Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Presiden Iran Ebrahim Raisi berbicara selama upacara untuk menandai peringatan ke-43 Revolusi Islam di Teheran, Iran 10 Februari 2022. Foto: WANA.
Presiden Iran Ebrahim Raisi berbicara selama upacara untuk menandai peringatan ke-43 Revolusi Islam di Teheran, Iran 10 Februari 2022. Foto: WANA.

Presiden Raisi: Iran Tidak Pernah Berharap Sama Sekali pada Pembicaran Wina

Berita Baru, Teheran – Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan bahwa Iran tidak pernah berharap sama sekali pada pembicaran Wina yang bertujuan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 (JCPOA).

Sejak April 2020, Iran dan dan kekuatan dunia atau P5+1 (China, Prancis, Rusia, Inggris Raya, dan Amerika Serikat; ditambah Jerman) telah berupaya menghidupkan atau mengembalikan kesepakatan nuklir dan sudah mencapai putaran kesembilan.

Putaran kesembilan yang berlangsung pada Selasa (8/2) kemarin juga dilaporkan tidak ada banyak perkembangan. Macet.

Iran, di satu sisi, ingin agar semua sanksinya dihapus dan jaminan dari AS jika ingin JCPOA dikembalikan. Sementara, AS dan kekuatan dunia lain curiga Iran sudah mengumpulkan cadangan uraniumnya sampai di tingkat untuk memproduksi senjata nuklir.

Perjanjian nuklir bubar di tahun 2018 saat mantan Presiden Trump keluar dari perjanjian dan memberikan sanksi keras pada Iran. Beberapa aset Iran di luar negeri juga dibekukan.

Iran membalas sanksi tersebut dengan melanggar beberapa kesepakatan, termasuk memproduksi uranium yang diperkaya jauh melebihi ambang batas kesepakatan.

Namun, di masa Presiden Biden, beberapa negara mendorong agar perjanjian tersebut dihidupkan lagi.

Menanggapi perkembangan yang macet di Wina, Presiden Iran Ibrahim Raisi mengatakan Iran memang tidak berharap apapun dalam pembicaraan Wina.

“Kami menaruh harapan kami di timur, barat, utara, selatan negara kami dan tidak pernah memiliki harapan di Wina dan New York,” kata Raisi dalam pidato hari Kamis (10/2) yang disiarkan televisi untuk memperingati ulang tahun ke-43 Revolusi Islam Iran, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Raisi juga mengatakan Iran akan mengandalkan potensi ekonomi domestiknya daripada mengharapkan dukungan dari luar negeri dan dari pembicaraan nuklir dengan kekuatan dunia.

Sebelumnya, pada Senin (7/2), Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa Amerika Serikat harus membuat “keputusan politik” mengenai pencabutan sanksi karena Iran ingin penghapusan sanksi secara penuh, sebagai syarat utama untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015.

Kemudian, pada Rabu (9/2), Pemerintahan Presiden AS Joe Biden secara terbuka menekan untuk menghidupkan kembali perjanjian dengan cepat, dengan mengatakan bahwa tidak mungkin untuk kembali ke kesepakatan jika kesepakatan tidak tercapai dalam beberapa minggu.

Menanggapi langkah tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada hari Kamis bahwa masih ada jalan panjang sebelum kesepakatan itu dapat dihidupkan kembali.

Raisi bahkan mengatakan “kebijakan luar negeri” Iran dan Barat “seimbang.

“Melihat ke Barat telah membuat hubungan negara tidak seimbang, kita perlu melihat semua negara dan kapasitas di dunia, terutama tetangga kita,” kata Raisi.

Saat berpidato, banyak audien yang meneriakkan yel-yel “Matilah Amerika”, yang merupakan slogan dari revolusi yang menggulingkan Syah yang didukung AS pada tahun 1979. Selain itu, audien juga meneriakkan “Matilah Inggris” dan “Matilah Israel.”

Dalam memperingati revolusi tersebut, warga Iran melakukan arak-arakan kendaran. Televisi pemerintah menayangkan cuplikan langsung mobil dan sepeda motor yang bergerak melalui jalan-jalan di puluhan kota besar dan kecil di mana.