Berita

 Network

 Partner

perubahan iklim
Ilustrasi perubahan iklim (Foto: Istimewa)

LPBINU Ajak Warga Nahdliyin Dukung Upaya Penanganan Perubahan Iklim

Berita Baru, Jakarta – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) mengajak Nahdliyin untuk bersama-sama mendukung upaya penanganan perubahan iklim.

Project Manager Lingkungan Hidup LPBINU Hijroatul Maghfiroh mengatakan dorongan itu berguna untuk menciptakan solusi efektif menyelamatkan bumi dari krisis ekologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta bekerja keras memperkuat solidaritas antara pembangunan dan negara maju, untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, serta mempromosikan nilai-nilai etika bersama mengatasi krisis kritis ini.

“LPBINU mengajak warga NU pada umumnya, bersama-sama melakukan ikhtiar mitigasi pengurangan dampak perubahan iklim. Meskipun yang kita lakukan sekarang tidak spontan mengubah tingkat kepanasan Bumi, tetapi paling tidak bisa menurunkan atau menstabilkan suhunya sampai puluhan tahun ke depan. Sehingga Bumi masih bisa layak untuk ditinggali oleh anak-cucu kita kelak,” kata Maghfiroh, Rabu (6/10).

Berita Terkait :  Konferensi Perubahan Iklim Ke-25, Indonesia Siap Berjuang

Menurutnya, aksi nyata lainnya yang bisa dilakukan masyarakat yaitu dengan menekan pola konsumsi yang berlebihan dan mengurangi produksi sampah dengan menerapkan prinsip 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) serta tindakan-tindakan lain yang sekiranya dapat memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kualitas lingkungan dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

“Kita bisa menjadi penggerak masyarakat untuk meminimalisir dan mengolah sampah, sehingga sampah tidak berakhir di laut yang akan membunuh biota laut, atau di sungai yang akhirnya menyebabkan banjir,” jelas Maghfiroh.

Indonesia, lanjut Maghfiroh merupakan negara yang sangat beruntung karena memiliki wilayah hutan tropis yang sangat luas. Akan tetapi, sayangnya, hutan di Indonesia terdegradasi akibat pembalakan liar, perambahan hutan, pengurangan kawasan hutan (deforestasi) untuk kepentingan pembangunan dan penggunaan lahan yang dilakukan dengan masif dan tidak didasarkan pada prinsip keberlanjutan. Hutan menjadi rusak dan tidak dapat lagi menyerap karbon dengan baik.

Berita Terkait :  YouTuber Ferdian Paleka Cs Bebas dari Penjara

“Jumlah hutan yang semakin menyusut ditambah dengan produksi emisi yang semakin banyak membuat atmosfer bumi panas dan mempercepat terjadinya perubahan iklim,” ujarnya.

Padahal, terang dia, yang mampu menyerap zat-zat karbon salah satunya adalah oksigen dari pepohonan. Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa, polusi udara dari kendaraan bermotor bensin (spark ignition engine) menyumbang 70 persen karbon monoksida (CO), 100 persen plumbum (Pb), 60 persen hidrokarbon (HC), dan 60 persen oksida nitrogen (NOx).

“Jadi mitigasi terhadap perubahan iklim yang harus banyak dilakukan adalah mengurangi produksi karbondioksida dan zat-zat lain yang memicu efek rumah kaca, dan meningkatkan produksi oksigen dengan memperluas hutan bukan malah menguranginya apalagi megalihfungsikan hutan,” terangnya.

Berita Terkait :  Bansos PPKM Darurat, Luhut Sebut Pemerintah Tak Ingin Ada Rakyat yang Kelaparan

“Mengurangi produksi karbondioksida itu sederhana. Misalnya, menggunakan transportasi umum itu bagian kecil yang bisa kita lakukan. Kemudian, jika tidak mampu melakukan reboisasi, penanaman pilihannya dengan tidak merusak hutan/pepohonan,” pungkas Maghfiroh.