Menlu Iran Sebut Raja Salman Mengigau Saat Berpidato di Majelis Umum PBB

Raja Salman
Bendera nasional Iran dikibarkan dengan latar menara telekomunikasi Milad di Teheran. Foto: Vahid Salemi/AP Photo.

Berita Baru, Internasional – Pada hari Rabu (24/9), juru bicara kementerian luar negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengecam pidato Raja Salman bin Abdulaziz yang berapi-api saat pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Khatibzadeh menyebut pidato Raja Salman itu adalah ‘pembicaraan mengigau’. Ia juga menuduh Arab Saudi telah memutarbalikkan fakta dan melimpahkan kesalahan atas ‘kejahatannya’ sendiri, serta mencapnya sebagai ‘pendukung keuangan dan logistik utama terorisme di wilayah tersebut.’

Arab Saudi yang mayoritas Muslim Sunni dan Iran yang didominasi Syiah telah bertahun-tahun terkunci dalam beberapa perang proksi di kawasan itu, termasuk di Yaman di mana koalisi yang dipimpin Saudi telah memerangi gerakan Houthi yang berpihak pada Teheran.

“Kekalahan politik dan tanah yang konstan di Yaman, telah membuat Arab Saudi beralih ke pembicaraan yang mengigau dan mereka ingin melepaskan diri dari tanggung jawab kejahatan perang mereka terhadap perempuan dan anak-anak Yaman dengan menuding negara lain,” kata Khatibzadeh, dilansir dari Aljazeera.

Khatibzadeh juga menambahkan bahwa dukungan Arab Saudi terhadap kampanye ‘tekanan maksimum’ sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran, mebuktikan ‘lemahnya’ Arab Saudi.

Berita Terkait :  Hindari Sanksi AS, Enam Negara Eropa Gabung Instex

Sebelumnya, selama pernyataan video pada hari Rabu (23/9), Raja Salman bin Abdulaziz meminta 193 anggota Majelis Umum PBB untuk solusi komprehensif bagi musuh bebuyutan Arab Saudi dan untuk menghentikan rencana Iran untuk mendapatkan senjata pemusnah massal.

Dalam pidatonya, raja Saudi berusia 84 tahun itu menuduh bahwa Iran telah mengeksploitasi kesepakatan nuklir 2015 dengan kekuatan dunia untuk “mengintensifkan kegiatan ekspansionisnya, menciptakan jaringan terorisnya dan menggunakan terorisme” yang telah “tidak menghasilkan apa-apa selain kekacauan, ekstremisme, dan sektarianisme.”

“Pengalaman kami dengan rezim Iran telah mengajarkan kami bahwa solusi parsial dan peredaan tidak menghentikan ancamannya terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” kata Raja Salman dalam pidato pertemuan virtual Majelis Umum PBB.

Dalam pidatonya, Raja Salman juga terlihat ‘sedikit’ menahan diri dari mengkritik kesepakatan “normalisasi” yang ditengahi Washington baru-baru ini yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir antara Uni Emirat Arab dan Bahrain untuk menjalin hubungan dengan Israel.

Majid Takht-Ravanchi, utusan Iran untuk PBB, juga mengecam tuduhan Raja Salman sebagai “tidak berdasar” dan menuduh Arab Saudi sebagai “sumber ketidakstabilan di wilayah tersebut.”

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan