Berita

 Network

 Partner

Ramadan ke-23: Rela Tenggelam demi Satu “Kebenaran”

Ramadan ke-23: Rela Tenggelam demi Satu “Kebenaran”

Berita Baru, Ramadan – Roh dalam diri manusia, meski abstrak, memiliki dua bagian secara umum. Bagian dalam dan bagian luar.

Bagian luar roh tidak lain adalah kalbu atau yang lebih sering kita dengar sebagai hati, sedangkan bagian dalamnya adalah al-Sirr (rahasia).

Seperti disampaikan oleh Oman Fathurahman pada Rabu (5/5) melalui #TanggaRuhani ke-75, al-Sirr bisa kita pahami sebagai rahasia terdalam dari manusia.

Saking dalamnya, ada yang menyebut ia lebih dalam dari palung samudera mana pun, sehingga dalam keheningan tersebut suatu kebenaran (Tuhan) memungkinkan untuk tersibak.

“Betul adanya bahwa melalui al-Sirr Tuhan menampakkan dirinya dan kita bisa menangkap pancaran-Nya,” kata Oman.

Meski demikian, untuk sampai pada terungkapnya kebenaran dan mendapatkan momentum al-Sirr, lanjut Oman, kita harus selesai dengan lima (5) #TanggaRuhani lainnya meliputi yang ke-76 al-Nafas, ke-77 al-Ghurbah, ke-79 al-Ghaybah, ke-80 al-Tamakkun, dan ke-78 al-Gharq.

Al-Nafas adalah latihan merasapi setiap napas yang kita hembuskan. Napas adalah tanda berlalunya waktu. Segala sikap kita entah yang baik maupun buruk melibatkan napas, sehingga ia merupakan saksi atas segala yang kita lakukan.

Berita Terkait :  Keadilan Sosial

Akibatnya, dengan belajar meresapi al-Nafas berarti kita belajar menggunakan waktu se-optimal mungkin, tidak membuangnya percuma. Al-Nafs adalah latihan rohani.

Kemudian, jika al-Nafs lebih pada momentum ke dalam, maka al-Ghurbah sebaliknya. Al-Ghurbah merujuk pada pentingnya kita mengambil jarak dengan keramaian (ke luar). Al-Ghurbah mengandaikan siapa saja untuk terbiasa dengan keasingan.

Kenapa dengan asing? Sebab asing menjaga netralitas kita, menjaga mental, agar tidak ikut-ikutan menjadi kerumunan. Kenyataan bahwa setiap kerumunan pasti mengabaikan kedalaman merupakan alasan mengapa demikian.

Menjadi “asing” membuat kita tetap menjadi pribadi yang memiliki kedalaman dan tidak akan ada kebenaran (Tuhan) bagi mereka yang membangga-banggakan kedangkalan.

Yang lebih sulit dari keduanya adalah al-Ghaybah, yaitu tetap santai, tidak ingin mencolok, dan menolak untuk terjebak dalam popularitas ketika melakukan aktivitas apa pun.

Berita Terkait :  Ramadan ke-15: Antara #TanggaRuhani al-Faqr, al-Gina', dan al-Murad

Mereka yang sudah di level al-Ghaybah tidak akan melihat segala yang dilakukannya—sekeren apa pun itu—sebagai suatu pencapaian yang patut dirayakan sebab mereka mengerti, ada yang lebih mendasar darinya, lebih hakiki: Tuhan.

“Bahasa lain dari al-Ghaybah ini adalah belajar ikhlas, melakukan apa saja karena ya itu memang sudah tugasnya. Mawar mekar bukan karena apa dan siapa pun melainkan karena waktunya mekar. Melakukan sesuatu hanya karena Allah,” ungkap Oman.

Adapun al-Tamakkun lebih pada kemantapan. Boleh disebut al-Tamakkun adalah pengontrol dari 3 #TanggaRuhani sebelumnya, yakni agar kita mantap dengan jalan yang sedang kita tempuh baik dengan al-Nafas, al-Ghurbah atau pun al-Ghaybah dan tidak tergoda ketika dihadapkan dengan iming-iming apa pun.

Berita Terkait :  Pertempuran Gagasan | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

Terakhir al-Gharq adalah rela ketika kita memang sudah mendapatkan momentum untuk tenggalam atau momen untuk mendapatkan al-Sirr. Kerelaan di sini penting sebab momen tenggelam, apalagi hanyut dalam samudera “kebenaran”, tidak jarang disertai dengan ujian mengejutkan.

Salah satu Nabi yang pernah melewati momen tersebut adalah Ibrahim. Karena ia rela, Ibrahim berhasil menyelami samudera “kebenaran”, berani menjalankan perintah-Nya menyembelih Ismail, dengan penuh suka cita.