Berita

 Network

 Partner

Waspada La Nina, BMKG Ingatkan Forkopimda Gresik Lakukan Antisipasi

Waspada La Nina, BMKG Ingatkan Forkopimda Gresik Lakukan Antisipasi

Berita Baru, Gresik – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan ancaman La Nina bisa berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, dan sebagainya. Sebab itu, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik diminta waspada dan mengantisipasi serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak La Nina dan potensi bencana hidrometeorologi di Kabupaten Gresik.

Koordinator BMKG Jawa Timur Taufiq Hermawan, menegaskan perlunya kesepahaman mengenai apa itu La Nina, hal ini karena masih banyak anggapan yang beredar bahwa La Nina diartikan sebagai badai. Dirinya juga meluruskan bahwa La Nina merupakan fenomena cuaca global yang menyebabkan curah hujan menjadi lebih tinggi termasuk di wilayah Kabupaten Gresik. 

“Karena La Nina ini, curah hujan meningkat 2-70%, ini yang perlu diwaspadai. Karena banjir ini utamanya terjadi karena tingginya curah hujan,” kata Taufiq saat rapat koordinasi penanggulangan banjir Kali Lamong di Ruang Mandala Bhakti Praya Kantor Bupati Gresik, Senin (15/11).

Berita Terkait :  FBN : Jangan Buru-buru Phobia Reuni 212

Sementara, Kepala Stasiun Klimatologi Malang Anung Suprayitno yang turut hadir dalam kegiatan ini menambahkan, La Nina berefek paling tinggi di periode September-November, tetapi ini tidak lantas membuat bulan Desember-Februari curah hujan menjadi rendah. Hal ini lantaran pada bulan Desember-Februari merupakan periode yang menjadi puncak musim hujan. 

Sebelumnya, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dalam sambutannya menggarisbawahi mengenai bencana banjir Kali Lamong yang terjadi terutama di wilayah Gresik Selatan. 

“Kita ketahui curah hujan hari-hari ini luar biasa, tetapi upaya kita sebagai Pemerintah Daerah yang mana terus berikhtiar untuk terus melakukan mitigasi bencana,” ujar Bupati Yani saat membuka acara 

Bupati Yani menambahkan jika tidak hanya pencegahan banjir yang harus diperhatikan, tetapi juga mengenai penanganan banjir, meliputi berapa lama durasi banjir yang terjadi, dan ketersediaan sarana penampungan sementara yang layak bagi korban terdampak banjir. 

Berita Terkait :  Aktivis Gresik Lintas Generasi Akan Menggelar Pertemuan Akbar

Seperti diketahui, Kali Lamong menjadi salah satu prioritas pengendalian banjir oleh Presiden yang tertuang dalam Perpres 80 tahun 2019. Disisi lain, Pemkab Gresik di bawah kepemimpinan Bupati Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Aminatun Habibah terus melakukan upaya percepatan penanggulangan banjir Kali Lamong. Diantaranya dengan melakukan komunikasi intens dengan BBWS untuk bisa mendapatkan izin kewenangan terkait normalisasi. 

“Alhamdulillah ini sudah berjalan, di Cerme sudah berjalan. Di Balongpanggang dan Benjeng ini jangan sampai berminggu-minggu tapi tidak surut. Kalau memang bisa dalam 1×24 jam bisa surut, itu yang akan kita lakukan,” ungkap Bupati Gus Yani 

Hingga saat ini, total 19 alat berat dari berbagai pihak dikerahkan untuk normalisasi Kali Lamong. Bupati Gus Yani juga menginstruksikan kepada Dinas PUPR agar segera menginformasikan apabila jumlah tersebut masih dirasa kurang. 

Berita Terkait :  Dua Petani Sumsel Tewas Akibat Konflik Agraria

Selain Kali Lamong, Pemkab Gresik juga sudah melakukan ikhtiar di wilayah Sumput Kecamatan Driyorejo lewat normalisasi Kali Avoor. Dimana sebelumnya ketika hujan turun, seketika itu juga wilayah tersebut akan terjadi banjir. Tetapi setelah dilakukan normalisasi Kali Avoor, dalam waktu 1×24 jam air yang menggenang tersebut sudah habis. 

Selain dihadiri Forkopimda, Rakor juga dihadiri oleh pejabat dari OPD dan jajaran camat di lingkungan Kabupaten Gresik. Dalam kesempatan ini, diberikan juga dokumen peta rawan bencana dari BMKG Jatim kepada Pemerintah Kabupaten Gresik.