Tujuh Cara Mati yang Setidaknya Menyenangkan

-

Berpikir bagaimana cara mati yang  setidaknya menyenangkan ternyata begitu mengasyikan.  Sudah seminggu ini aku mereka-reka hal itu, tapi tak kunjung ketemu juga caranya. Ini cuma gara-gara aku sempat membaca sebuah tweet. Katanya, kalau bisa cepat mati buat apa hidup lama-lama.

Aku sebenarnya belum ingin segera mati. Tapi, memikirkan cara mati yang menyenangkan sudah jadi semacam ritus seminggu belakangan. Aku pun tidak berpikir perkara akan masuk surga atau neraka, tidak, tidak sampai ke situ. Sungguh, sekadar ingin menemukan cara mati yang menyenangkan. Itu saja. Tak kurang dan tak lebih. Setelah dihitung-hitung, ada tujuh cara yang melintas di kepala. 

Pertama, aku mati setelah ejakulasi, tepatnya multiple ejakulasi. Mati di atas tubuh dan dalam pelukan seorang pelacur rasanya cukup menyenangkan. Aku memikirkan cara itu setelah membaca koran lawas, di sana ada berita tentang seorang pria tua meregang nyawa sehabis persetubuhan liar. Mati selepas mereguk nikmatnya surga dunia, surga yang diletakkan Tuhan di selangkangan. Ngomong-ngomong, itu plagiat bukan, sih?

Kedua, mati seperti Kolonel Aduren–tokoh fiksi di cerpen Mas Gunawan Tri Atmodjo. Sebenarnya cara matinya sangat konyol. Komandan gerilyawan itu mati di kamar mandi karena terpelanting dan kepalanya membentur bak mandi. Lebih celakanya lagi, dia terpeleset oleh ingusnya sendiri. Sebenarnya akan lebih elegan dan menyenangkan kalau si Kolonel terpeleset ceceran sperma. Namun, sepertinya Pak Kolonel sedang tak ingin onani sebab tengah dihajar flu. Setidaknya dia menjadi sumber inspirasi bagi gerilyawan lain, juga bagiku.

Ketiga, mati karena diracun. Pasti akan menjadi tajuk berita di setiap media massa, baik daring maupun luring. “Seorang Penulis Muda Berbakat Ditemukan Tewas Karena Diracun”. Keren bukan? Aku mungkin akan disejajarkan dengan Munir, aktivis HAM yang tewas diracun di pesawat atau penyair Wiji Thukul–Wiji Thukul bukan diracun, setahuku sampai kini kematian dan di mana jenazah beliau masih misteri. Sepertinya cukup menyenangkan mati lalu jadi headline di setiap media. Siapa tahu novelku bakalan laris manis bak kacang goreng setelah itu.

Keempat, dan mungkin paling indah, mati saat sedang menulis. Dalam imajiku, saat itu aku sedang menyelesaikan draft bab terakhir novel yang akan berjudul Menanti Kupu-kupu Lesap di Dadamu. Kupu-kupu yang seharusnya lesap ke dada seorang gadis cantik justru nyasar masuk ke dadaku. Begitu kupu-kupu sialan itu sudah di dalam dadaku, seketika menjelma granat lalu meledak tanpa permisi. Dadaku jebol! Mati! Lumayan menyenangkan daripada mati ditabrak bajaj.

Kelima, mati setelah menenggak oplosan. Bukan hal baru sebenarnya, tapi entah kenapa cara ini melintas di kepala pada hari ketiga. Mungkin lebih karena penasaran saja, apa para malaikat akan marah besar padaku di dalam kuburan?  Dulu, ada tetangga kampung mati gara-gara minum oplosan spiritus campur susu. Oh, iya, aku ingat, cara itu terpikirkan tepat setelah  lagu dangdut yang liriknya begini: tutupen botolmu, tutupen oplosanmu, emano nyawamu ojo mbok terus-teruske ….

Keenam, dead because broken heart. Seolah-olah aku jadi Hasan di cerpen berjudul Tukik–cerpen ini ada di antologi Lupa Mengingat Cara Melupakan. Aku patah hati gara-gara keperawanan Rosna dijebol sama bekas pelatih paskibraku. Padahal, sehari sebelum Rosna berangkat ke Makassar bisa saja kurobek-robek segel Rosna. Waktu itu hujan, kami berteduh di gedung SD. Nah, karena terbawa suasana dan dibujuk setan penunggu WC yang kebetulan lewat, kami saling cium, saling remas, dan saling lainnya. Tapi, waktu nyaris masuk ke adegan inti, tiba-tiba aku insyaf lantas beristighfar tujuh kali. Kecewalah si setan, lalu buru-buru pulang ke WC. Mau onani saja, katanya.

Ketujuh, mati dibunuh kata-kata. Cara ini terpikirkan di hari kelima dan masih ada hubungannya dengan hobiku–menulis. Dalam imajinasi, aku mati gara-gara jutaan kata-kata di kepala demo minta dikeluarkan. Mereka demo berbulan-bulan, awalnya aksi damai, tapi lama-lama jadi anarkis. Sangking jengkelnya karena tidak segera dituruti, mereka ramai-ramai teriak, “Lobangi! Lobangi! Lobangi!”

Kata-kata itu diulang-ulang, tanpa jeda, dan dengan nada yang tetap tinggi. Kata-kata itu menjelma mantra, memberi sugesti, mengintimidasi lebih tepatnya–agar lekas melobangi kepala. Pada suatu detik akhirnya kuputuskan melobangi kepala dengan bor listrik. Dan sebelum nyawa benar-benar mingat, kulihat kata-kata sialan yang sudah demo berbulan-bulan itu menempel di dinding, lantai, juga langit-langit. Mereka menjelma puisi, prosa liris, cerpen, qoute dan lain-lain. Indah.

Yang jadi soal, aku belum yakin akan mati dalam waktu dekat. Katanya, orang jahat matinya lama, dan juga akhirnya aku jadi takut masuk neraka. Menurut cerita ibuku, orang-orang jahat dan penuh dosa sepertiku bakalan disiksa di neraka. Pencuri tangannya dipotong, tumbuh lagi, dipotong lagi, tumbuh lagi, begitu terus. Kalau pembual lidahnya yang bakal jadi sasaran. Sialnya, aku ini termasuk pembual, setidaknya itu tuduhan Sri.

Waktu itu, aku bilang begini, “Sri, aku nggak akan bisa hidup tanpamu.” Sebenarnya saat itu aku tidak berniat membual, cuma menggombal saja, tapi rupanya bualan dan gombalan itu beda tipis. Kenyataannya sampai sekarang aku memang masih tetap hidup walau tanpa Sri. Iya, tanpa Sri–mantan zaman SMP–karena sekarang pacarku namanya juga Sri, Srikandi. Jadi?

Selain karena orang jahat matinya lama–aku berpikir aku jahat karena tidak meneruskan cerbung di sebuah komunitas menulis yang didominasi emak-emak padahal like-nya tembus sepuluh ribu, belum lagi komentar next, lanjut, jejak, dan sebagainya. Aku juga berpikir kalau mati cuma memakai satu dari tujuh cara tersebut rasanya tidak adil. Bukankah sebagai penulis kita harus adil pada semua ide yang datang. Dan tujuh cara mati yang menyenangkan itu juga termasuk ide menurutku. 

Mungkin sebaiknya tujuh cara mati yang menyenangkan itu kuposting saja di Facebook. Siapa tahu dari tujuh cara itu akan bermunculan cara-cara lainnya. Tujuh jadi empat belas, dua puluh satu, dua puluh delapan, tiga puluh lima dan seterusnya. 

Mungkin kuperam saja tujuh cara itu. Sampai ada orang yang cukup bodoh bertanya padaku tentang cara mati yang menyenangkan. Jadi aku tak perlu repot-repot lagi berpikir. Atau, cara-cara mati itu kuhapus saja dari otak? Biar jadi kenangan, biar kelak aku bisa menertawakan diri sendiri saat mengingatnya. 

Ah, pilihan-pilihan itu kini berbaris bengis di hadapanku. Mereka seperti debt collector, galak menagih angsuran motor. Mereka seperti serdadu, menodongkan laras AK-47 pada seorang ekstrimis busuk. Mereka seperti sepasukan mantan pacar yang murka setelah menerima undangan pernikahan. Mereka seperti calon mertua yang memelototi saat ngapel dan lupa bawa martabak. Pokoknya mereka sukses membuatku gentar.

Keringat bercucuran, lutut goyah, dan nyaliku pun makin ciut. Aku mundur beberapa langkah, mereka maju beberapa langkah. Aku mundur lagi, mereka maju lagi. Dan saat tubuhku membentur tembok, mereka terbahak-bahak. Mereka berubah-ubah wajah, debt collector, serdadu, sepasukan mantan pacar yang murka, juga calon mertua yang melotot. Begitu terus selama beberapa menit.

Dan, entah di menit keberapa aku merasakan nyeri di dada kiri serta diringi suara memekakkan telinga. Kulihat moncong laras AK-47 itu mengepulkan asap tipis. Bau mesiu tercium, selongsong peluru terlontar. Jadi, beginilah caraku mati. Sungguh sangat tidak menyenangkan! Tidak ada oplosan apalagi pelacur. Dan pasti tidak akan jadi headline di media. Sial!

Selesai-=


Rayi El Fatih, lahir di Purworejo pada 28 Oktober tapi dibesarkan di Pulau Seram-Maluku. Pernah beberapa kali ikut serta dalam penulisan antologi cerpen yang diselengarakan oleh Indego Publisher. Saat ini berteduh di akun Facebook Rayi El Fatih.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments