Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Kepingan Firdaus dari Tanah Rempah

Kepingan Firdaus dari Tanah Rempah

Fahrus Refendi


Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Saya mulai Premis ini  dari kutipan teks kitab suci. Lalu, apa korelasi antara kutipan teks kitab suci dengan pemahaman alam dan kekayaan rempah lokal ? Baiklah, kita tahu bahwa Indonesia mempunyai gugusan pulau yang beraneka ragam. Ribuan budaya, bahasa dan tradisi yang saling berkelindan satu sama lain. Ditambah lagi dengan sumber daya alam yang melimpah dan keanekaragaman flora dan fauna di dalamnya.  Siapa dia? Itulah Indonesia, negeri dengan sejuta kemakmuran. Tapi, benarkah Indonesia negeri yang makmur? 

Setidaknya ada dua slogan yang merujuk pada kekayaan alam Nusantara, yang pertama berbunyi ‘Indonesia adalah tanah surga’. Sedangkan slogan yang kedua berbunyi ‘Melempar tongkat bisa jadi makanan’. Bagi saya dua slogan itu tidak berlebihan pasalnya, tanah yang kita pijak benar-benar subur. Contoh konkretnya saja adalah ketika petani mau bercocok tanam singkong. Prosesnya tidak rumit, hanya menusukkan batang singkong yang telah dipotong ke dalam tanah, kemudian tunggu beberapa bulan sampai berbuah. Jadilah sesuatu yang bisa dikonsumsi.

Alam Indonesia memang telah menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia, baik kebutuhan sandang maupun pangan. Sebenarya jika melihat luas dan suburnya tanah Indonesia yang beraneka ragam, kebutuhan-kebutuhan pokok tidak usah lagi mengimpor dari luar negeri. Ironis sekali ketika meihat realita di lapangan. Seperti beras yang masih harus mengimpor dari luar negeri, padahal tanah di Indonesia sebenarnya mampu mengatasi dan mencukupi pangan nasional. Ada apa kira-kira?

Tidak berhenti di situ saja. Dahulu, pulau Madura yang notabene iklimnya panas menjadi pemasok tujuh puluh persen kebutuhan garam Nasional. Apa yang terjadi sekarang? Petani garam banyak mengeluh karena murahnya harga garam. Mereka menyayangkan garam asli Nusantara tergerus dengan garam impor. Apa kualitas garam kita jelek dibandingkan garam impor? Bagi saya tidak juga.

 Setidaknya, Indonesia mempunyai dua wilayah sentral jalur rempah pada zaman dahulu. Terbagi menjadi Indonesia timur dan Indonesia bagian barat. Sependek pengetahuan saya, Indonesia timur sangat melimpah sekali keanekaragaman hayatinya. Terutama daerah Maluku dan pulau Banda yang menjadi pemasok penting komoditas cengkeh dan pala bagi perdagangan dunia. Sedangkan poros sentral jalur rempah wilayah barat Indonesia terletak pada Sumatera, Jawa dan Kalimantan dengan komoditas utama berupa lada. 

Jika menelisik sejarah rempah di Indonesia, kita akan dibawa ke persoalan perihal paradoks penjajahan. Memang, niat awal para penjajah adalah untuk berniaga. Mereka mencari sumber rempah hingga rela berlayar mengarungi ganasnya lautan. Komoditas utama yang mereka cari adalah rempah-rempah. Tanpa dipungkiri, rempah-rempah memang sangat dibutuhkan waktu itu bagi bangsa asing. Selain sebagai penyedap masakan, rempah-rempah juga digunakan sebagai bahan pengobatan sehingga, rempah-rempah menjadi barang kelas wahid dan paling banyak diminati.

Perdagangan memang mendatangkan banya keuntungan, baik bagi produsen maupun bagi konsumen. Hal itu sejalan dengan prinsip dasar yang diusung oleh bangsa Barat yaitu: gold, glory dan gospel.  Gold secara harfiah berarti kekayaan. Berbicara kekayaan pasti tidak luput dengan yang namanya cuan. Dengan mengedepankan prinsip mencari kekayaan maka semua jalan dilakukan, mulai berdagang sampai kemudian melakukan penjajahan di tanah Nusantara.

Selanjutnya ada glory, yang berarti kejayaan. Berbicara kejayaan mesti ada korelasinya dengan  penguasaan. Jelas sekali, untuk bisa menguasai sumber daya alam suatu tempat, maka hal pertama yang harus ditaklukkan adalah bisa menguasai wilayahnya. Nah, hal itulah yang dilakukan penjajah sebagai bentuk ekspansi. Sedangkan yang terakhir misi bangsa Barat datang ke Timur adalah untuk menyebarkan misi keagamaan atau disebut dengan gospel.

Hal itulah yang melatarbelakangi bangsa Eropa begitu menggebu-gebu ingin menemukan sumber utama rempah-rempah. Bangsa Eropa pertama yang berhasil mencapai Nusantara adalah bangsa Potugis pada tahun 1510. Dilanjutkan oleh bangsa Spanyol dan Belanda yang awalnya datang sebagai pedagang. Bahkan dari saking lamanya Belanda berada di Indonesia sampai membentuk persekutuan dagang belanda atau mashur disebut dengan VOC (Vereenigde Oos Indische Compagnie). Lalu, rempah apa saja yang diminati bangsa Eropa?

Sekitar abad ke-17 Banjarmasin menjadi kota dagang yang ramai dikunjungi saudagar-saudagar lokal maupun asing karena komoditas ladanya yang bagus. Waktu itu, Banjarmasin menjadi pemasok utama lada bagi Asia Tenggara. Sebagai kota yang mandiri, kesultanan Banjar dan masyarakat sangat sejahtera. Keseimbangan ekonomi antar petani yang ada di pedalaman dan pengepul yang ada di di wilayah pesisir terjalin dengan baik. 

Selain lada, ada juga komoditas penting yang hanya ada di Indonesia. Tepatnya hanya ada di pulau Banda. Yaitu buah pala. Dahulu sekali, karena buah kecil inilah yang membuat bangsa Eropa berbondong-bondong datang ke pulau Banda. Pulau Banda didatangi karena merupakan satu-satunya penghasil buah pala yang kaya akan manfaat juga bernilai ekonomis tinggi.

Cengkeh juga mempunyai sejarah penting bagi Nusantara. Cengkeh yang bernama latin syzygium aromaticum sebenarnya merupakan rempah utama pembuatan rokok kretek. Selain bahan campuran rokok, sisi lain kretek juga berkhasiat dalam dunia kesehatan juga bernilai ekonomis tinggi.  Hal itulah yang membuat Vasco Da Gama yang merupakan penjelajah Portugis menggebu-gebu ingin menemukan sumber utama penghasil cengkeh. Berlarung puluhan tahun sebelum akhirnya bersandar di kepulauan Maluku.

Rempah lainnya yang mendunia adalah kemenyan. Aromanya yang khas menjadi magnet tersendiri bagi dunia dagang lokal maupun internasional. Kemenyan sudah dikenal diseluruh penjuru dunia sejak ribuan tahun lalu. Selain sebagai pengharum ruangan, kemenyan juga berfungsi sebagai bahan pengobatan dan ritual-ritual kebudayaan maupun keagamaan. 

Seperti di Mesir masa kuno contohnya, kemenyan digunakan untuk bahan campuran mengawetkan mumi supaya tidak busuk. Sedangkan di Indonesia tepatnya di desa Trunyan Bali, ada salah satu kebudayaan meletakkan mayat di samping pohon kemenyan dimana, mayat-mayat disemayamkan di sekitar pohon kemenyan dan tidak meninggalkan bau busuk sama sekali. Hal ini menandakan bahwasanya, selain aromanya yang khas kemenyan juga berfungsi sebagai anti bakteri pada mayat.

Pada akhirnya konstruksi kita terhadap kekayaan alam Indonesia bukan hanya menyoal tentang rempah-rempah meliputi lada, cengkeh, pala dan lain sebagainya. Tanaman-tanaman lain yang berfungsi sebagai obat perlu dinarasikan juga sebagai bagian dari kekayaan di negeri Indonesia ini.

Tanaman sebagai bagian dari kekayaan rempah lokal

Berbicara tentang tanaman obat, tentu sangat banyak ragam dan macamnya. Tanaman obat atau bisa disebut juga  dengan jamu sudah dikenal manjur sejak zaman nenek moyang terdahulu. Berangkat dari hal itu, bukan hanya terbentuknya suatu bangsa yang tercatat sebagai sejarah yang harus dituliskan. sejarah jamu Nusantara juga harus dinarasikan.

Tanaman obat atau akrab disebut dengan jamu berasal dari bahasa Jawa kuno jampi atau usodo. Artinya penyembuhan menggunakan ramuan, doa, dan ajian. Keberadaan tanaman sebagai obat sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Bukti-bukti sejarah itu terukir di helaian daun-daun lontar, dinding-dinding candi, dan kitab masa lalu. Resepnya diturunkan secara turun-temurun dengan menggunakan media lisan.

Masuknya Hindu-Budha ke Nusantara yang telah mengubah budaya jamu, dari yang awalnya secara lisan menjadi tertulis. Bukti-bukti sejarah itu bisa ditemukan pada prasasti-prasasti kuno, dan juga bisa ditemui pada relief-relief candi yang berdiri sejak abad ke-6, hal itulah yang merupakan bukti lain pemakaian tanaman obat yang dilakukan oleh nenek moyang dulu. Sebut saja candi Borobudur yang dibangun pada 772 M. pada salah satu pahatannya terdapat relief yang menggambarkan berbagai jenis obat yang digunakan pada masa itu. Pada relief lain juga terpahat bagaimana proses peracikan jamu berlangsung yang berhasil direkam oleh para nenek moyang terdahulu. Sampai sekarang hal tersebut masih bisa kita nikmati sebagai cagar warisan budaya yang harus dilestarikan.

Akan tetapi, belakangan ini eksistensi minum jamu mulai ditinggalkan. Beralihnya hal itu ditengarahi oleh gempuran modernisme yang menyerang dari berbagai sisi kehidupan. Manusia modern yang notabene dikenal sebagai kaum rebahan dan kaum nongkrong dibutakan oleh hal-hal yang serba instan. Hal itu berpengaruh pada pola tingkah laku bahwa yang instan itu menimbulkan efek candu. Budaya jamu herbal tergusur oleh jamu toko yang banyak efek sampingnya tersebut.

 Konsumsi berlebihan terhadap jamu non herbal semakin diperparah lagi dengan  pola konsumsi masyarakat yang over kapasitas menjadikan laju berbagai jenis penyakit meningkat setiap tahunnya. Penyakit-penyakit kronis seperti: stroke, diabetes, serta penyakit jantung dan sebagainya telah menyadarkan kembali masyarakat akan manfaat dari jamu dan rempah lokal yang berasal dari tanaman itu, sebut saja daun mimba dan belimbing wuluh yang berfungsi sebagai antioksidan.

Tentunya, tanaman obat bukan hanya itu saja, masih banyak tanaman-tanaman obat yang lain dengan sejuta manfaat lain diantaranya: temulawak, jahe, kencur, asam jawa, pala, kemiri, daun sirih, yang kesemuanya bisa berfungsi menjadi tanaman obat bagi keluarga. Cara menanamnya pun tidak sulit, bisa di tanam di belakang maupun pada pot bunga di pekarangan.

Dalam buku Sejarah Jamu di Indonesia disebutkan bahwasanya sekitar 80% herbal dunia tumbuh di bumi Pertiwi ini. Indonesia memiliki sekitar 35 ribu jenis tumbuhan tingkat tinggi, 3.500 di antaranya dilaporkan sebagai tumbuhan obat. Tak berlebihan jika dunia menyebut Indonesia sebagai gudang obat herbal. Hal itulah yang patut kita syukuri bersama. Akan tetapi, yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita selaku masyarakat Indonesia mampu merawat dan melestarikan budaya minum jamu yang sudah turun temurun dilakukan, agar keluarga sehat, Indonesia pun hebat. 


Penulis adalah guru di SDI Mabdaul Falah. Kini bergiat di Komunitas Sivitas Kotheka dan Lesbumi Pamekasan.