Guam Daily Post, operasi itu melibatkan setidaknya lima pesawat pengangkut C-17 Globemaster III yang terbang langsung sejauh 4.600 mil dari Pangkalan Bersama Elemendorf-Richardson, Alaska.

Ratusan Penerjun Payung dan Dua Kapal Induk AS Latihan di Guam
Para penerjun payung dari Tim Tempur Brigade Infanteri ke-4, Divisi Infanteri ke-25 Angkatan Darat AS Alaska melakukan Joint Forcible Entry Operation (JFEO) ke Pangkalan Angkatan Udara Andersen, Guam, 30 Juni. STAFF SGT. RYAN BROOKS

Selama operasi berlangsung, pasukan terjun payung mempunyai tujuan utama untuk ‘menangkap’ pangkalan dan mengamankan lapangan udara, yang mana selanjutnya Angkatan Udara AS akan menerbangkan beberapa pembom strategis tercepatnya.

Komandan Tim Tempur Brigade Infanteri ke-4, Kolonel Christopher Landers mengatakan latihan itu untuk menguji kemampuan pasukannya dalam menjalankan misi di dunia nyata.

“Skenario ini menguji kemampuan kita untuk menjalankan misi dunia nyata dan menunjukkan bahwa kita mampu menempatkan di mana saja di wilayah Komando Indo-Pasifik AS pada saat itu juga.” Ujar Kolonel Landers dalam rilis berita Angkatan Udara.

Dengan dua landasan pacu sepanjang 11.000 feet, Pangkalan Angkatan Udara Andersen merupakan satu-satunya fasilitas di Pasifik Barat yang bisa menampung pesawat terbesar Angkatan Udara AS, termasuk pembom nuklir dan transportasi berat.

Pada bulan Mei, dilansir dari Sputnik, Angkatan Udara AS mengirim empat pembom supersonik B-1B Lancer yang dipersenjatai dengan rudal antikapal terbaru ke Andersen untuk memulai patroli di Laut Filipina dan Laut Cina Selatan, di mana daerah itu biasanya digunakan oleh Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLAN).

Kemudian, pekan lalu kapal induk Angkatan Laut AS USS Theodore Roosevelt dan USS Nimitz berlayar bersama di Laut Filipina, namun pekan ini USS Nimitz bergabung dengan USS Ronald Reagen untuk ikut ambil bagian dalam latihan.

Pada 28 Juni, Laksamana Muda James Kirk selaku komandan kelompok serangan kapal induk mengatakan dalam rilis berita Angkatan Laut AS bahwa latihan itu bertujuan untuk melindungi kebebasan laut.

“Hanya Angkatan Laut AS yang dapat mengintegrasikan kekuatan serangan kapal induk pada skala ini dan secara konsisten memproyeksikan kekuatan untuk melindungi kebebasan laut,” ujar Kirk.

“Dengan lebih dari 10.000 Pelaut Angkatan Laut AS dari seluruh dunia bekerja bersama sebagai satu tim yang kohesif, operasi ini adalah apa yang membuat kami siap untuk menanggapi segala kemungkinan,” tegas Kirk.

Ratusan Penerjun Payung dan Dua Kapal Induk AS Latihan di Guam
Kapal induk Angkatan Laut USS Ronald Reagan (CVN 76) melakukan operasi penerbangan malam hari di Laut Filipina, 30 Juni 2020.
Ratusan Penerjun Payung dan Dua Kapal Induk AS Latihan di Guam
Super Hornet F/A-18E yang melekat pada Eagles of Strike Fighter Squadron (VFA) 115 diluncurkan dari dek penerbangan kapal induk Angkatan Laut USS Ronald Reagan (CVN 76 ) di Laut Filipina, 30 Juni 2020.

Di samping itu, AS juga telah meningkatkan patroli pengawasan di Laut China Selatan dan Laut Filipina barat.

Pada hari Selasa, sebuah Think-Thank dari Universitas Peking South China Sea Probing Initiative (SCSPI) mencatat lebih dari 30 penerbangan AS untuk mengawasi jalur air dalam 10 hari terakhir.

Penerbangan pesawat AS untuk pengawasan itu melibatkan berbagai pesawat intelijen, termasuk pesawat penangkap sinyal, pesawat patroli maritim, dan pesawat pendukung seperti pesawat tanker udara.

Atas hal itu, CSCPI mengindikasikan bahwa patroli pengawasan itu dilakukan dengan tujuan khusus anti-kapal selam.

“Penyebaran dan operasi ini mungkin diatur untuk melindungi tiga Carrier Strike Groups (CSGs) yang beroperasi di Laut Filipina terhadap potensi dampak buruk kapal selam [China] yang transit di Selat Bashi dengan kapal induk AS,” jelas SCSPI.