Terus Berlangsung, Ratusan Ribu Demonstran Geruduk Kediaman Alexander Lukashenko

(Foto: Getty Images)

Berita Baru, Internasional – Pendukung oposisi kembali gelar aksi protes penolakan hasil pemilihan umum Presiden Belarusia di Minsk pada Senin (14/9), dilansir dari The Guardian.

Upaya presiden Belarus, Alexander Lukashenko, untuk menghalau protes besar-besaran terhadap dirinya gagal. Terbukti, pada hari Minggu (13/9), lebih dari 100.000 orang menggeruduk kediamannya di ibu kota Belarusia, Minsk. Gerakan protes lain juga terjadi di seluruh negeri.

Kemenangan Lukashenko pada pemilihan presiden Belarusia telah memicu pemberontakan dan perlawanan masyarakat secara luas terhadap pemerintahannya selama 26 tahun. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan keamanannya menculik dan mengasingkan pimpinan demonstran sebagai inisiatif untuk meredakan gelombang protes. Tetapi strategi tersebut gagal untuk meredam suasana anti-pemerintah.

Belum ada tanda-tanda gerakan anti Lukashenko akan berakhir. Sebaliknya, pengunjuk rasa turun ke jalan dalam jumlah yang lebih besar selama lima akhir pekan kelima berturut-turut. Mereka menentang polisi dan memblokade pusat kota dengan kendaraan militer.

Gelombang protes yang terus berlanjut cukup memukul keberadaan Lukashenko, yang rencananya akan bertemu dengan Vladimir Putin pada hari Senin di resor Sochi Rusia. Pertemuan itu, merupakan tatap muka pertama mereka sejak pemilihan presiden Belarusia pada 9 Agustus yang dinilai terjadi kecurangan.

Berita Terkait :  Demo Ricuh, Aparat Irak Kembali Tembaki Demonstran

Gelombang Pretes Tak Terbendung

Ratusan ribu demonstran pada hari Minggu (13/9) kembali berkumpul di Minsk untuk melakukan parade protes. Mereka mengubah rute dengan berjalan menuju Drozhdy, menggeruduk kediaman Lukashenko dan para pejabat senior.

Para demonstran memenuhi jalan-jalan dengan mengibarkan bendera merah putih republic Belarusia pra-soviet sebagai symbol protes. Berbagai slogan juga berkibar diantara pedemo yang menyerukan pengunduran diri terhadap Lukashenko.

Sebanyak 250 pedemo ditangkap dan dibuang di minivan oleh polisi anti huru hara. Penahanan tersebut menyusul penangkapan terhadap 114 orang pada hari Sabtu yang berlangsung dalam pawai wanita damai di Minsk. Protes dan penangkapan serupa juga terjadi di kota-kota Belarusia lainnya termasuk Brest, Gomel, Grodna dan Mogilev.

“Kami tidak akan membiarkan dia menjual negara,” bunyi slogan yang dibawa oleh masa aksi. Beberapa di antara pemrotes juga membawa plakat yang mengkritik Rusia.

Pertemuan Lukashenko dengan Putin pada hari Senin di Sochi akan menjadi langkah pertimbangan yang rumit. Lukashenko menginginkan dukungan dari Putin. Sementara  Moskow telah sejak lama menganggap Lukashenko mitra yang membikin kesal dan tidak dapat diandalkan, meski Putin telah memutuskan untuk mendukungnya.

Berita Terkait :  AS Kembalikan 2,8 Triliun Hasil Korupsi 1MDB ke Malaysia

Sementara itu, pada hari Jumat, AS mengatakan akan menjatuhkan sanksi baru pada tokoh Belarusia. AS juga memperingatkan Moskow, jika dukungannya kepada Lukashenko hanya akan mengasingkan rakyatnya.

Wakil menteri luar negeri AS, Stephen Biegun, bertanya-tanya bagaimana mungkin Moskow malah mendukung rezim dan kekerasan terhadap warga yang damai. “Jika Kremlin terus menempuh jalur ini, itu berisiko membuat rakyat Belarusia, yang tidak memiliki keluhan dengan Rusia, melawan Moskow,” katanya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan