Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Dibalik Bayangan Inflasi Global
(Foto: Unsplash)

Dibalik Bayangan Inflasi Global

Dita Nurul Aini Mustika Dewi

Dosen FEB UNAS Jakarta,
Executive Secretary The Reform Initiatives
(TRI)


Dunia sedang bergejolak karena konflik Rusia-Ukraina yang semakin memanas. Banyak negara-negara yang mengecam hingga memberikan sanksi-sanki ekonomi ke Rusia. Harga minya brent melambung tinggi, sempat menembus angka USD104,6 diiringi oleh gas yang mencapai USD4,7 MMBtu, pada hari pertama serangan militer Rusia ke Ukraina. Di waktu yang sama, bursa saham global melorot tajam akibat sentimen negatif masyarakat pada dunia. Harga komoditas-komoditas global turut serta melambung tinggi, seperti CPO, kedelai, gandum, hingga emas.

Mengutip dari data IMF pada periode 2021, PDB Rusia menempati peringkat ke 11 dengan kontribusi sebear 1,7% pada PDB dunia. Sedangkan Ukraina berada diperingkat ke 40 dengan kontribusi tidak lebih dari 0,4% terhadap PDB dunia. Jika dibandingkan Indonesia, PDB Rusia berada di atas Indonesia, sedangkan Ukraina jauh dibawah Indonesia. Indonesia menempati peringkat ke-15 dengan kontribusi sebesar 1,2% pada PDB Dunia. Rusia dan Indonesia berada pada kelompok negara G-20 yang merupakan TOP 20 PDB di dunia.

Rusia merupakan salah satu negara yang memproduksi dan eksportir minyak terbesar di dunia. Pada TW III 2021, ekspor minyak Rusia mencapai USD32,3 miliar. Sepuluh (10) komoditas ekspor terbesar Rusia periode 2021 meliputi: minyak mentah, minyak bumi, gas alam, mesin dan peralatan, logam besi, bahan bakar diesel (solar), bahan bakar cair, batu bara, gandum dan alumunium. Sedangkan Ukraina selama ini ekspor produk-produk antara lain: sereal, besi dan baja, lemak dan minyak hewani, nabati, produk pembelahan lainnya, bijih arang besi dan abu, elektronik dan peralatan elektronik, mesin, reaktor nuklir dan boilers, minyak biji-bijian, buah-buahan oleagic, biji-bijian dan buah-buhaan; residu, limbah industri makanan, pakan ternak; kayu dan barang dari kayu, arang kayu; barang dari besi atau baja.

Dibalik Bayangan Inflasi Global
Tabel.1 – Komoditas Ekspor Utama Rusia dan Ukraina (Top 10)

Pasar ekspor utama energi baik berupa minyak, gas alam maupun bahan bakar Rusia adalah negara-negara Eropa, China, Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Sedangkan pasar ekspor bahan makanan dari Ukraina adalah negara-negara Eropa, China, Turki, India, Amerika, termasuk Indonesia. Mengacu pada data tersebut, sumber energi dan pangan dunia bergantung pada kedua negara tersebut, terutama Rusia. Oleh karena itu, harga minyak dan komoditas-komoditas global mengalami kenaikan tajam ketika kedua negara tersebut mengalami konflik. Jika konflik ini berkepanjangan, maka harga-harga energi dan bahan makan global akan terus mengalami peningkatan yang menyebabkan inflasi.

IMF memproyeksikan inflasi global akan mengalami penurunan seiring dengan pemulihan ekonomi pasca krisis pandemi COVID-19. Target inflasi global pada 2022 sebesar 3,8% terus menurun hingga mencapai 3,2% pada 2025. Akan tetapi, terjadinya konflik Rusia-Ukraina, inflasi global akan meningkat lebih dari 4,3% (inflasi 2021) dengan asumsi harga minyak dunia akan terus mengalami kenaikan, komoditas pangan dunia seperti gandum, kedelai dan sereal lainnya mengalami peningkatan, serta peningkatan harga pada bahan baku industri lainnya.

Gambar 1. Proyeksi Inflasi Global

Dibalik Bayangan Inflasi Global
Sumber: IMF, 2022, diolah

Ketergantungan Indonesia pada bahan baku makanan impor juga kan berpengaruh pada inflasi domestik. Harga kedelai dan gandum global yang terus meningkat akan berdampak pada harga bahan baku makanan dalam negeri. Indonesia mengimpor kedelai sebagai bahan baku tahu tempe dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata mencapai 2,2 juta ton per tahun. Sedangkan impor gandum sebagai bahan baku roti, tepung terigu, mie dan lain-lain, dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata mencapai 8,3 juta ton per tahun. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia pasti akan mengalami kenaikan harga dan inlfasi bahan pangan dalam waktu dekat.

Permasalahan kenaikan harga minyak goreng yang disebabkan oleh supply shock yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini akan disusul dengan kenaikan harga bahan pangan lainnya. Pemerintah harus waspada menyikapi fenomena kenaikan harga komoditas dan inflasi global yang membayangi aktivitas perekonomian nasional. Proses pemulihan ekonomi pasca pandemi masih menjadi tantangan bagi Indonesia, ditambah dengan inflasi global yang semakin mendekat membutuhkan kebijakan yang dapat menjaga stabilisasi harga. Operasi pasar untuk menjaga stok yang dibutuhkan masyarakat dan harga yang ada di pasar masih tetap dibutuhkan. Selain itu, pengaturan distribusi bahan-bahan pokok penting seperti beras, minyak goreng, gula, telur, daging perlu diperhatikan agar tidak terjadi penimbunan oleh oknum-oknum tertentu yang menyebabkan kelangkaan di lapangan. Pemerintah juga bisa memberikan insentif bagi importir-importir bahan baku pangan yang terkena imbas kenaikan harga beras atau menurunkan biaya impor agar dapat menekan biaya produksi. Langkah-langkah kongkrit tersebut tidak akan menghindarkan Indonesia dari inflasi global, namun akan membantu menjaga stabilitas harga pangan domestik, sehingga daya beli masyarakat akan terjaga, terutama masyarakat yang berpendapatan menengah ke bawah.