10 Orang Tewas dalam Serangan Bersenjata di Supermarket Colorado AS

(Foto: BBC)

Berita Baru, Internasional – Seorang pria bersenjata telah menewaskan 10 orang, termasuk seorang petugas polisi, di toko bahan makanan di negara bagian Colorado, AS.

Serangan di Boulder berakhir dengan polisi menahan seorang tersangka yang terluka di pasar King Soopers. Penembakan itu disiarkan langsung oleh para saksi dan disiarkan di YouTube.

Seperti dilansir dari BBC, selasa (23/3), di antara yang tewas adalah Eric Talley yang berusia 51 tahun, merupakan petugas polisi pertama yang menanggapi penembakan itu.

“Ini adalah tragedi dan mimpi buruk bagi Boulder County,” kata jaksa wilayah, Michael Dougherty.

“Ini adalah orang-orang yang menjalani hari mereka, berbelanja. Saya berjanji kepada para korban dan orang-orang di negara bagian Colorado bahwa kami akan menjamin keadilan,” tambahnya.

Belum ada rincian spesifik mengenai motif serangan dan identitas sembilan korban lainnya.

Toko bahan makanan tersebut terletak di alun-alun perbelanjaan yang sibuk di Boulder, sebuah kota di utara-tengah Colorado sekitar 30 mil (50 km) dari ibu kota negara bagian Denver.

Serangan supermarket terjadi kurang dari seminggu setelah penembakan massal yang menewaskan delapan orang, termasuk enam wanita Asia, di tiga spa di Atlanta.

Insiden itu dimulai sekitar pukul 14:30 waktu setempat (20:30 GMT) pada hari Senin ketika tersangka memasuki supermarket dan mulai menembak.

Pembeli dan karyawan toko mengatakan mereka harus bersembunyi atau berlari ke tempat aman untuk mencari perlindungan saat penembakan terjadi.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi … Saya mendengar suara tembakan, seseorang jatuh,” teriak juru kamera. “Ada penembak aktif, pergi”.

Departemen kepolisian Boulder kemudian memperingatkan orang-orang untuk menghindari daerah tersebut dan mengatakan kepada mereka untuk tidak menyiarkan di media sosial terkait informasi taktis yang terjadi.

“Kami sedang di kasir, dan tembakan baru saja mulai terdengar,” kata Sarah Moonshadow, seorang pelanggan yang terjebak dalam penembakan dengan putranya, Nicholas.

Dia mengatakan kepada Reuters bahwa dia telah mencoba membantu salah satu korban yang tergeletak di trotoar di luar toko, tetapi putranya menariknya pergi dengan mengatakan “kita harus pergi”.

“Saya tidak bisa membantu siapa pun,” katanya.

Ryan Borowski, yang juga berada di dalam toko, mengatakan kepada CNN bahwa dia tidak percaya apa yang terjadi di kotanya: “Ini terasa seperti tempat teraman di Amerika, dan saya hampir terbunuh karena membeli soda dan sekantong keripik.”

Saksi mata mengatakan tersangka bersenjata senapan. Seorang sumber polisi mengatakan kepada CNN bahwa itu adalah senapan gaya AR-15, senjata semi-otomatis yang telah digunakan dalam beberapa penembakan massal di seluruh AS.

Rekaman udara kemudian menunjukkan seorang pria yang diborgol dan bertelanjang dada dengan cedera yang jelas di kakinya dimasukkan ke tandu untuk mendapatkan perawatan. Pihak berwenang tidak mengatakan apakah dia tersangka atau tidak.

Saat berbicara pada konferensi pers, kepala polisi Boulder, Maris Herold, membenarkan bahwa seorang tersangka ditahan dan menerima perawatan di rumah sakit. “Saya ingin meyakinkan masyarakat bahwa mereka aman,” katanya.

Ms Herold menyebut petugas yang terbunuh sebagai Eric Talley, ayah dari tujuh anak yang telah bekerja di Departemen Kepolisian Boulder sejak 2010.

Namun demikian, Ms Herold tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang penembakan itu, tetapi mengatakan bahwa penyelidikan itu “sangat kompleks” dan akan memakan waktu “tidak kurang dari lima hari untuk menyelesaikannya”.

“Hari ini kami melihat wajah kejahatan. Saya berduka dengan komunitas saya dan semua warga Colorad,” cuit Gubernur Colorado Jared Polis.

Insiden ini merupakan pembunuhan massal ketujuh tahun ini, setelah jeda akibat pandemi tahun lalu, menurut database yang dikumpulkan oleh Associated Press (AP), USA Today dan Northeastern University.

Mantan anggota Kongres Arizona Gabrielle Giffords, seorang advokat pengendalian senjata yang terluka parah dalam penembakan massal pada tahun 2011, mengatakan: “Sudah 10 tahun dan banyak komunitas telah menghadapi hal serupa … ini tidak normal.”

Menanggapi berita tersebut, pemimpin Demokrat Senat AS, Chuck Schumer mengatakan di Twitter: “Senat ini harus dan akan bergerak maju pada undang-undang untuk membantu menghentikan epidemi kekerasan senjata.”

Bulan lalu, Presiden Joe Biden mengatakan akan merekomendasikan undang-undang yang lebih ketat untuk memastikan pemeriksaan latar belakang pada siapa pun yang ingin membeli senjata api.

Anggota Kongres dari Partai Republik, Lauren Boebert, seorang pembela hak senjata yang setia, men-tweet bahwa dia “berdoa untuk polisi, penanggap pertama, dan mereka yang terkena dampak tragedi ini”.

Hak untuk memiliki senjata dilindungi oleh Amandemen Kedua konstitusi AS dan dipertahankan dengan kuat oleh banyak kaum konservatif, termasuk mantan presiden Donald Trump.

Negara bagian Colorado telah menyaksikan sejumlah penembakan massal selama beberapa dekade terakhir, termasuk serangan Sekolah Menengah Columbine 1999 yang menewaskan 12 siswa dan seorang guru serta serangan tahun 2012 di sebuah bioskop di Aurora yang menewaskan 12 orang.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini