Harga CPO Merosot, Jokowi Turun Tangan

-

Beritabaru.co, Internasional – Presiden  Indonesia Joko Widodo dikabarkan telah mengirimkan surat terkait rencana kebijakan Uni Eropa membatasi konsumsi  minyak sawit. Akibatnya, harga CPO (Crude Palm Oil), menurun.

Menurut pihak istana, rencana kebijakan itu merupakan bagian dari persaingan usaha untuk melemahkan kelapa sawit, ketika berhadapan dengan komoditas lainnya.

Dilansir dari CNBC, Sabtu (13/07/2019). Pemerintah sudah melakukan berbagai langkah untuk mendongkrak harga sawit yang dalam beberapa tahun ini mengalami kemerosotan. Indonesia sudah 4 (empat) tahun mengirimkan tim ke Uni Eropa dan berbagai negara.

Sebelumnya Sekretaris kabinet Pramono Anung, pada 17 Juni 2018 lalu, di Istana Negara mengungkapkan pemerintah akan segera melakukan kampanye mengenai kelapa sawit sebagai bagian dari langkah diplomasi Indonesia.

Berita Terkait :  Serukan Pemboikotan Produk Prancis, Istri Erdogan Ditantang Membakar Tas Hermes Miliknya

“Perubahan rencana kebijakan dari 2021 sampai 2030 adalah hasil lobi surat Presiden ke Uni Eropa,” kata Pramono, waktu itu.

Berita Terkait :  Partai Demokrat AS Berusaha Mencari Miliaran Dolar untuk Membantu Mengurangi Dampak COVID-19

“Setelah kita gali, persoalan sebenarnya adalah persaingan usaha yang mengancam bagi produk mereka, seperti minyak biji bunga matahari dan lain-lain. Sehingga masuk kesana sekarang mulai dihambat-hambat.” Kata presiden Joko Widodo pada evaluasi kebijakan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dan sosialisasi prioritas pengguna dana desa tahun 2019, di Palembang.

Dikutip dari postingan humas Sekretaris  Kabinet Republik Indonesia, Presiden  awal tahun yang lalu juga bertemu dengan Perdana Menteri Tiongkok untuk meminta agar negara itu membeli lebih banyak dari sekarang.

“Saya minta tambahan, saya to the point aja saya ngomong ya minta agar produksi di sini bisa diserap sehingga harganya bisa naik. Ada tambahan 500.000 ton, banyak sekali,” ujarnya.

Berita Terkait :  Mengejar Pajak Digital, Jokowi Buka Konferensi Hukum Tata Negara ke-6

Tapi, lanjut Presiden, penambahan itu ternyata juga belum mempengaruhi harga pasar secara baik. Presiden mengingatkan, kebun kelapa sawit di seluruh Indonesia, sekarang sudah berada pada posisi yang sangat besar sekali, nomor satu di dunia.

Berita Terkait :  Lewat DK PBB, Iran Desak AS Akhiri Tindakan Destabilisasi di Teluk Persia

Kebun kelapa sawit di Indonesia, menurut Presiden, luasnya 13 juta hektare, baik yang ada di Sumatra, Kalimantan, Papua, juga ada di Jawa. Produksinya setiap tahun 42 juta ton.

“Bayangkan 42 juta ton. itu kalau dinaikkan truk berarti kurang lebih 10 juta truk angkut itu. Ya untuk bayangan betapa gede sekali jumlah ini. Kita sekarang ini bersaing dengan Malaysia bersaing dengan Thailand, tapi kita tetap yang terbesar,” ungkap Presiden Jokowi.

Berita Terkait :  Alun-alun Kota Venesia Ditutup Akibat Banjir

Ia menambahkan, mengendalikan situasi tersebut tidak mudah. Sebab dalam perdagangan internasional atau perdagangan global, banyak faktor yang mempengaruhi.

Presiden juga menyampaikan jika pemerintah juga tengah menyusun Intruksi Presiden (Inpres) terkait pengelolaan kelapa sawit ramah lingkungan untuk menangkal tersebarnya kampanye negatif terhadap komoditas ekspor utama Indonesia itu.

Katanya akan ada Inpres untuk verifikasi, memberikan keyakinan bahwa sawit itu tidak seperti yang mereka (pihak luar) pikirkan.

Berita Terkait :  Jalin Kerjasama Indo-Pacific, Presiden Korsel Apresiasi Indonesia

“Kami yakin dengan kesungguhan kita akan kampanyekan sawit itu dan dipastikan  baik bagi lingkungan dan industri,” tutup Jokowi.

Penulis : Nafisa Fiana
Sumber : cnbc
Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments