Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Arab Saudi Eksekusi Pemberontak Syiah Mustafa bin Isa al-Darwish
(Foto: The Guardian)

Arab Saudi Eksekusi Pemberontak Syiah Mustafa bin Isa al-Darwish

Berita Baru, Internasional – Arab Saudi telah mengeksekusi Mustafa bin Isa al-Darwish, seorang pemuda yang diduga menjadi partisan pemberontak anti-pemerintah oleh minoritas Muslim Syiah.

Seperti dilansir dari The Guardian, salah satu kelompok hak asasi terkemuka mengatakan persidangannya “sangat cacat”.

Menurut Amnesty Internasional, belum jelas apakah al-Darwish (26), dieksekusi karena kejahatan yang dilakukan sebagai anak di bawah umur. Kelompok hak asasi mengatakan dia ditahan pada 2015 karena diduga terlibat dalam kerusuhan antara 2011 dan 2012.

Lembar dakwaan resmi tidak merinci tanggal dugaan kejahatannya terjadi, yang berarti dia bisa saja berusia 17 tahun pada saat itu, atau baru saja berusia 18 tahun.

Pemerintah menyatakan dia dihukum dan dieksekusi karena kejahatan yang dilakukan di atas usia 19 tahun, meskipun tidak ada tanggal spesifik atas dugaan kejahatannya.

Tahun lalu, kerajaan menghentikan praktik mengeksekusi orang atas kejahatan yang dilakukan di bawah umur.

Kementerian dalam negeri Saudii mengatakan, al-Darwish dieksekusi pada hari Selasa setelah dinyatakan bersalah krena berpartisipasi dalam pembentukan sel teroris bersenjata untuk memantau dan menargetkan pembunuhan petugas polisi, menembaki patroli polisi dan membuat bom molotov untuk menargetkan polisi.

Tuduhan lain termasuk berpartisipasi dalam pemberontakan bersenjata melawan penguasa dan memprovokasi kekacauan dan perselisihan sektarian. Kejahatan tersebut diduga terjadi di provinsi timur, di mana sebagian besar minyak Saudi terkonsentrasi dan merupakan rumah bagi penduduk asli Syiah yang signifikan. Eksekusi dilakukan di Dammam, ibu kota administratif provinsi tersebut.

Pada puncak pemberontakan musim semi arab di seluruh wilayah, kerajaan dihadapkan oleh sejumlah kerusuhan di kalangan pemuda Syiah Saudi yang turun ke jalan-jalan di provinsi timur Qatif. Mereka menuntut pekerjaan, peluang yang lebih baik, dan diakhirinya diskriminasi oleh lembaga dan ulama Sunni ultrakonservatif yang didukung negara.

Pasukan keamanan Saudi yang didukung oleh kendaraan lapis baja mendirikan pos pemeriksaan dan menekan protes, mengumpulkan sejumlah pengunjuk rasa yang tidak diketahui. Pemerintah kemudian meratakan rumah-rumah milik warga Syiah di kota al-Awamiyah yang bergolak pada tahun 2017 di sebuah kawasan yang berusia beberapa ratus tahun. Para pejabat mengatakan distrik al-Musawara telah menjadi tempat persembunyian bagi gerilyawan lokal, dan berjanji untuk mengembangkan daerah itu.

Selama bertahun-tahun, banyak eksekusi yang dilakukan terhadap Muslim Syiah yang terlibat dalam protes.

Pada 2019, Arab Saudi mengeksekusi 37 warga, 34 di antaranya diidentifikasi sebagai Syiah, dalam eksekusi massal atas dugaan kejahatan terkait terorisme. Pada 2016, kerajaan mengeksekusi 47 orang dalam satu hari juga karena kejahatan terkait terorisme. Di antara mereka yang dieksekusi adalah ulama Syiah terkemuka Nimr al-Nimr, yang kematiannya memicu protes dari Pakistan ke Iran dan penggeledahan kedutaan Saudi di Teheran. Hubungan Saudi-Iran belum pulih dan kedutaan tetap ditutup.

Di masa silam, kerajaan secara implisit menuduh Iran berada di belakang kelompok-kelompok Syiah bersenjata di Arab Saudi, dengan mengatakan mereka bertindak “di bawah instruksi dari luar negeri”.

Amnesty International mengatakan al-Darwish, yang ditangkap ketika dia berusia 20 tahun, ditempatkan di sel isolasi, ditahan tanpa komunikasi selama enam bulan dan ditolak akses ke pengacara sampai awal persidangannya dua tahun kemudian oleh pengadilan pidana khusus di Riyadh, didirikan untuk mengadili kasus terorisme.

Mahkamah Agung menguatkan hukuman mati al-Darwish. Amnesty International mengatakan kasusnya kemudian dirujuk ke kepresidenan keamanan negara, yang diawasi langsung oleh pengadilan kerajaan, di mana Putra Mahkota Mohammed bin Salman memegang kekuasaan besar. Raja Saudi, Raja Salman, meratifikasi eksekusi, yang sebagian besar dilakukan dengan pemenggalan kepala.

Dalam sethun ini, kerajaan telah melakukan 26 eksekusi, menurut laporan Organisasi Hak Asasi Manusia Saudi Eropa. Angka itu dibandingkan dengan 27 sepanjang tahun 2020. Penurunan tajam dalam eksekusi tahun lalu sebagian besar disebabkan oleh perubahan yang mengakhiri eksekusi untuk kejahatan narkoba tanpa kekerasan.