Kekayaan Hutan Melimpah, Mama Eca Patiran Tergugah: Kisah Gerakan Perempuan Menjaga Hutan di Kokas

Berita Baru, Tokoh – Kokas adalah salah satu distrik di Fakfak, Papua Barat, yang terdiri dari empat belas (14) kampung dengan luas sekitar 78.800 hektare.

Kokas kaya akan potensi alam. Beraneka ragam hayati ada di hutannya. Sumber daya hutan kokas pun mampu menjadi penunjang hidup masyarakatnya.

Besarnya potensi ini menggugah para mama (perempuan) di Kokas untuk melakukan pengelolaan secara terstruktur.

Mereka mencoba untuk koordinasi dengan beberapa pihak dan para bapak, namun berbuah nihil. Para bapak menilai, ide tersebut kurang bermanfaat.

Meski demikian, ada satu mama, Eca Patiran namanya, yang tetap percaya diri dan gigih melanjutkan untuk mengelola alam.

Hari berganti, Mama Eca pun masih semangat dengan apa yang menjadi harapannya, hingga akhirnya ada seorang Bapak, Ahmad Siwasiwan, yang tersadarkan oleh kegigihan Mama Eca dan kemudian memutuskan untuk turut mendukung dan membantu rencana Mama Eca.

Kehadiran Bapak Siwasiwan ibarat titik pantik bagi para bapak lainnya. Sejak Bapak Siwasiwan berada di pihak Mama Eca, kelompok laki-laki akhirnya mengikuti jalan Mama Eca.

Tidak hanya itu, gerakan yang diinisiasi oleh Mama Eca dari Kampung Baru tersebut memicu munculnya gerakan senada dari perempuan kampung lain, yaitu Mama Amina Ahek (Kampung Pangwadar) dan Mama Rahma (Kampung Masina).

Akibatnya, pada 2017 pemerintah di lima (5) kampung di Kokas membentuk Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang keanggotaannya didominasi oleh perempuan. Ini terjadi sebab basis gerakan menjaga hutan di Kokas adalah para mama.

Satu tahun kemudian, LPHD di atas mengantongi izin skema hutan desa dengan luas 3998 hektare. Mereka memberi nama hutan tersebut “Hutan Desa Wertuar” dengan pengelolaan sirup dan manisan dari buah pala sekaligus penanaman 1000 tanaman keras seperti Durian, Rambutan, Damar, Matoa, dan sebagainya.

Tanaman keras penting untuk dua hal: menjaga tutupan hutan dan bisa diambil buah dan semacamnya untuk manfaat ekonomi. Pengelolaan tanaman keras ini pun mendapat dukungan langsung dari Dinas Perkebunan Fakfak.

Karena kontribusinya sedemikian rupa, gerakan perempuan di Kokas mengalami perkembangan cukup signifikan hingga saat ini. Pada awal 2018, itu beranggotakan 29 orang dan sekarang mencapai 90 orang.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini