Berita

 Network

 Partner

Uang, Kripto, dan Perkelahian Sepanjang Masa

Uang, Kripto, dan Perkelahian Sepanjang Masa

Uang adalah alasan kita berkelahi, begitu Yuval Noah Harari mengutip Karl Marx. Diksi yang berani dan nyelekit: berkelahi. Bila direnungkan bersama, diksi tersebut merupakan gambaran bagaimana cara mendapat sesuatu lewat ‘perkelahian’.

Buku berjudul Money dari Yuval menerangkan ihwal perkelahian tentang uang, atau lebih dari perkiraan kita. Tak hanya itu, ia menjelaskan secara ciamik asal-usul uang. Sesembahan (baru) umat manusia itu punya riwayat panjang cum rentetan sejarah yang tak kalah rumit.

Yuval membagi buku Money dalam tiga bagian. Bagian pertama, Yuval menulis tentang asal usul uang sejak jaman Hernan Cortez tiba di Meksiko hingga menjadi bagian erat dalam kehidupan manusia. Selanjutnya, ia membahas uang dalam bentuk kredit, sejarah bagaimana kredit menjadi pilihan bangsa Barat sebagai alat penaklukan atas bangsa lain. Bagian ketiga, Yuval meramalkan bagaimana umat manusia menghadapi tantangan masa depan yang keberadaannya bisa saja tergeser ras baru bernama artificial intelligence (kecerdasan buatan).

Dalam buku Money, uang bukan sekadar alat tukar. Uang merupakan sistem kepercayaan paling efektif yang pernah diciptakan manusia. Seseorang akan tenang berada di luar rumah karena ia percaya uang yang ia miliki dipercaya pula oleh orang lain.

Berita Terkait :  Menziarahi Waktu | Cerpen Endri Maeda

Namun, apakah uang yang selama ini beredar jumlahnya sama dengan populasi manusia seluruh dunia? Ternyata, tidak. Yuval menulis bahwa peredaran uang yang ada jauh lebih sedikit. Proses tukar-menukar lebih banyak melibatkan server-server komputer dalam bentuk rekening, atau pertukaran data elektronik tanpa uang secara fisik. Selama transaksi bisa dilakukan secara elektronik, hal tersebut menjadi pilihan utama karena tak butuh waktu dan tempat. Ia lebih mudah dihitung daripada lembaran uang kertas atau kilauan koin.

Uang jadi alat tukar yang memungkinkan orang mengkonversi bermacam hal. Otot ditukar dengan otak. Kesehatan ditukar dengan keadilan saat dokter ingin membayar pengacara. Bahkan, perbuatan cabul ditukar dengan harapan ampunan.

Meski efektif, uang pula menjadi sebab utama perkelahian. Tak berlebihan Marx berkata demikian. Perkelahian yang dimaksud bisa dimaknai dari berbagai sudut pandang.

Perkelahian dalam arti sesungguhnya terjadi karena uang. Para petinju bertarung di atas ring demi menjadi pemenang -tentu saja dengan harapan mendapat hadiah berupa uang. Para pembalap saling beradu cepat demi menjadi nomor satu dan hadiah berupa uang.

Berita Terkait :  Populisme Kanan dan Sejarah Bencana Kemelaratan Umat Manusia

Perkelahian dari makna lain juga terjadi demi uang. Para pekerja berkelahi melawan rasa malas berangkat ke tempat kerja. Cendikiawan berkelahi melawan rasa capek demi merampungkan karya penelitian yang bisa dikomersilkan. Semua berkelahi dan perkelahian tersebut terjadi tanpa peduli masa.

Belum selesai perkelahian di atas, muncul perkelahian lain yang terjadi pada ‘mainan’ baru manusia. Ia adalah kripto. Perkelahian apa yang terjadi padanya?

Aset kripto melibatkan mesin-mesin yang butuh kartu grafis (VGA) sebagai pencatat transaksi. Pencatat transaksi itu disebut penambang (miner). Sebagai imbalan, miner mendapat aset kripto. Tak sedikit orang berkelahi demi mendapat aset kripto sebanyak-banyaknya.

Karena pandemi, perkelahian pada dunia kripto kian meruncing. Akibat pasokan chip menipis, produsen VGA tidak banyak mengeluarkan stok VGA ke pasaran. Ditambah lagi banyak yang memborong VGA yang sudah tersedia. Apa hasilnya?

Harga VGA melambung jauh tak masuk akal. Harga 1 keping VGA naik hingga 3-4 kali lipat dari harga normal. Semua berkelahi, berburu mendapatkan VGA sebanyak-banyaknya. Bagi pemborong VGA, merek kegirangan karena mampu mendapat VGA dengan harga normal. Bagi mereka yang apes, mau tak mau harus menebus VGA yang mereka butuhkan dengan harga tinggi.

Berita Terkait :  Satu Menit di Neraka

Umpatan, cacian, olokan jadi pemandangan biasa akibat tidak mendapat harga VGA secara wajar. Bermacam alibi juga dilontarkan bagi mereka yang mendapat VGA dengan harga wajar. Alibi karena pabrik chipset kekurangan chip dan lainnya.

Baik uang maupun kripto menyisakan satu kata penting dalam kehidupan manusia. Perkelahian. Ia bisa dimaknai secara lahiriah maupun makna lain.

Akibat perkelahian itu, pelan-pelan manusia berhadapan dengan mesin. Manusia secara individu menantang algoritma. Hendak menjadi apa umat manusia nantinya. Batasan-batasan individu menjadi kabur.
Bila manusia terus berkelahi, bahkan dengan mesin, akankah ia masih berharga baik secara individu dan kolektif, atau justru makin kehilangan nilai mereka seutuhnya.

Penulis: Hanif Nanda Zakaria (Esais dan penulis lepas di beberapa media daring)