Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Fajar B. Hirawan
Kepala Departemen Ekonomi CSIS Indonesia, Fajar B. Hirawan.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Bisa Dirasakan Siapa Pun

Berita Baru, Nasional – Berdasarkan rilis resmi BPS, struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2021 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa (6 provinsi) yang memberikan kontribusi ekonomi sebesar 57,89 persen. Artinya 42,11 persen lainnya dibagi atas 28 provinsi lainnya.

Data tersebut masih menunjukkan bahwa ekonomi indonesia belum masih jawasentris, dan perkembangan ke arah pemerataan distribusi masih berjalan secara lambat.

Kepala Departemen Ekonomi CSIS Indonesia, Fahar B. Hirawan menilai, kondisi saat ini masih jawasentris. Namun demikian, angka 58% tersebut menurutnya sudah membaik, karena sebelumnya masih berada di atas 60%.

“Tidak bisa kita pungkiri ini ya dan ini sudah terjadi sejak lama, bahkan angkat 58% ini sudah membaik, sebelumnya di atas 60%,” jelas Fajar ketika menjadi narasumber gelar wicara BERCERITA, Selasa (24/2).

Selain mengulas belum efektifnya pemerataan ekonomi, Fajar juga mengulas pentingnya pertumbuhan ekonomi yang iklusif, mengingat indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki disparitas tinggi.

“Tapi untuk konteks sekarang, inklusivitas itu penting, apalagi Indonesia adalah negara kepulauan dengan disparitas yang tinggi,” jelas Fajar.

Hal itu, menurut Fajar, selaras dengan prinsip kebijakan ekonomi yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut Fajar meminta agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh semua pihak, termasuk laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, serta kaya dan miskin.

“Pertumbuhan ekonomi harus bisa dirasakan siapa pun, tua-muda, kaya-miskin,” tegas Fajar.

Meskipun begitu Fajar mengatakan jika Indonesia masih butuh waktu untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, karena salah satu faktornya adalah masih buruknya infrastruktur digital hampir seluruh wilayah.

“Kesimpulannya, Indonesia masih butuh waktu untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan sustainable,” tutur Fajar.