Berita

 Network

 Partner

Milter Myanmar Sebut Sudah Siap dengan Sanksi dan Isolasi Pasca Kudeta
(Foto: Reuters)

Milter Myanmar Sebut Sudah Siap dengan Sanksi dan Isolasi Pasca Kudeta

Berita Baru, Internasional – Militer Myanmar mengatakan telah siap menahan sanksi dan isolasi setelah melakukan kudeta terhadap pemerintahan pada 1 Februari 2021 lalu.

Hal tersebut disampaikan pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika dia mendesak negara-negara untuk mengambil tindakan memulihkan demokrasi di Asia Tenggara pada Rabu (3/3).

Dikutip dari Reuters, utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener mengatakan, 38 orang pedemo telah tewas sejak kudeta militer Myanmar.

Schraner Burgener mengatakan kepada wakil panglima militer Myanmar Soe Win, bahwa akan ia akan menghadapi tindakan keras dari beberapa negara dan isolasi sebagai pembalasan atas kudeta tersebut.

“Jawabannya adalah ‘Kami terbiasa dengan sanksi, dan kami selamat’. Ketika saya juga memperingatkan mereka akan pergi dalam isolasi, jawabannya adalah: ‘Kita harus belajar berjalan hanya dengan beberapa teman’,” tutur Schraner.

Berita Terkait :  Militer Myanmar Putus Jaringan Nirkabel, Aktivis Pro Demokrasi Tidak Gentar

Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Uni Eropa, telah mempertimbangkan sanksi yang ditargetkan untuk menekan militer dan sekutu bisnisnya.

Sebelumnya, Rusia dan China memandang bahwa hal tersebut merupakan urusan dalam negeri Myanmar. 

“Saya berharap mereka menyadari bahwa ini bukan hanya urusan internal, tapi juga mengenai stabilitas kawasan,” kata Schraner Burgener tentang China dan Rusia.

 “Jelas, menurut saya, taktiknya sekarang adalah menyelidiki orang-orang NLD untuk memenjarakan mereka. Pada akhirnya NLD akan dilarang dan kemudian mereka mengadakan pemilihan baru, di mana mereka ingin menang, dan kemudian mereka dapat terus berkuasa,” tegasnya.