Paling tidak ada dua unsur jika membicarakan puasa di bulan Ramadan yakni kewajiban bagi tiap muslim yang baligh dan menahan lapar, selebihnya tidak ada anjuran yang lebih memahami apa arti puasa itu. Pernahkan kita bertanya sebagai kaum muslim yang taat beribadah mengapa umat islam dianjurkan puasa? Lalu melakukan zakat fitrah? Salat Idulfitri? Dan diharamkan untuk berpuasa saat Idulfitri, tiba?

Tentu barangkali pertanyaan itu akan bermuara pada satu jawaban yakni “Puasa adalah kewajiban kaum muslim yang tidak bisa terbantahkan”. Jika islam diposisikan sebagai agama universal saya kira tafsir tentang pemaknaan puasa, seharusnya selalu mengikuti konteks zaman saat ini. Singkatnya begini, bahwa pemaknaan puasa perlu dilebarkan kembali ke ranah sosial sebagai alat untuk agenda melawan kemungkaran. 

Agenda Melawan Kemungkaran adalah Puasa 

Mengawali kata “agenda” sebelum kalimat melawan kemungkaraan adalah salah satu awal untuk mengingatkan pembaca bahwa puasa memang bukan ide sosial untuk menyelesaikan dehumanisme yang terjadi di mana-mana. Namun, ibadah puasa awal dari menggungah kesadaran dan keimanan akan pentingnya penghayatan pada proses puasa. Hal tersebut pun diamiinkan oleh Abdurrahaman pada esainya yang berjudul “Puasa (Lapar) atau Tirakat Sosial”. 

Agenda ini menjadi awal untuk mengembalikan ritus agama sebagai jalan pembebasan dan kemanusian yang ada. Dengan demikian, kita sebagai umat islam tidak lagi terjebak pada agenda bahwa puasa hanyalah menahan makan-minum, menunggu jadwal (berbuka,imsak) di media sosial, mendata makanan yang hendak dimakan untuk hidangan berbuka, tapi kita absen dengan keadaan sosial yang semakin terpuruk. 

Lagi-lagi memang tidak salah dalam hal itu. Sebab, kapitalisme memang sedang menciptakan hal itu untuk melemahkan kesadaran umat islam yang terjebak pada sifat konsumtif saja. Saya sebenarnya khawatir apabila sifat konsumtif itu terus berkembang maka, sejatinya umat islam mendukung agenda pasar. Akhirnya, kita sebagai umat islam juga menyumbang jurang akan ketimpangan sosial yang ada. 

Kembali pada topik awal yakni puasa sebagai agenda melawan kemungkaran. Sejatinya, jika ingin menelisik lebih jauh datangnya islam tidak lain adalah membawa narasi pembebasan dan kemanusian dari penindasan kala itu. Itulah gambaran real bagaimana sejatinya islam mengajarkan umatnya untuk memihak kepada keadilan umat. Jika awal datangnya islam membawa pembebasan. Seharusnya, ibadah terutama puasa juga harus menerapkan nilai-nalai tersebut. 

Berita Terkait :  Sebuah Surat yang Dilipat menjadi Perahu Kertas

Ramadan kala ini kita ditontonkan pada peristiwa yang seharusnya tidak dipertontokan di bulan Ramadhan. Jika bulan puasa adalah suci. Mengapa banyak penindasan yang terjadi? Mengapa manusia yang memiliki kedudukan dan jabatan lebih cepat menindas? Mengapa masih ada kelaparan di mana-mana? Mengapa masih ada perampasan tanah dan yang terakhir mengapa masih ada pemerintah yang tega melakukan korupsi pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi? 

Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, sebagaimana global religious futurestahun 2019 umat muslim menduduki peringkat pertama dengan jumlah 256 juta jiwa. Sebanding dengan data tersebut, asumsi saya bahwa penduduk agama islam juga berpotensi besar masuk dalam golongan/kelompok yang ditindas. Inilah, yang saya kira penting menjadi renungan atas proses berpuasa. Jika, manusia adalah ciptaan yang sempurna karena diberikan akal untuk berfikir sebab-akibat. Pada posisi ini, kita sama-sama merenungkan apakah proses puasa kita benar-benar diterima sedangkan kelaparan, penindasan dan lain sebagainya dipertontonkan di dunia yang menawarkan kemegahan. 

Jika kalau mengambil firman Allah sebagai spirit untuk melawan suatu kemungkaran sosial maka, gaungan itu akan muncul dalam surat al-Ma’un, “Berdustalah orang yang salat tanpa mereka peduli terhadap nasib orang-orang rentan sosialnya”. Sebagaimana Abdurrahman (2005) maka, dalam konteks ibadah puasa pesan moral yang dapat disamakan yakni, berdustalah mereka yang berpuasa (berlapar-lapar) kalau setiap harinya sesuai menjalankan puasa itu ternyata moralitas agamanya tumpul dan tidak peduli terhadap cita-cita keadilan sebagai bentuk ketakwaan yang paling tinggi.

Di sisi lain ada pandangan imam yang mengajak umat islam untuk melakukan distribusi kekayaan sebagai agenda melawan kemungkaran sosial di bulan puasa yakni Imam Izzudiin al-Sulaiman. Dalam pandangan Imam Izzuddin al-Sulami, puasa dapat membuat manusia memperbanyak sedekah. Beliau mengatakan bahwa karena sesungguhnya orang berpuasa ketika dia merasakan lapar, dia mengingat rasa lapar itu. Hal itulah yang memberikan dorongan kepadanya untuk memberi makan pada orang yang lapar.Tentunya, dalam melakukan distribusi kekayaan lewat sedekah perlu mengamati akan kesadaran hal itu. Sebab, jika tidak diimbangi akan kesadaran hal yang lebih subtantif maka, pemaknaan itu akan menjadi simbolis saja yakni “Sedekah yang paling banyak adalah beriman”. 

Imam Izzuddin sebenarnya menekankan pada kalimat “merasakan lapar, mengingat rasa lapar, dan memberikan dorongan”.. Hal tersebut sebagai anjuran bahwa dalam proses beragama dalam menerapkan ritus keagamaan yakni puasa utamanya. Tidak dianjurkan untuk melakukan akumulasi kekayaan pada satu orang saja sedangkan yang lain merasakan penderitan yang amat sangat tidak manusiawi. 

Berita Terkait :  Benefit Sosial

Sikap keagaman seperti itulah yang harus dipupuk dalam proses kita melakukan ibadah apapun terutama puasa. Kalau mana menurut Roger Garaudy, “Agama bukanlah semata-mata pantulan dari kenyataan, tetapi protes dalam suatu kenyataan”. Artinya, penindasan, kemiskinan, dalam kelaparan, dan lain sebaginya  yang terjadi di bulan Ramadan ini merupakan salah satu agenda melawan kemungkaran sosial serta meletakkan umat yang tertindas sebagai pihak yang utama untuk dibela bahkan diperjuangkan. 

Pendidikan Alternatif dan Islam Memihak 

Tidak ada kesadaran yang timbul atas kesadaran itu sendiri. Perlu diingat bahwa kesadaran itu hanya bisa ditumbuhkan melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran itulah yang akan menentukan ke mana dan di mana yang memposisikan dirinya terutama pengetahuannya. 

Kenyataan di Indonesia, semua jenjang pendidikan yang terjadi tidak menawarkan atau menyadarkan akan realita sosial yang ada hanya menyodorkan teks-teks yang tidak mengasah nalar kritis peserta didik. Maksud saya, pembelajaran terutama materi puasa sekedar pengertian puasa, sunnah puasa, hal yang membatalkan puasa, hal- hal yang membolehkan berbuka/boleh tidak puasa. Padahal ada yang juga penting yakni kesadaran mengapa umat islam dianjurkan berpuasa dalam segi sosialnya itu seharusnya diperkenalkan sejak dini. 

Berita Terkait :  Puisi-Puisi Novan Leany: Pulang Kampung ke Kenohan

Artinya, rasa lapar yang mereka tahan bukan sekedar tanpa nilai. Ada nilai yang menjadi kekuatan ataupun spirit untuk melakukan agenda perubahan. Itulah yang absen dalam materi di Indonesia. Kalau boleh jujur jika hal tersebut diterapkan sejak dini terutama pada sekolah dasar maka, pemikiran kritisan akan terasah sebab perlu diketahui bahwa “Anak kecil itu adalah filosofnya filosof”. Bahwa terkadang pertanyaan yang mereka ajukan lebih kritis dibandingkan orang remaja atapun dewasa lainnya. Namun, karena materi yang terlalu membatasi mereka, membuat mereka tumpul untuk berpikir. Itulah yang terkadang membuat saya gelisah bisa jadi dari tahun ke tahun negeri ini akan kehilangan pemuda yang tajam dalam berpikir hingga bertindak. Sungguh ironis, jika itu terjadi. 

Jika sistem pendidikan hari ini mendukung adanya proses neolibaralisme maka, agenda perubahan tidak bisa diharapkan pada pendidikan formal. Maka, perlu adanya pendidikan yang alternatif untuk menjawab hal tersebut sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sekolah Rimba yang didirikan oleh Butet dan Pesantren Misykat Al-Anwar yang didirikan oleh Roy Murtadlo. Bebas berpikir dan melakukan metode pembelajaran langsung dari alam. 

Peroses tersebutlah yang penting untuk membangun perkembangan jiwa anak didik. Mereka  akan belajar dari pengalaman dan realita yang ada. Di samping itulah iya mencoba untuk melakukan proses berpikirnya hingga melahirkan sebuah pertanyaan tentang realita yang tidak ideal itu. Pertanyaaan mengapa dan mengapa akan selalu dilontarkan. 

Pendidikan alternatif yang akan menggugah semangat akan perubahan terutama dalam mentransformasi nilai-nilai agama ke sosial. Sebab, pada tempat itulah proses penanaman spiritual serta pengetahuan akan dikalaborasikan hingga mengaplikasikan dua nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Meminjam kembali kata Aburrahman yakni “Bagi anak didik praktik pedagogi merupakan kesempatan untuk mengerti bagaimana pengalaman-pengalaman budaya dan masyarakat dapat ditransformasi dalam kehidupan yang akan mereka alami”.

Penulis: Miri Pariyas Tutik Fitriya (Pegiat Literasi Kota Malang dan Mahasiswa Biologi UIN Malang)

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini