Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Lelaki yang Mati dengan Dua Bekas Kecupan | Cerpen: Faruqi Umar
Ilustrasi : malgosiaartonwall

Lelaki yang Mati dengan Dua Bekas Kecupan | Cerpen: Faruqi Umar



Betapa segalanya selalu tampak baik-baik saja. Dan akan begitu selamanya. Sampai akhirnya sebuah peristiwa terjadi. Dan hal indah memang hanya terjadi dalam mimpi-mimpi. Kenyataan selalu membuat seseorang jatuh bertubi-tubi, ke lubuk luka mahaperih. Seperti kejadian yang menimpa perempuan itu, yang hampir membuatnya gila ketika suaminya mati.

Tentu, bukan hanya kematian yang dapat mengguncang jiwanya. Tapi, dua tanda merah di leher suaminya yang ditemukan meringkuk tak bernyawa di sebuah selokan. Dua tanda itu seperti sebuah bekas kecupan. Sedangkan luka robek di perutnya dan mata kiri lebam, tentulah semua itu tanda-tanda kekerasan.

Kini, di balkon lantai dua rumah itu, ia duduk sambil mengenang segalanya kembali. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya yang terlihat semakin ringkih itu mendekap sebingkai foto pernikahan, dan sebuah arloji. Ya, dua tahun sialam, di tanggal dan bulan yang sama seperti hari ini, suaminya mati.

Dan sejak itu, ia mulai mengutuk segalanya. Mengutuk waktu dan jam kerjanya. Ia merasa benci dan dendam, tetapi tidak tuhu pada siapa. Jauh di lubuk hatinya, ia belum bisa berdamai dengan masa lalu. Di hari nahas itu, ia sedang berada di luar kota. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan. Sehari-hari pikiran dan tenaganya memang senantiasa terforsir untuk urusan pekerjaan. Sampai ia seperti menjadi pribadi yang berbeda. Ia tak lagi ada waktu untuk sekedar bertanya pada suaminya, apa kabar? Lagi apa? Sudah makan belum? Aku kangen, atau ungkapan-ungkapan klise lainnya.

Air matanya perlahan menetes. Kilasan peristiwa di masa lalu begitu dalam menggilas batinnya. Sampai ia terlihat tua dan menyedihkan. Pipinya cekung. Kulitnya pucat, dan rambutnya kusam tergerai. Di balkon lantai dua rumah itu ia sering merasa bahwa, kesedihan itu harus segera ia akhiri.

***

“Kita tunda dulu, ya, Mas,” katanya, mengenang. Waktu itu, usia pernikahannya baru memasuki bulan kedua. Dan karirnya sedang menanjak. Perempuan itu dipromosikan sebagai manajer di perusahaan cabang. Agar semuanya berjalan lancar, ia berencana menunda kehamilan.

“Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak?!” jawab suaminya dengan sebuah kecupan di kening.

“Serius? Kamu tidak keberatan?” Ia kembali memastikan.

“Aku tak mungkin menghalangimu.” Suara suaminya lembut tapi tegas.

“Terimakasih, Mas.”

Perempuan itu merangkul erat lelaki tambun yang lebih tinggi lima senti dari dirinya itu. Kemudian menciumnya bertubi-tubi.

“Kamu tahu, Mas?” katanya kemudian.

“Apa?” tanya suaminya dengan suara yang dalam.

“Setiap ciuman ini akan menggugurkan dosa-dosaku.” Ia pun tersenyum.

“Tahu dari mana?” Suaminya mengernyitkan dahi.

“Kata Kiai kampung, Mas.”

“Ah, benarkah?”

***

Hari-hari berikutnya, perempuan itu semakin sibuk dan seperti tidak punya banyak waktu. Sebagai manajer, banyak agenda yang disusun untuk mencapai target perusahaan. Bahkan, ia berangkat kerja lebih awal dan pulang larut malam. Ia juga sering lembur. Dan suaminya, tetap sama seperti sebelum-sebelumnya. Suaminya selalu ada untuknya, dan tak pernah mengeluh akan aktifitas istrinya yang semakin padat. Bahkan saat pagi, ketika perempuan itu bangun dan merasa kesiangan, suaminya sudah ada di dapur, menyiapkan sarapan pagi untuknya.

Suaminya juga tetap usil seperti biasa, mencuil pinggangnya ketika ia baru selesai mandi, atau mencubit hidungnya bila ia sedang marah. Ketika ia bercerita tentang pekerjaannya yang berat, dan juga banyak rekan kerjanya yang tidak sepemikiran, bahkan ada yang diam-diam ingin menjatuhkan posisinya di perusahaan, suaminya dengan sabar mendengarkan, lalu ia memberi masukan seraya memintanya untuk tetap tegar dan sabar. Dan perempuan itu merasa semakin beruntung telah memiliki suami seperti dirinya.

Sampai tiba suatu hari, suaminya mulai suka pulang malam, bahkan ketika ia sampai di rumah, suaminya kadang belum juga datang. Dan ia maklum. Sebagai seorang penulis lepas, suaminya mungkin butuh angin segar untuk mendapatkan inspirasi, pikirnya.

Segalanya tampak sedang baik-baik saja di matanya. Sampai tiba hari kematian suaminya. Ia merasa terpukul. Mungkin, ia akan lebih gampang merelakan, jika suaminya meninggal dalam keadaan yang wajar. Tidak dengan cara mengenaskan. Apalagi dengan dua bekas kecupan bibir di lehernya.

Dan dua hari setelah kematian suaminya. Ketika tanah yang menimbun jasadnya belum kering benar. Seorang perempuan mengunjungi kuburannya, lalu menaburi bunga-bunga, sambil bercerita kalau lelaki yang dikubur itu telah banyak membantunya selama ini. Begitu penjelasan penjaga makam saat ia mencari tahu siapa yang datang.

Di hari berikutnya ia baru mengerti, ketika seorang perempuan datang ke rumahnya. Kulitnya putih. Tubuhnya harum dan lebih tinggi dari dirinya. Matanya sembab. Tadi, saat ia membukakan pintu, perempuan itu langsung merangkulnya. Ia tak mengerti. Ketika ia mempersilahkan masuk, perempuan itu berkata kalau ia tidak akan lama.

“Saya hanya sebentar,” katanya.

“Kamu siapa?” tanyanya.

Perempuan itu malah menangis.

“Maafkan saya,” lirih suaranya hampir tidak terdengar.

“Aku tidak mengenalmu. Kamu siapa?” Ia semakin bingung dan mengulang pertanyaannya.

“Ini hadiah yang kamu berikan padanya,” katanya seraya menyodorkan sebuah arloji. Ia mematung. Dadanya sesak. Ia seperti mulai paham siapa perempuan itu. Air matanya deras mengucur. Kemudian perempuan itu mengucapkan kata maaf sekali lagi, sembari berlalu dari hadapannya.

Ia jatuh terduduk. Arloji itu ia pegang erat, seperti ia sedang memegang erat tangan almarhum suaminya. Ia ingat ketika pertama kali memasangkannya di pergelangan tangan suaminya. Mata suaminya berbinar. Senang. Arloji itu hadiah ulang tahun pernikahannya yang pertama.

“Kenapa arloji?” tanya suaminya, dulu.

“Karena kamu sering lupa waktu,” jawabnya ringan sambil tersenyum.

“Tapi, aku tak pernah melupakanmu,” lanjutnya sambil merangkul tubuhnya.

“Palsu,” balasnya.

“Buktinya?” Suaminya balik bertanya.

“Kamu sering telat menjemputku, juga sering telat makan, sering telat pulang ke rumah, dan kamu sering telat mengerti kenapa aku sering marah…”

Kemudian hening. Dan sebuah hari berlalu. Arloji coklat buatan Swiss itu selalu melekat di pergelangan tangan suaminya, kecuali saat suaminya ditemukan mati. Dan ia baru tahu beberapa hari kemudian, setelah seorang perempuan datang ke rumahnya, ditambah keterangan seorang polisi, kalau suaminya mati dibunuh setelah ketahuan tidur dengan perempuan bersuami.

Sidoarjo, 20 Mei 2022


Faruqi Umar, kelahiran 09 April 1993 di Sumenep, Madura. Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.