Berita

 Network

 Partner

Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Foto: Instagram @jokowi)

Presiden Jokowi Minta Jajarannya Cari Skema Matang Transisi Energi

Berita Baru, Jakarta – Presiden Jokowi meminta jajaran menteri mencari skema dan menyusun perhitungan yang matang untuk mempersiapkan transisi energi dari sumber daya fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT) yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Hal itu diungkap Presiden dalam The 10th Indonesia Ebtke Conex 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/11).

Pengembangan dan pengelolaan industri EBT membutuhkan pembiayaan yang tinggi. Di sisi lain pemerintah juga tidak mungkin mengkonversi biaya transisi energi ke EBT ke harga yang dibebankan kepada konsumen.

“Pertanyaannya skenarionya seperti apa ? Misalnya, ini misalnya pendanaan datang, investasi datang, kan harganya tetap lebih mahal dari batu bara. Siapa yang membayar gap-nya ini, siapa? Ini yang belum ketemu,” tutur Presiden Jokowi.

Berita Terkait :  Presiden Jokowi: Setiap Informasi Covid-19 Sudah Terbuka

Ia meminta, besarnya harga transisi energi juga tak mungkin dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah tidak mungkin menaikkan tarif listrik kepada konsumen untuk membiayai transisi energi tersebut.

“Angkanya berapa ratus triliun. Nggak mungkin, atau dibebankan masyarakat, tarif listrik naik? juga tidak mungkin. Ramai nanti, gegeran kalau terjadi seperti itu, karena itu kenaikan sangat tinggi sekali. Pertanyaannya skenarionya seperti apa kita sekarang,” tambahnya.

Atas dasar itu, Presiden Jokowi memerintahkan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan Menteri BUMN Erick Thohir untuk menyusun skema transisi energi di dalam negeri.

“Yang konkret-konkret saja, tapi kalkulasinya riil, ada hitung-hitungan angkanya riil. Kalau bisa transisi, pasti ada harga naik. Ini siapa yang bertanggung jawab, pemerintah atau masyarakat atau masyarakat global, mau mereka nombokin negara ini?” ungkap Presiden Jokowi.

Berita Terkait :  Atasi Karhutla, Presiden Berikan Arahan dalam Rakornas

Menurut Presiden, potensi EBT di Indonesia mencapai 418 Giga Watt (GW). Hal itu meliputi pembangkit listrik hydropower (tenaga air), pembangkit listrik geothermal (tenaga panas bumi), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), arus bawah laut, hingga solar panel.

“Negara ini punya potensi yang besar. Indonesia punya 4.400 sungai yang gede dan sedang. Bisa digunakan untuk hydropower (PLTA), tapi investasinya besar sekali,” tegas Presiden Jokowi.