Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pemandangan umum cakrawala Addis Ababa, Ethiopia 3 November 2021. Foto: Reuters.
Pemandangan umum cakrawala Addis Ababa, Ethiopia 3 November 2021. Foto: Reuters.

Ethiopia Memanas, AS Kirimkan Utusan Khusus untuk Cegah Serangan di Addis Ababa

Berita Baru, Addis Ababa – Utusan khusus AS untuk Afrika, Jeffrey Feltman lakukan upaya diplomatik untuk mencegah serangan di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia, pada Kamis (4/11) setelah pasukan Tigrayan dari utara bergerak maju menuju ibu kota pada minggu ini.

Jeffrey Feltman diperkirakan akan tiba di Addis Ababa dalam waktu dekat untuk mendesak penghentian operasi militer dan dimulainya pembicaraan gencatan senjata di tengah konflik yang memanas di Ethiopia.

Presiden Uganda, Yoweri Museveni mengadakan pertemuan para pemimpin blok Afrika Timur pada 16 November untuk membahas konflik antara pemerintah pusat dengan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) dan sekutunya.

Selain itu, Intergovernmental Authority on Development juga menyerukan gencatan senjata segera. Pihaknya mendesak para pihak untuk menahan diri, mengurangi ketegangan dan menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog.

Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta mengeluarkan pernyataan pada hari Rabu (3/11) yang mengatakan “Pertempuran harus dihentikan!”

Presiden Uhuru meminta pihak-pihak yang bersaing “untuk meletakkan senjata mereka dan menghentikan pertempuran, untuk berbicara, dan untuk menemukan jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan”, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan dia telah berbicara dengan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed pada hari Rabu (3/110) untuk “menawarkan jasa baik saya untuk menciptakan kondisi untuk dialog sehingga pertempuran berhenti”.

Sebagai tanda peringatan lainnya, Kedutaan Besar AS di Addis Ababa mengizinkan kepergian sukarela beberapa staf dan anggota keluarga karena permusuhan yang semakin intensif.

Sebelumnya, Washington mengatakan pada hari Rabu bahwa pihaknya sangat prihatin tentang situasi tersebut dan menyerukan penghentian operasi militer demi pembicaraan gencatan senjata.

“Departemen (Negara) mengizinkan keberangkatan sukarela pegawai pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga pegawai darurat dan non-darurat dari Ethiopia karena konflik bersenjata, kerusuhan sipil, dan kemungkinan kekurangan pasokan,” kata kedutaan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari Reuters.

Polisi telah menangkap “banyak orang” di Addis Ababa sejak pemerintah mengumumkan keadaan darurat pada Selasa (2/11), kata juru bicara kepolisian Fasika Fanta, Kamis (4/11).

Warga mengatakan kepada Reuters pada hari Rabu (3/11) bahwa banyak orang Tigrayan telah ditangkap, tetapi Fasika mengatakan penangkapan itu tidak didasarkan pada etnis.

“Kami hanya menangkap mereka yang secara langsung atau tidak langsung mendukung kelompok teroris ilegal,” kata Fasika.

“Ini termasuk dukungan moral, finansial dan propaganda,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan banyak orang mendaftarkan senjata di kantor polisi di sekitar kota sejalan dengan arahan pemerintah yang dikeluarkan pada hari Selasa agar orang-orang bersiap untuk mempertahankan lingkungan mereka.

“Bahkan ada yang datang dengan membawa bom dan senjata berat. Kami juga mendaftarkannya,” katanya.

Jalan-jalan dan pertokoan di Addis Ababa, sebuah kota berpenduduk sekitar lima juta orang, sibuk seperti biasa pada Kamis pagi, meskipun beberapa warga mengatakan ada perasaan tenang yang tidak nyaman. “Ada desas-desus tentang pendekatan pemberontak. Orang-orang berdebat tentang konflik, kebanyakan orang menuduh pemerintah atas apa yang terjadi,” kata seorang pria, yang berbicara tanpa menyebut nama.