Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tuhan yang Audibel

Tuhan yang Audibel



“The God Spoke to Moses”– Does God Speak?

Setelah prinsip teofani atau bagaimana Tuhan menampakkan dan mewujudkan diri menjadi polemik global agama di dunia, berkembanglah polemik lain tentang pengalaman spiritual lainnya, yaitu bagaimana Tuhan berbicara.

Apakah Tuhan berbicara? Pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab dan tabu untuk tak dijawab. Beberapa persona seperti nabi, rasul, dan orang-orang yang diberi kesempatan oleh-Nya; tentunya bukan hal yang tak mungkin untuk mendengar bagaimana Tuhan berbicara.

Sedangkan sisanya, adalah umat yang hanya mendengar dan memperhatikan saja tentang uraian bagaimana Tuhan berbicara. Tuhan bercakap-cakap dengan Adam di taman Firdaus, Tuhan yang berkata kepada Nuh untuk membangun bahtera. Dia juga berbicara kepada Musa di bukit Tursina. Pun, Dia juga berbicara untuk menjanjikan Ibrahim seorang anak laki-laki. Namun, apakah Tuhan tetap berbicara kepada kita hari ini? Jika ya, bagaimana? Kapan? Di mana?

Menurut ajaran Islam, Tuhan tidak bisa berbicara langsung dengan muslim, kecuali seorang Nabi. Biasanya, Tuhan mengirim malaikat, lalu malaikat itu berbicara dengan salah satu Nabi-Nya. Kemudian Nabi itu menyampaikan pesan tersebut ke umat-Nya.

Muslim percaya bahwa Tuhan berbicara langsung dengan tiga Nabi – Adam, Musa, dan Muhammad. Dalam Shahih Bukhari, Tuhan berbicara dengan Nabi Adam saat Allah menciptakannya.

Alquran juga berkata, Tuhan berbicara langsung dengan Nabi Musa. “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Qs 4:164). 

Hal senada, dalam Kitab Suci Taurat, Tuhan berbicara langsung kepada Nabi Musa. “Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya . . .” (Taurat, Kitab Keluaran 33:11).

Seringkali ketika orang-orang menanyakan pertanyaan ini, yang mereka maksudkan adalah suara yang terdengar (audible). Kalau hanya itu, Tuhan sudah pasti dapat melakukannya. Bukankah Dia dapat melakukan apa saja yang diinginkan-Nya. Dia adalah Tuhan. Lalu mengapa kita tidak dapat mendengar Tuhan yang berbicara kepada kita secara audibel?

The Light and Sound of God together are the Voice of God. In scriptures we know It as the Word or Logos. In other words, it’s God speaking from beyond creation to Its creationSri Harold KlempThe Slow Burning Love of God

Di dalam Biblika juga banyak digambarkan, dijelaskan, dianalogikan, diterangkan bagaimana Tuhan itu audibel.

Tuhan berbisik, kadang-kadang berteriak, semuanya melalui firman-Nya, memberi instruksi-instruksi dan prinsip-prinsip kepada kita tentang bagaimana kita harus hidup.

Perkataan Yesus kepada murid-muridnya ketika mereka takut di malam badai: “Diam! Tenanglah!” dan itu seperti Tuhan berbicara kepada umatnya (Lukas 8:23-25).

Pada Kitab Samuel 22:14 Tuhan mengguntur dari langit, dan Yang Mahatinggi mengucapkan suaranya. Pun, pada Kitab Raja 19:12 : dan setelah gempa bumi, api; tetapi Tuhan tidak ada di dalam api: dan sesudah api masih ada suara kecil.

Kemudia juga dapat dilihat di Mazmur 68:33: kepada Dia yang mengendarai surga yang tertinggi, yang berasal dari zaman kuno; Lihatlah, Dia berbicara keluar dengan suara-Nya, suara yang kuat.

Kemudian secara berturut, Yeremia 10:13: Ketika dia mengucapkan suaranya, ada banyak air di langit, dan dia menyebabkan uap-uap naik dari ujung-ujung bumi; Dia membuat kilat dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari hartanya.

Yehezkiel 43: 2 Dan, lihatlah, kemuliaan Allah Israel datang dari jalan timur: dan suaranya seperti suara banyak air, dan bumi bersinar dengan kemuliaan-Nya.

Lantas, yang audibel tersebut berbentuk ujaran yang biasa dipakai oleh hamba-Nya? Dengan huruf-huruf yang terucap? Di dalam khasanah Islam disebutkan beberapa hal tentang hal tersebut di atas.

“Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memanggil dengan suara, di mana orang yang jauh mendengar suara ini seperti orang yang dekat, maka ini tidak mungkin dimiliki oleh selain Allah ‘Azza wa Jalla, dan ini dalil bahwa suara Allah tidak sama dengan suara-suara makhluk, karena suara Allah didengar dari jarak jauh seakan-akan didengar dari jarak dekat.” (Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, hal. 98).

Allah berkata di hari kiamat: wahai Adam! Adam menjawab: ya wahai Tuhan kami.’ Maka Allah memanggil dengan suara: sesungguhnya Allah akan memasukkan dari keturunanmu ba’tsan ke dalam neraka (HR. Al-Bukhary)

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hanbal: aku bertanya kepada bapakku tentang sebuah kaum yang mengatakan bahwa Allah berbicara dengan Musa tanpa suara.

Maka bapakku (Imam Ahmad bin Hanbal) berkata: tidak demikian, sesungguhnya Tuhan-mu ‘Azza wa Jalla berbicara dengan suara, hadits-hadits ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya. (Diriwayatkan Abdullah dalam As-Sunnah, no. 533)

Adapun dalil bahwa Kalamullah terdiri dari huruf maka di antaranya: ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi, tiba-tiba Jibril mendengar suara pintu dari arah atas, kemudian mengangkat kepalanya, seraya berkata: ini adalah pintu langit, telah dibuka hari ini, belum pernah dibuka kecuali hari ini.

Maka turunlah seorang malaikat dari pintu tersebut, kemudian Jibril berkata: ini adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.

Maka, malaikat tersebut mengucap salam dan berkata: bergembiralah dengan dua cahaya, yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, Faatihatul Kitab (alfatihah) dan ayat-ayat akhir surat albaqarah, tidaklah kamu membaca satu huruf di dalam keduanya kecuali kamu akan diberi. (HR. Muslim).

Cahaya dan suara telah lama menjadi bagian dari ritual keagamaan di seluruh dunia. Nyanyian, pujian, nadhom, prosa adalah salah satu contoh suara yang paling terkenal dalam tradisi keagamaan.

Demikian juga, cahaya Tuhan secara simbolis terwakili di sebagian besar agama. Setiap upacara mewakili upaya orang untuk berbicara kepada Tuhan dengan cara mereka sendiri.

Tuhan telah menampakkan diri kepada banyak orang suci dan mistikus. Seperti pendapat tentang Saulus dari Tarsus, yang mengalami pertemuan dramatis dengan Tuhan di jalan menuju Damaskus.

Tentang pendapat Musa yang melihatnya di semak yang terbakar atau di gunung yang meledak itu. Sepanjang sejarah, cahaya telah digambarkan di sekitar kepala atau badan orang suc,i dan dalam ilustrasi malaikat.

Tampak bahwa tradisi alkitabiah dengan suara bulat berkomitmen pada kepercayaan bahwa perintah-perintah Allah, mitzvot, sebenarnya diucapkan oleh Allah sendiri, dalam kata-kata Ibrani yang terdengar dan dapat dipahami, teks lengkap yang terkandung dalam Taurat.

Apakah mereka menggambarkan suara tanpa tubuh yang meledak dari puncak gunung dan didengar oleh semua orang, atau suara yang didengar secara pribadi oleh Musa?

Para penulis sumber dari Taurat, serta banyak penulis Alkitab lainnya, menerima tanpa mempertanyakan gagasan tentang Tuhan yang berbicara, Tuhan yang membuat kehendak-Nya dan Tuhan Yang Teofani.

Sebagaimana dinyatakan dalam Taurat dengan jelas: tidak demikian halnya dengan hamba-Ku Musa; dia dipercaya di seluruh rumah tanggaku. Dengan dia aku berbicara dari mulut ke mulut, terus terang dan tidak dalam teka-teki, dan dia memandang pada rupa Tuhan (Bilangan 12: 7-8)