Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

gempa BMKG
Gelombang gempa bumi. (Foto: Istimewa)

BMKG Ungkap 10 Fakta Gempa di Pulau Bawean



Berita Baru, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyajikan 12 fakta penting terkait gempa yang melanda Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada Jumat (22/3/2024). Gempa tersebut memiliki dampak merusak yang signifikan dan guncangan yang dirasakan hingga ke daerah-daerah terjauh.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di Pulau Bawean adalah jenis gempa kerak dangkal atau shallow crustal earthquake, yang menyebabkan kerusakan pada banyak bangunan di berbagai wilayah, termasuk Gresik, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, dan lainnya.

“Gempa ini menimbulkan dampak kerusakan bangunan tidak hanya di Pulau Bawean, tetapi kerusakan akibat gempa juga terjadi di Gresik, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Pamekasan Madura, dan Banjarbaru,” ujar Daryono kepada Kompas.com.

Gempa tersebut juga menyebabkan sebanyak 9.648 warga Pulau Bawean terpaksa mengungsi, sementara ribuan bangunan, termasuk rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur lainnya, mengalami kerusakan yang cukup parah.

Berikut adalah beberapa fakta terkait gempa Pulau Bawean:

  1. Gempa kerak dangkal

Daryono mengatakan, Gempa Bawean merupakan jenis gempa kerak dangkal atau shallow crustal earthquake.

Gempa ini terjadi dipicu karena adanya aktivitas sesar aktif dengan mekanisme geser atau mendatar (strike-slip) di Laut Jawa.

  1. Gempa bersifat merusak

Gempa Bawean termasuk gempa yang bersifat merusak atau destruktif.

Gempa ini menimbulkan dampak kerusakan bangunan tidak hanya di Pulau Bawean. Kerusakan juga terjadi di Gresik, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Pamekasan Madura, dan Banjarbaru.

Gempa Bawean merusak 4.300 bangunan di Pulau Bawean. Kerusakan paling banyak terjadi di Kecamatan Tambak, yakni 2.200 bangunan. Di Kecamatan Sangkapura, gempa merusak 2.100 bangunan.

Di Tambak, 1.051 rumah rusak ringan, 736 rumah rusak sedang, dan 269 rusak berat atau total 2.056 rumah yang rusak akibat gempa.

Di Sangkapura, tercatat 1.378 rumah rusak ringan, 272 rumah rusak sedang, dan 377 rumah rusak berat atau total 2.027 rumah.

  1. Gempa dengan guncangan spektrum luas

Dampak guncangan Gempa Bawean dirasakan hingga jauh, yaitu meliputi daerah Banjarmasin, Banjarbaru, Sampit, Balikpapan, Madiun, Demak, Semarang, Temanggung, Solo, Yogyakarta, Kulon Progo, dan Kebumen,

  1. Gempa tidak berpotensi tsunami

Hasil pemodelan tsunami BMKG menunjukkan, Gempa Bawean tidak berpotensi tsunami.

Data lapangan hasil monitoring muka laut dengan menggunakan Tide Gauge milik Badan Informasi Geospasial (BIG) di Karimunjawa, Lamongan, dan Tuban menunjukkan muka laut yang normal tanpa ada anomali catatan tsunami.

“Tampaknya gempa magnitudo M6,5 belum dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang dapat mengganggu kolom air laut, di samping mekanisme sumber gempanya yang berupa sesar geser/mendatar tidak produktif dalam membangkitkan tsunami,” terang Daryono.

  1. Gempa berpusat di zona aktivitas kegempaan rendah

Gempa Bawean berpusat di zona aktivitas kegempaan rendah (low seismicity) sehingga masyarakat awam menilai gempa tersebut sebagai “gempa tidak lazim”.

Hal ini karena gempa terjadi di wilayah yang jarang terjadi gempa dangkal.

Selama ini wilayah Laut Jawa lazimnya menjadi episenter gempa-gempa hiposenter dalam (deep focus) akibat deformasi slab Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah Lempeng Eurasia tepatnya di bawah Laut Jawa dengan kedalaman sekitar 500-600 km.

  1. Gempa berpusat di zona Sesar Tua Pola Meratus

Wilayah Laut Jawa utara Jawa Timur secara geologi dan tektonik berada pada zona Sesar Tua Pola Meratus yang mengindikasikan keberadaan jejak sesar-sesar atau patahan berusia tua.

Gempa Bawean membuktikan bahwa jalur sesar di Laut Jawa masih aktif.

“(Ini) sekaligus menjadi pengingat kita untuk selalu waspada terhadap keberadaan sesar aktif dasar laut yang jalurnya dekat Pulau Bawean yang berpenduduk,” kata Daryono.

Ia menyampaikan bahwa gempa susulan dapat terjadi berulang kapan saja.

Meskipun termasuk dalam zona kegempaan rendah, Laut Jawa utara Jawa Timur tetap memiliki potensi gempa karena secara geologi dan tektonik terdapat jalur Sesar Tua Pola Meratus.

“Sulit untuk mengatakan sebuah zona sesar tua (sutur) disebut stabil dan aman dari gempa, karena sudah banyak bukti aktivitas gempa yang terjadi di zona stabil dimana terdapat sutur, contohnya di Benua Australia,” imbuh Daryono.

Meskipun masih dalam perdebatan terkait “residual stress” tetapi fakta menunjukkan bahwa zona stabil masih bisa terjadi gempa dimana energi gempa sangat mungkin terbangun dari “super slow stress accumulation”.

  1. Gempa dipicu reaktivasi sesar tua

Analisis BMKG menunjukkan episenter gempa Bawean ternyata terletak tepat di jalur sesar yang sudah terpetakan.

Jika mencermati lokasi pusat gempa Bawean, episenternya terletak tepat pada jalur Sesar Muria (Laut) menurut paper yang dipublikasikan Peter Lunt (2019).

“Jalur sesar ini berada di zona Sesar Tua Pola Meratus. Salah satu jalur sesar di zona Pola Meratus ini diduga mengalami reaktivasi dan memicu gempa,” kata Daryono.

  1. Gempa susulan lebih besar

Gempa Bawean memiliki gempa susulan dengan magnitudo lebih besar, yaitu 6,5 dari gempa pertama yang hanya berkekuatan 5,9.

Hal ini terjadi karena asperity atau bidang bakal geser di bidang sesar yang ukurannya lebih besar mengalami pecah belakangan, salah satunya karena dipicu tekanan dari gempa pertama dengan aspertity yang ukurannya relatif lebih kecil.

Bidang sesar yang pecah pertama kali (first rupture) adalah asperity pada struktur batuan yang lebih lemah, sehingga mengalami pecah duluan sebagai gempa pembuka (foreshock).

  1. Gempa susulan cukup banyak

Rentetan gempa susulan disebabkan karakteristik gempa kerak dangkal di Bawean terjadi pada batuan kerak bumi permukaan yang batuannya bersifat heterogen sehingga mudah rapuh patah.

Berbeda dengan gempa kerak samudra yang batuan bersifat homogen dan elastik sehingga biasanya miskin gempa susulan bahkan terkadang tidak diikuti gempa susulan meskipun magnitudo gempanya cukup besar.

Gempa susulan lazim terjadi pasca terjadi gempa kuat dan bukan untuk ditakuti.

“Banyaknya gempa susulan justru dapat memberi informasi peluruhan gempa sehingga kita dapat mengestimasi kapan berakhirnya gempa susulan,” tutur Daryono.

  1. Gempa Bawean mulai meluruh

Hasil monitoring BMKG hingga Minggu pagi (24/3/2024) pukul 10.00 WIB tercatat sebanyak 239 kali gempa dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang.

Jika hari Jumat (22/3/2024) dalam satu jam dapat terjadi 19 kali gempa, data terkini Minggu (24/3/2024) menunjukkan dalam 1 jam terjadi 2-3 kali gempa.