Berita

 Network

 Partner

Bismillahi Majreha wa Mursaha dari Corona!
(Ilustrasi gambar: Hamdani)

Bismillahi Majreha wa Mursaha dari Corona!

Bismillahi Majreha wa Mursaha dari Corona!

Hamdani

Penggerak forum “Gandrung Syafaat” (Paddhang Bulan Tacempah).
Kini tinggal di Pamekasan, Madura.


Nuh bukanlah siapa-siapa. Dia bahkan tak memiliki pengikut kecuali segelintir orang hina dan miskin. Nasihat-nasihatnya hanyalah karangan dan rekaan. Ia gila, menyibukkan dirinya membangun bahtera tak berguna. Di zaman kita, ia bisa jadi orang yang tak didengar kata-katanya.

Ia tak memiliki apa-apa; gelar pendidikan dan prestasi, jabatan, kedudukan sosial, kekayaan, lebih-lebih kekuasaan! Ia fakir sefakir-fakirnya, ia dianggap bodoh-sebodohnya. Ia tak (merasa) memiliki apapun. Visinya dianggap tak masuk akal, bahkan bagi Kan’an, anaknya sendiri. Ia hanyalah seseorang yang dianggap tak penting namun memikul beban kesedihan bagi keselamatan banyak orang. Bagi kaumnya, Nuh hanyalah “common man,” bahkan dari kumpulan orang yang terbuang—meminjam istilah Chairil Anwar.

Jika ia berupaya menjelaskan sesuatu, orang akan berkata, “landasan ilmiah dan teoritisnya apa? Bukti saintifiknya mana?” Sebagian lagi bisa jadi berkata; “kata-katamu tak menghasilkan (keuntungan)”, atau yang lebih beken “dalilnya mana?”

Persis ketika bagaimana Nuh meyakinkan bahwa akan ada banjir besar yang dapat menelan bumi. Orang-orang menganggapnya bodoh! Lebih-lebih saat Nuh mengatakan apa yang akan terjadi adalah ketentuan Tuhan untuk menguji keimanan, ia dianggap kurang akademis! Tak berlandaskan teori dan belum ada bukti saintifik yang teruji.

Berita Terkait :  Banyak Guru dan Murid Dinyatakan Positif COVID-19 di Kalbar

Kita adalah anak cucu Nuh. Kita bisa jadi adalah Kan’an yang melarikan diri ke puncak bukit berpikir itulah yang paling masuk akal dilakukan. Kita menolak percaya bahwa apa yang disedihkan Nuh bersangkut paut dengan urusan berketuhanan sebab tak rasional. Kita tak percaya jika hanya air, hanya air, kalaupun ia semelimpah lautan, mana mungkin menjadi bah yang mampu menelan dunia? Aih!

Kalaupun Nuh berkata: “Aku bukanlah seseorang yang mengharapkan upah dari perkataanku. Sungguh balasanku hanyalah dari Allah. Aku juga bukan orang yang mengerti perkara gaib dan aku bukanlah seorang malaikat.” Ya, Nuh adalah si fakir. Tiada khazanah yang ia akui berasal dari dirinya. Ia menginsyafi bahwa ia juga bukanlah seorang suci. Ia hanya berkata; “Azab seperti apakah yang akan melandaku bila kutinggalkan mereka (orang-orang yang beriman) yang hina dalam pandanganmu?

Eksodus Nuh dan segelintir kaumnya menuju bahtera adalah sebuah eksodus menuju cakrawala “kewarasan” menuju pengetahuan yang lebih tinggi. Membuka kotak pandora yang sebelumnya tak diketahui. Di sinilah, arti upaya ini sebagai suatu bentuk pemenuhan panggilan akan ketuhanan menjadi berarti. Berlayar menuju gelombang besar ilmu pengetahuan adalah keberanian merangkul apa yang masih “diragukan”.

Berita Terkait :  Integritas

Memasuki bahtera kita telah merelakan diri meruntuhkan sementara pemahaman menuju apa yang belum diketahui atau yang dalam bahasa Nuh, sesuatu yang “disamarkan bagimu.” Maka jika pengetahuan kita belumlah cukup mengenal banjir bah Pandemi Covid-19, ada baiknya kita mawas dan senantiasa berjaga-jaga demi kewarasan. Sembari mengambil pula pelajaran-pelajaran penghambaan dari siapapun untuk lebih memfakirkan diri kepadaNya, terlebih jika ajakan itu muncul dari orang tak penting.

Di masa karantina saat ini, mungkin kita sama-sama bertanya, di manakah gerangan bahtera Nuh? Setidaknya kita masih memiliki sekoci-sekoci kecil tempat segala sesuatu mestinya mulai dilarungkan apapun orientasi kehidupan yang kita miliki; yakni rumah!