Konflik Kian Memuncak, Baik China Maupun As Menutup Konsulat Masing-masing

(Foto: Getty Images)

Berita Baru, Internasional – Pekan lalu, konflik dua negara adidaya dunia kian memuncak setelah masing-masing memerintahkan untuk menutup konsulat, Washington meminta China untuk menutup konsulatnya di Houston, dan Beijing membalas dengan menutup konsulat AS di kota Chengdu.

Menurut para analis saat konferensi virtual yang diselenggarakan oleh bank DBS di Singapura, China tidak lagi memiliki sekutu di Washington, bahkan di antara Demokrat.

Kesalahan terbesar Tiongkok adalah mengalienasikan konstituensi bersahabat nomor satu di Amerika Serikat, yang merupakan komunitas bisnis Amerika, dilansir dari CNBC, Senin (27/7).

Robert Kaplan, penasihat senior di Eurasia Group, mengatakan AS merasa nyaman dengan sistem China yang “tercerahkan, jinak, kolegial, otoriterisme teknokratis,” tetapi sekarang telah berubah menjadi “rezim yang represif.”

“Hasilnya adalah bahwa China tidak memiliki teman lagi di Washington tidak ada teman di Kongres, dan tidak banyak teman di kalangan Demokrat. Partai Demokrat yang condong ke kiri tidak menyukai Tiongkok karena alasan yang sama dengan Republik sayap kanan, karena perasaan itu berasal dari ekstrem AS bahwa rezim Tiongkok telah berlaku mencuri pekerjaan Amerika,” katanya.

Berita Terkait :  Tiga Vaksin Corona yang Sukses Bentuk Antibodi

Kishore Mahbubani, seorang rekan terhormat dari Institut Penelitian Asia di Universitas Nasional Singapura juga setuju dengan pernyataan tersebut, ia mengebut bahwa “Kesalahan strategis terbesar China adalah mengasingkan konstituensi persahabatan nomor satu di Amerika Serikat, yang merupakan komunitas bisnis Amerika,” katanya dalam konferensi itu.

“Karena terus terang, di masa lalu, seperti pada pertengahan 1990-an, ketika Presiden Bill Clinton ingin melakukan beberapa tindakan melawan China, komunitas bisnis Amerika segera berkata: ‘Stop, stop, tolong jangan pergi ke sana, China punya pasar besar. Mereka selalu menjadi satu-satunya kekuatan yang akan mencegah penurunan hubungan AS-China. Tetapi ketika Presiden Trump akhirnya melancarkan perang dagang melawan China tidak ada yang angkat bicara,” tambahnya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan