Berita

 Network

 Partner

Berbagi | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

Berbagi | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

Ini peristiwa setahun lalu di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. Di pinggir jalan yang berdebu, warga sibuk memasang bambu yang telah dipotong untuk membentuk kolom dan baris ke atas. Pada kolom-kolom bambu itu penduduk desa (dengan sandang yang bersahaja) menggantungkan aneka sembako, buah, dan sayur (di dalam kantong plastik). Warga desa yang membutuhkan bebas mengambil. Inisiasi perilaku mulia ini dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Saya melihat ini dari video singkat (yang kelihatannya dicuplik dari siaran sebuah televisi), yang dengan terang menunjukkan bahwa berbagi tak harus menunggu berkelimpahan.

Beberapa desa di Ponorogo melakukan hal yang sama (juga di daerah lain dengan cara berbeda). Pada saat terjadi bencana yang selama ini kerap mampir, seperti banjir, kebakaran, gempa, tsunami, kekeringan, dan yang lain; warga saling bergandengan tangan meringankan beban masyarakat yang menjadi korban. Sebelum pemerintah menyalurkan bantuan, para tetangga dan kelompok masyarakat yang tidak saling kenal telah mengulurkan tangan terlebih dulu untuk meniupkan kehidupan. Pada fora internasional, Indonesia juga selalu menempati ranking pertama yang warganya dianggap doyan berbagi, saling sangga, dan dermawan (Charities Aid Foundation, 2019). Ketulusan untuk saling meringankan beban.

Pada alam ekonomi, individu yang memperoleh barang yang sangat diinginkan pasti bahagia akibat tingkat kepuasan yang maksimal. Misalnya, seseorang yang membayangkan bakal makan soto kegemaran dan tetiba bisa melahapnya, maka kepuasannya akan sampai titik tertinggi. Demikian pula saat dia ingin memiliki komoditas lain lagi, seperti sepatu, komputer, mobil, rumah, dan seterusnya. Begitu terpenuhi ia akan sangat gembira. Namun, begitu yang bersangkutan menambah mangkok soto, sepatu, komputer, mobil, dan rumah berikutnya; maka tingkat kepuasaan akan makin berkurang. Itulah yang disebut: “The law of diminishing marginal utility.”

Kehidupan modern lewat berbagai aktivitas produksi dan transaksi memacu orang untuk terus mengakumulasi kekayaan atau barang/jasa. Pertumbuhan ekonomi atau kenaikan pendapatan per kapita merupakan indikator paling sahih untuk menampakkan keberhasilan pembangunan. Seluruhnya berlomba mencapai yang paling tinggi agar puncak bukit bisa dijejak. Ikhtiar itu tidak mesti salah, namun mengidap dua soal. Pertama, manusia disulut menjadi mesin ekonomi sehingga lenyap kemanusiaannya. Kedua, pertumbuhan kerap memproduksi ketimpangan sebab yang dituju ialah akumulasi, bukan distribusi. Inilah yang membuat kehidupan kehilangan elan kepekaan.

Berita Terkait :  GP Ansor Ranting Kertosari Gelar Kampung Ramadan

Kembali kepada soal kepuasaan, di titik tertentu tambahan marjinal kepuasaan akan berada di titik nol. Apa solusinya? Berbagi. Sensasi kebahagiaan hakiki tak diperoleh dari mengimbuh (barang/jasa), tetapi dengan cara memberi. Ketika orang lain juga menikmati soto yang kita bagikan, maka kegembiraan ruhani akan melimpah. Kisah dari Abdullah bin Amru ini penting. Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW: “Islam apakah yang paling baik?” Beliau bersabda: “Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal.” Itulah yang diamalkan oleh penduduk Setono dan juga sebagian besar warga negara: berbagi kepada sesama.