Gong Li, Kehidupan Pertama dan Kedua | Cerpen: Eko Triono

Photo by Steve Johnson, via Upslash

Perempuan itu bernama Gong Li dan dia berharap pada kehidupan kedua nanti anaknya menjadi seekor burung, biar tidak takut ketinggian, tidak merepotkan orang lain, sampai-sampai harus menempel-nempel gambar rumput dan sebidang tanah tiap kali pergi naik pesawat.

Malam harinya Gong Li bermimpi anaknya benar-benar menjadi seekor burung gagah dan langka, yang sedang melayang indah di atas hutan Pulau Jawa pada abad pertengahan. Ketika hinggap, kaki burung terjebak pulut di ranting pohon, hingga pemburu pengintai yang bertelanjang dada mampu menangkap, membawanya ke hadapan raja untuk ditukar dengan emas.

Sang raja memberi sepuluh keping emas, namun tiap kali melintas pintu saat keluar istana, setiap itu pula para penjaga bergiliran meminta jatah sekeping dengan ancaman pedang dan kematian, hingga pemburu pulang dengan tangan hampa. Sang raja membuatkan sangkar kayu cendana pada burung itu, dan sebulan kemudian menghadiahkan pada Cheng Ho, ketika laksamana itu berkunjung dari China membawa persahabatan, sutra, dan piring keramik berhias kaligrafi Arab. Burung itu ikut berlayar ke China.

Sampai di sana, Cheng Ho memberikannya pada kaisar. Kaisar senang dan menghadiahi Cheng Ho sepuluh keping emas, namun tiap melintas pintu saat keluar istana, setiap itu pula para penjaga bergiliran meminta jatah sekeping dengan ancaman pedang dan kematian, hingga Cheng Ho merasa kasihan dan memberikannya begitu saja.

“Unsur air dan tanah dalam tubuh mereka masih diperbudak oleh logam,” pikir Cheng Ho.

Kaisar menempatkan sangkar burung itu dekat kediaman salah satu selirnya, yang tidak lain adalah Gong Li sendiri, yang di dalam mimpinya itu lebih muda sepuluh tahun, cantik, penuh pesona, membuat selir lain iri, bahkan lebih banyak penjaga yang menunggu saat kaisar sedang bercinta dengannya, takut-takut dia membuat kaisar terbuai dan menumpahkan sperma di dalam, bukannya di luar, dan itu terlarang. Ketika hujan turun, Gong Li minum seduhan goji sambil memperhatikan burung itu, yang melompat-lompat di dalam sangkar seperti hendak minta tolong.

“Kasihan sekali,” gumam Gong Li, “dia tidak takut ketinggian, bahkan bisa terbang, tapi hidupnya hanya melompat-lompat dalam sangkar yang sama.” Gong Li terbangun dan merasa beruntung melihat anaknya masih tidur dalam bentuk bocah berselimut, bukan seekor burung dalam sangkar.

Perempuan itu bernama Gong Li dan dia berharap pada kehidupan kedua nanti anaknya bukan menjadi seekor burung, tetapi kaisar. Seorang kaisar tidak boleh takut ketinggian, karena dia berasal dari kekuasaan langit. Tapi sebentar, bukannya sekarang dan masa depan sudah tidak ada lagi kaisar, lagi pula pada masa kaisar belum ada pesawat, pikirnya, apa gunanya jadi kaisar tidak takut ketinggian, tapi tidak naik pesawat.

Perempuan itu bernama Gong Li dan dia berharap pada kehidupan kedua nanti anaknya bukan menjadi seekor burung, bukan pula seorang kaisar, tetapi pilot pesawat terbang. Gong Li merasa senang. Sebagai pilot anaknya tidak akan takut ketinggian, tidak merepotkan orang lain, tidak menempel-nempel gambar rumput dan sebidang tanah di dalam pesawat.

Malam harinya Gong Li bermimpi bahwa anaknya benar-benar menjadi soerang pilot. Setelah lulus sekolah penerbang di Beijing, anaknya bekerja di maskapai lokal dan melakukan penerbangan pertamanya ke Xi’an, sekaligus mengunjungi orang tuanya, yang tidak lain adalah Gong Li sendiri, yang pada waktu itu lebih sudah lebih tua dua puluh tahun usianya. Tiga tahun kemudian, Gong Li sedang Tai Chi di taman depan Apartemen Chang’an bersama manula lain, saat anaknya memberanikan diri datang bawa calon menantu bermata indah, karena merasa sudah punya pekerjaan mapan. Pertunangan disetujui dan kabar gembira lain anaknya akan melakukan penerbangan internasional pertama ke Sydney membawa pesawat yang lebih besar. Gong Li sangat bangga, dari anak yang di kehidupan pertama takut ketinggian dan membawa-bawa gambar rumput dan tanah saat naik pesawat, kini berubah menjadi anak yang bisa disebut hidup di ketinggian, melayang-layang di angkasa dari satu negara ke negara lain, tanpa perlu menghindari pemburu.

Sampai dua hari menunggu, di dalam mimpi indah itu, tidak ada kabar dari anaknya apakah sudah sampai Sydeny atau belum.

Telepon masuk dari maskapai mengabarkan pesawat telah hilang kontak. Berita televisi menampilkan keluarga penumpang yang berkumpul dan menangis. Para analis muncul dari berbagai negara dan menduga beberapa hal. Pesawat jatuh terhisap tenaga gaib di area segitiga bermuda karenanya hilang dari radar, atau tertembak rudal pemburu dari kelompok separatis dan meledak di atas laut sengketa, atau dibajak dan dialihkan ke suatu pulau terpencil tak berpenghuni di suatu titik di Samudera Hindia. Untuk memastikan teori mana yang paling tepat, sedang dilakukan penyelikan yang memerlukan banyak waktu sebelum menemukan kotak hitam. Di dalam banyak waktu yang diperlukan itu, hari-hari berganti, suaminya meninggal karena lelah menunggu kabar, calon menantunya memilih menikah dengan orang lain, bahkan sudah punya anak yang mengingatkan Gong Li pada anaknya sendiri, saat si kecil masih takut ketinggian dan menempel-nempel gambar rumput dan tanah, sementara Gong Li sendiri sehat dan berumur panjang karena rajin Tai Chi.

Dalam penantian tanpa kejelasan di mana keluarga korban lain telah putus atas dan menganggap teori rudal pemburu paling tepat setelah ditemukannya serpihan oleh nelayan, Gong Li tetap berharap teori pulau terpencilah yang benar. Dia mencoba yakin suatu hari anaknya muncul dengan rambut gondrong, bercambang, bau pantai dan matahari, setelah sekian lama terapung dengan dengan rakit buah kelapa menempuhi lautan untuk sampai ke China, sebagaimana Sun Go Kong di atas rakit buah kelapa.

Kalau pun kenyataanya tidak begitu, dia tetap tidak ingin hidup, yang tak lama lagi ini, berada dalam kenyataan pahit. Dia tetap ingin tinggal di dalam kenyataan palsu, di dalam pikirannya sendiri. Sudah tidak mungkin baginya punya anak lagi.

Dulu dia dan suaminya ingin punya anak dua, tapi tak sanggup bayar kompensasi, jadi hanya satu. Dia hanya bekerja di restoran ayam goreng bagian dapur dan belanja, sementara suaminya teknisi listrik biasa, dan hanya dua tahun sekali, pada acara musim gugur, mereka mampu terbang ke Beijing menemui keluarga dari pihak suaminya. Seandainya suaminya belum meninggal, dia mungkin masih bisa ke sana lagi dan mengobati diri dengan berjalan dari ujung tembok besar ke ujung yang lainnya.

Dia sekarang, di dalam mimpinya, berada dalam apartemen memandangi lapangan tempat satu persatu teman senam Tai Chinya tidak datang lagi membawa kipas, melainkan sebagai kabar telah menempuh perjalanan menuju kehidupan kedua, dan itu membuatnya merasa semakin nelangsa dan kesepian saja. Dia menangis, ya, dia menangis semakin keras di dalam mimpi dan merembet ke kenyataan hingga membuat suaminya terbangun. “Ada apa, hei, ada apa?” suaminya membangunkan Gong Li.

Gong Li membuka mata, samar, lalu nampak jelas suaminya masih hidup dan masih muda di hadapannya, Gong Li segera memeluk, “Tidak ada apa-apa, tidak ada. Aku mencintaimu. Di mana anak kita?”

Suaminya berkata anaknya ada di kamarnya dan Gong Li segera menuju ke sana, mendapati anaknya tidur merentangan tangan seperti pesawat, namun di atas kasur, bukan di pulau kecil Samudera Hindia, atau di kedalaman laut bersama serpihan pesawat. Dia merasa lega. Dia pikir sudahlah, di kehidupan kedua anaknya jadi orang biasa saja. Orang biasa yang tidak takut ketinggian sebagaimana kebanyakan orang biasa lainnya. Memikirkan begitu membuat kepala Gong Li terasa lebih ringan.

Perempuan itu bernama Gong Li dan dia berharap pada kehidupan kedua nanti anaknya bukan menjadi seekor burung, bukan kaisar, buka pula pilot, namun orang biasa, orang biasa yang menjalani hidup dengan biasa serta tidak takut ketinggian, sehingga tidak perlu menempel-nempel gambar rumput dan sebidang tanah ketika naik pesawat.

Malam harinya dia bermimpi di kehidupan kedua, anaknya benar-benar menjadi orang biasa yang tampil sebagaimana kebanyakan orang biasa lainnya di muka bumi ini, berjalan dengan biasa saja, makan dengan biasa saja, berpakaian dengan biasa saja, dan tinggal dengan biasa saja. Tidak ada yang luar biasa, selain dia tidak takut ketinggian di bandingkan kehidupannya yang pertama.

Orang Biasa muncul pada suatu sore yang biasa, turun dari taksi bandara, kemudian berjalan di jalan yang biasa dia lalui sepulang kerja, dan tanganya membawa bingkisan pangsit yang biasanya orang-orang biasa makan ketika festival soltice di musim dingin, bersama keluarga atau orang terkasih. Orang Biasa menuju apartemen yang tidak dikenal Gong Li, mungkin tempat istrinya di kehidupan keduanya, pikir Gong Li. Juga menemui perempuan yang sebelumnya tidak dikenal Gong Li, o, itu dia istrinya, batin Gong Li di dalam mimpi, sudah tua rupanya, sepertinya anaknya sudah punya anak dan artinya dia punya cucu, Gong Li tersenyum merasa sebagai nenek yang biasa saja, tapi bahagia.

Orang Biasa menyiapkan meja dan makanan, kemudian mendekati perempuan itu dengan kasih sayang terpancar yang membahagiakan, tiba-tiba, “Ibu, mari kita makan dulu, hentikan sebentar menghitung ayamnya,” kata Orang Biasa kemudian. Jantung Gong Li mau copot. Dia hampir pingsan di dalam mimpinya. Apa-apaan ini?! Teriaknya. Di kehidupan kedua anaknya memang tidak takut ketinggian, tapi mengapa malah bukan lagi sebagai anaknya. Tangan dan tubuhnya gelisah ke sana dan kemari, sementara matanya masih terpejam, hingga membuat suaminya terbangun dan menenangkan.

Ketika sarapan, Gong Li memandang anaknya dengan wajah yang berbeda, tidak sepenuh kasih hari sebelumnya, tentu saja akibat mimpi semalam. Terdengar seseorang mengetuk pintu. Gong Li meminta anaknya membuka.

Sesaat kemudian, anaknya muncul bersama tukang ayam langgan restoran Gong Li, yang membawa kiriman hari ini langsung ke rumah sekalian mengabarkan besok libur, anaknya akan datang naik pesawat dan mengunjunginya dengan bawa pangsit spesial musim dingin, tukang ayam menjelaskan dengan gembira.

Gong Li tersedak, sebelum berkata spontan, “Siapa anakmu?”

“Hanya orang biasa,” jawab tukang ayam merendah, “dia kerja di pesawat, di Beijing sana.” Sesaat dunia berhenti bagi Gong Li, terlebih ketika dia memperhatikan wajah tukang ayam, yang begitu mirip dengan perempuan yang dikunjungi anaknya dalam mimpi ke hidupan kedua.

(Xi’an, 2019)


Eko Triono, lahir di Cilacap 1989. Dia menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (2016). Saat ini bermukim di Kota Xi’an, Tiongkok.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini