Polrestabes Surabaya Tembak Mati Bandar dan Berhasil Amankan 28,8 Kg Sabu

    Foto: SINDO

    Berita Baru, Surabaya — Unit I Satresnarkoba Polrestabes Surabaya, Jawa Timur menembak mati bandar sabu dengan nama Fajar Rizky (28), Sabtu (12/9) kemarin. Penembakan itu terjadi karena Fajar Rizky melawan petugas saat hendak hendak ditangkap.

    Melansir dari SINDONews, polisi berhasil mengamankan 23,791 kilogram (kg) sabu dan 14.700 butir pil ekstasi. Diketahui, Fajar adalah pemasok sabu ke beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim), seperti Madura, Malang, Pasuruan dan Surabaya.

    Rinciannya, sebanyak 23,791 kg sabu dan 14.700 butir pil ekstasi disita dari Fajar serta 5,96 kg sabu disita dari Dodi Sanjaya (32) warga Sulawesi Tenggara dan Andi Sumarlan (34) warga Kalimantan Selatan. Mereka tinggal di sebuah apartemen di Jalan Tidar.

    Dan keduanya saat ini telah diamankan petugas beserta tersangka lain, yakni Budianto (37). Sedang ketiganya terpaksa harus ditembak kakinya oleh polisi lantaran mencoba melarikan diri ketika disergap.

    “Para tersangka mengaku mendapat sabu dari napi di salah satu Lapas di Jatim,” terang Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Johny Eddison Isir di Mapolrestabes Surabaya, pada Senin (14/9).

    Berita Terkait :  Pemprov Banten Izinkan KBM Tatap Muka Khusus Sekolah di Daerah Pelosok

    Dia mengatakan, bahwa pengungkapan itu bermula saat penyergapan Dodi dan Andi. Usai keduanya diamankan, polisi mendapat informasi bahwa Fajar ada di salah satu apartemen di Surabaya.

    Polisi pun langsung melakukan penggrebekan di kamar apartemen tersebut.

    “Saat itu, kami amankan 23 kg sabu dan 14.700 butir pil ekstasi,” ujar Isir.

    Petugas kemudain berhasil membawa Fajar ke rumah yang dikatakan tersangka masih ada sabu-sabu di dalamnya. Tersangka menerangkan bahwa sabu disimpan di sebuah rumah di Jalan Wonorejo Timur.

    Akan tetapi, ketika diminta mengambil tas di dalam rumah itu, tersangka Fajar malah mengambil senjata tajam yang sudah disiapkan di dalam tasnya. Senjata tajam itu diarahkan ke petugas.

    “Akhirnya kami terpaksa mengambil tindakan tegas dan terukur,” tutupnya.

    - Advertisement -

    Tinggalkan Balasan