Umroh Mahfudhoh
(Penulis dan Peneliti di Islamis Studies)


Berderet peminta-minta dan tukang becak berjubun di bawah temaram lampu kota. Anak kecil sebatang kara pun beraksi di jalanan demi mengais rejeki, demi membeli sebungkus nasi. Tak luput, orang pinggir danau meratapi kenyataan pahit yang hidup dilanda kelaparan, sebab air danau telah tercemar dan tiada ikan hidup di dalamnya.

Berbagai fenomena kemiskinan itu dekat dengan kita. Ada kemiskinan yang kita pikirkan dan kemiskinana yang kita gerakkan. Kemiskinan sudah menjadi perbincangan manusia sedari dulu hingga sekarang. Sedangkan aksi kepedulian terhadap kemiskinan juga banyak berkelindan.

Mitos-mitos kemiskinan yang ada di sekitar kita memberikan argumentasi yang beragam. Ada orang yang menilai kemiskinan bagaikan roda yang berputar, miskin itu giliran, nanti yang miskin juga akan kaya, yang kaya juga akan miskin. Di sisi lain, ada yang menilai kemiskinan itu akibat dari kemalasan, sehingga tidak heran kita dengan omongan orang, “salah sendiri malas, miskin kan jadinya.”

Ada lagi penganut mitos kemiskinan yang lebih militan. Ia menilai kemiskinan sebagai sebuah takdir. Jika tidak ada orang miskin, ke mana orang kaya akan menyalurkan bantuannya. Jika tidak ada orang miskin, ke mana orang akan menyalurkan zakatnya.

Ada pula yang beranggapan miskin itu warisan sejarah. Sejarah orang miskin sudah ada sejak dulu kala. Sebagaimana sejarah bagi kaum pemenang atau kaum kaya.

Argumentasi atas kemiskinana ini jika tidak kembali dikonstruksi akan membahayakan akal sehat. Bagaimana bisa kita menyudutkan dan menyalahkan sepihak keberadaan orang miskin dan kemiskinan itu terjadi. Memang, kita tidak hendak menyalahkan takdir, tapi di dalam kehendak Tuhan juga terdapat kehendak manusia- kehendak akan sebuah sistem yang lebih baik- kehendak akan keadilan.

Apakah kita pernah memikirkan kenapa orang itu bekerja keras, berangkat pagi pulang sore tak kunjung menjadi kaya. Mengapa tukang bangunan itu sudah bekerja keras dan melembur, juga tidak lantas menjadi kaya. Mengapa juga petani itu hidupnya masih terjerat kemiskinan, punya tanah sendiri, kerja tak kenal pagi atau malam, masih saja terjerat hutang.

Jika ditelisik kembali apa sebab-musabab kemiskinan itu kira-kira apa jawaban Anda? Tentu banyak yang beranggapan sebagaimana argumentasi di atas. Bahwa kemiskinan itu karena orangnya yang malas, nasib, dan sebagainya.

Kemiskinan sebagai masalah sosial ini perlu dilacak sebab-sebabnya secara komprehensif. Benarkah kemiskinan ini datang dari satu sisi. Datang dari sisi korban dari sistem sosial ini. Adakah sebab lain yang lebih menguatkan dan melegakan.

Tahukah kita, di negeri ini orang miskin memiliki tantangan ganda. Lingkaran setan siap menyantap orang miskin hingga pada denyut nadi terdalamnya. Di negeri ini orang miskin akan sulit mendapatkan pendidikan. Mana ada sekolah yang mau menerima anak orang miskin sekolah. Adanya malah membuat onar dan tidak membayar tunjangan. Begitu salah satu diskriminasi orang miskin pada lingkaran pendidikan.

Selain itu, di negeri ini orang miskin juga tidak berhak menerima makanan yang baik dan bergizi. Bagaimana bisa mendapatkan makanan yang bergizi tanpa uang, mau mencuri memang? Makanan baik dan bergizi itu butuh ongkos, ongkosnya tidak murah. Maka, di negeri ini jangan heran banyak penyakit yang dilabelkan kepada penyakit orang miskin, seperti busung lapar, cacingan, tipes, dan lainnya.

Jika kita semua diminta memilih terlahir sebagai orang kaya atau orang miskin, mana yang kita pilih? Kalau kita hidup di negeri ini pasti kita pilih terlahir kaya. Kenapa? Karena negeri ini belum menerapkan keadilan sosial bagi warga negaranya.

Orang kaya akan enak berbuat semaunya. Bos akan enak saja membuat regulasi perusahaannya yang menghardik pekerjanya. Jam kerja tinggi gaji tetap saja segitu. Jika perusahan merugi, pekerja yang menanggung. Begitu pula dengan pemimpin di negeri ini, diamanahi menjadi wakil rakyat malah korupsi. Mau dipenjarakan masih saja ketawa-ketiwi.

Dari fenomena di atas masih kan kita menganggap kemiskinan itu takdir, nasib, dan bagian dari sejarah. Sebab kemiskinan itu dari pikiran kita sendiri, dari apa yang dipikirkan oleh akal kita. Dari perasaan yang tulus mempedulikan kemiskinan.

Menurut Jalaluddin Rahmat dalam Islam Aktual, sering kali kita tidak membicarakan sebab musabab itu, tapi kita cenderung percaya pada mitos-mitos kemiskinan itu. Kang Jalal juga menegaskan kepercayaan mitos itu pada bagaimana tatanan niat mengeluarkan zakat fitrah. Bagaimanakah bangunan niat kita saat mengeluarkan zakat fitrah.

“Pernahkah terbesit dalam benak Anda dalam meniatkan diri mengeluarkan zakat fitrah dengan, ‘Saya keluarkan zakat fitrah ini karena anjuran agama saja. Saya tahu orang miskin itu tidak akan berubah nasibnya. Ia sudah ditakdirkan jadi orang misikin. Kalau semua kaya, siapa yang berhak menerima zakat.’Jika Anda berkata demikian maka Anda telah terjebak pada mitos kemiskinan. Anda akan terlepas dari mitos itu jika Anda berkata, ‘Saya keluarkan zakat fitrah ini walau belum cukup memenuhi kewajiban saya kepada mereka. Saya tahu, mereka miskin karena hak-haknya saya sia-siakan. Mereka miskin karena sebagian saudara-saudara saya memanfaatkan kemiskinan untuk memperkaya diri mereka. Mereka miskin karena kita sudah sama-sama mengeksploitasi mereka. Ya Allah terimalah sebagian kewajiban saya ini dan bantulah saya untuk membantu saudara-saudara saya melepaskan diri dari belenggu kemiskinan.’.” Terang Kang Jalal.

Dari paparan Kang Jalal, sangat jelas bahwa sebab kemiskinan adalah orang-orang serakah di sekitarnya. Pemimpin yang dzalim, pengusaha yang menghardik, hingga tetangga atau saudara lainnya yang tidak memberikan pertolongan. Karena, dalam islam sangat jelas perintah untuk saling tolong-menolong.

Dari sanalah, kemiskinan itu akan bisa teratasi jika kita semua menyadari diri atas keserakahan, menyadari bahwa dari apa yang kita lakukan ada yang belum menerima hak secara layak. Tolong menolong sebagai bangsa juga penting. Tolong menolong dalam membangun pendidikan, tolong menolong dalam pemenuhan gizi yang layak, tolong menolong dalam pekerjaan. Tolong menolong bukan sekedar pada arti memberikan yang instan saja, misalnya sembako, obat, atau makanan. Tapi, tolong menolong pada hal yang prduktif yang memiliki jangka panjang pada kesuksesan pertolongan yang kita berikan.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini