Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Menko PMK Sebut Terawan Punya Terobosan dan Inovasi
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Efendy (foto: Istimewa)

Menko PMK Sebut Terawan Punya Terobosan dan Inovasi

Berita Baru, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebutkan Terawan Agus Putranto memiliki panggilan jiwa yang besar dalam dunia kesehatan dan juga terpanggil untuk melakukan terobosan dan inovasi.

Hal tersebut disampaikan Muhadjir menyikapi rekomendasi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) untuk memberhentikan permanen Terawan Agus Putranto dari anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Muhadjir menilai rekomendasi pemberhentian tersebut berlebihan, karena masalah tersebut harusnya bisa diselesaikan melalui urun rembuk secara baik-baik.

“Pak Menkes sudah berbicara dengan saya mengenai langkah yang akan dilakukan. Nanti akan kita tindak lanjuti,” ujar Muhadjir dalam pernyataan tertulis, Jumat (1/4/2022) malam.

Lebih lanjut, Muhadjir mengaku telah bertemu dengan Ketua IDI yang baru dikukuhkan melalui Mukernas XXXI IDI di Aceh, Adib Khumaidi.

“IDI punya tanggung jawab menegakkan kode etik profesi, Pak Terawan memiliki panggilan jiwa untuk melakukan terobosan dan inovasi. Hanya, mungkin tingkat pertemuannya yang tidak intensif saja kemudian menjadi masalah yang berkepanjangan,” ujar dia.

Berdasar penjelasan yang didapat, kata Muhadjir, IDI pada prinsipnya terbuka dan akan berusaha mencari titik temu berkait dengan dugaan pelanggaran kode etik yang menimpa Terawan.

Dia berharap IDI tetap bisa menegakkan disiplin bagi anggotanya, namun juga bisa memberikan peluang adanya inovasi dan terobosan yang digagas dan diinisiasi oleh anggotanya.

“Terobosan dan inovasi itu kan sangat penting, sehingga ilmu kedokteran Indonesia tidak mandeg. Kalau tidak ada yang melakukan terobosan inovasi kita khawatir program percepatan transformasi di bidang kesehatan akan mandeg. Perkembangan Ilmu dan praktik kedokteran Indonesia bisa jauh tertinggal,” tutur Muhadjir.