Berita

 Network

 Partner

Ustadz Ahong: Kadang Orang Mempertentangkan Agama dan Sains

Ustadz Ahong: Kadang Orang Mempertentangkan Agama dan Sains

Berita Baru, Jakarta – Situasi dan kondisi pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Semua itu terjadi di luar kendali manusia.

Berdamai dengan COVID-19 merupakan perubahan sosial instan sehingga harus dipaksa untuk diinjeksi dalam cara hidup adaptif. Mulai gaya hidup, budaya dan norma masyarakat bahkan agama.

Selama pandemi COVID-19, misalnya, tidak sedikit narasi-narasi agama beredar di masyarakat digunakan untuk menolak kebijakan berkaitan dengan pencegahan, mulai dari pembatasan sosial hingga vaksinasi.

Pimred Bincang Syariah, Ustadz Ahong mengatakan bahwa setiap saat, karena aktif di media sosial, pihaknya terus bergerak berupaya meluruskan tiap kali ada isu-isu keagamaan yang salah dipahami dengan merujuk pada pendapat para ulama.

“Kebetulan yang sekarang, lagi terus ya, karena COVID-19 belum berakhir narasi-narasi keagamaan yang berkaitan dengan COVID-19 terus diproduksi,” kata Ustadz Ahong saat menjadi pembicara BERCERITA (Berbagi Cerita Bercerita di Balik Berita) ke-59 pada hari Selasa (10/8) lalu.

Dalam acara yang disiarkan langsung melalui kanal IG tv akun @beritabaruco itu, Ust. Ahong mencontohkan, di awal pandemi bahkan hingga sekarang, tidak sedikit narasi agama diproduksi untuk menentang himbauan pemerintah mengenai aturan shalat berjamaah, bahkan hingga penutupan masjid.

“Misal merenggangkan shaf sholat, ini ada seorang ustadz mengatakan bahwasanya melanggar sunnah Rasulullah, kalau seperti itu pengikut dajjal,” ujar Ust. Ahong.

Ust. Ahong menegaskan, merapatkan barisan saat shalat memang sunnah dan ada hadits shahihnya. Namun, menjaga jiwa supaya tidak terpapar virus merupakan sebuah kewajiban. “Tentunya kita dahulukan yang wajib daripada yang sunnah,” terangnya.

Menurut ust. Ahong, dalam memahami al-Qur’an dan hadist tidak cukup secara tekstual, sehingga perlu pengetahuan agama yang lebih luas dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan. Sebab, tuturnya, al-Qur’an atau hadits tidak terlepas dari maqashid asy-syariah.

“Di antaranya kita harus, sebagai umat islam menjaga jiwa kita, kalau misalnya sakit ya berobat, kalau sekarang sedang ada virus COVID-19 kita harus mematuhi prokes seperti yang dianjurkan para dokter,” katanya.

Ia berharap agar umat muslim, khususnya di Indonesia untuk tidak sembarang menggunakan atau menyebarluaskan dalil-dalil agama yang salah dipahami di tengah pandemi. Karena hal tersebut dapat memperburuk situasi kesehatan di tanah air.

“Jadi kadang orang mempertentangkan agama dan sains. Kalau orang agamanya kuat otomatis selamat, sekalipun mengabaikan sains. Padahal enggak gitu juga. Padahal nabi pernah mencontohkan untuk menyerahkan persoalan pada ahlinya,” tukasnya.

Berita Terkait :  Di Balik Tokoh: Memoar Nasirun (3)