Ramadan ke-14: dari #TanggaRuhani al-Iradah hingga al-Dzikr

-

Berita Baru, Ramadan – Apa yang kita lakukan tergantung pada apa yang kita kehendaki. Kehendak menyetir tindakan dan di waktu bersamaan kehendak berhubungan erat dengan segenap pemikiran kita.

Apa yang disampaikan Oman Fathurahman pada #TanggaRuhani ke-43 al-Iradah (kehendak) tidaklah berbeda. Menurut Oman, sambil menjelaskan istilah tersebut, bagaimana sikap dan keputusan seseorang ditentukan oleh kehendaknya.

“Jika kehendak kita selalu baik, maka sikap kita pada orang lain atau atas suatu hal akan baik juga dan jika sebaliknya, maka akan buruk pula,” kata Oman pada Senin (26/4).

Salah satu contoh sikap yang lahir dari kehendak baik, lanjut Oman, ditampilkan dalam #TanggaRuhani ke-44 al-Adab (adab), yaitu kecenderungan untuk bertindak standar, dalam arti di tengah, netral.

Sikap ini sangat susah dipraktikkan—sebab hati manusia diciptakan pada dasarnya untuk memihak—tetapi bukan berarti tidak dapat diupayakan.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk memulai ini, ungkap Oman, adalah dengan tidak terlalu khawatir atau berlebihan (al-ifrath) dan tidak juga terlalu optimis atau menyepelekan (al-tafrith).

“Kuncinya adalah latihan untuk selalu menempuh jalan tengah, tidak gampang putus asa dan tidak juga gampang terlena,” ujarnya.

Termasuk dalam praktik berlebihan yang perlu dihindari adalah berlebihan dalam memuji Tuhan. Seperti diulas Oman dalam #TanggaRuhani ke-45 al-Yaqin (yakin), berlebihan dalam memuji Tuhan justru menunjukkan betapa seseorang sebenarnya kurang yakin pada Tuhan.

Karena tidak memiliki sikap al-Yaqin, maka dia meyakinkan—untuk tidak menyebut merekayasa—dirinya dan cara seperti ini biasanya dilakukan secara berlebihan agar keraguan dalam hatinya tertutupi.

“Dari segi bahasa, al-yaqin ini bisa kita pahami sebagai keberanian untuk memercayai perkara-perkara yang tidak terlihat, seperti surga dan neraka. Orang yakin tidak pernah memuji Tuhan secara berlebihan dan tidak mencaci mereka yang berbeda,” ungkap Oman    

Contoh lain dari sikap yang dilandasi kehendak baik, Oman menambahkana, adalah #TanggaRuhani ke-46 al-Uns (ramah) dan ke-47 al-Dzikr (mengingat).

Pertama merujuk pada sikap jinak atau tunduk pada Tuhan. Dalam menulis ini, al-Sinkili mengutip pendapat al-Harawi yang bilang bahwa al-Uns adalah rohnya taqarrub atau kedekatan dengan Tuhan.

Dengan ungkapan lain, agar kita bisa dekat dengan Tuhan kita harus terbiasa bersikap ramah, jinak, serta tunduk, dan ukuran kita bisa menyebut diri sebagai yang jinak adalah saat kita sudah mampu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang Dia larang.

“Sederhananya, ketika kita tidak mau melakukan yang Tuhan harapkan, maka kita sombong dan bukankah tidak ada keramahan dalam diri seorang sombong?” jelas Oman.

Kedua lebih pada upaya untuk selalu mengingat Tuhan. Al-Sinkili, jelas Oman, mengandaikan kita untuk al-Dzikr sebab dengannya kita dilatih untuk mengendalikan lupa dan lalai, mengetahui keduanya adalah perkara yang kerap terjadi pada manusia.

Ini persis dengan ungkapan Ronggowarsito, “seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masihlah beruntung mereka yang ingat.”

Lebih jauh, Oman  juga memaparkan, ada tiga model yang bisa kita tempuh dalam al-Dzikr, yaitu zahir, samar, dan hakiki. Di antara mereka, yang terakhirlah yang lebih sulit dilakukan, yakni selalu menghadirkan Allah dalam diri kita masing-masing.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments