Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sulit Melaut Imbas Solar Langka, Nelayan Gresik Demo di Atas Perahu

Sulit Melaut Imbas Solar Langka, Nelayan Gresik Demo di Atas Perahu

Berita Baru, Gresik – Ratusan nelayan di Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik menjerit karena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solat. Kondisi ini membuat mereka libur melaut dan memilih melakukan aksi unjuk rasa menyuarakan aspirasi di atas perahu.

Sejak pagi, para nelayan berkumpul di dermaga. Mereka membawa sejumlah spanduk bertuliskan aspirasi sebagai bentuk protes seperti ‘Solar Langka, Nelayan Sengsara’ lalu ada pula ‘Kami Butuh Solar, Tak Butuh Janji’ dan ‘Hidup Kami Susah, Jangan Dipersusah’.

“Tolong kami, sampai kapan kami begini, kami butuh solar untuk melaut. Kami butuh solisi,” teriak salah satu nelayan di atas perahu, umat (23/9).

Kondisi kesulitan solar ini sudah dialami nelayan sekitar tiga bulan lalu. Namun, sejak pemerintah menaikkan harga BBM, keberadaan solar malah semakin sulit didapatkan.

“Sejak BBM naik tiga mingguan ini solar semakin sulit didapatkan,” ujar Ketua Rukun Nelayan Campurejo, Muzi.

Setelah beberapa waktu menyampaikan orasi, perwakilan nelayan didampingi pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan BPD Campurejo selanjutnya mendatangi SPBU Banyutengah untuk melakukan audiensi.

Dalam audiensi tersebut, para nelayan mempertanyakan jatah solar yang seharusnya didistribusikan ke mereka. Dia mengaku, nelayan Campurejo selalu kehabisan stok. Padahal pengiriman dari Pertamina lancar.

“Solar langka sudah lama, betul-betul terasa tiga mingguan setelah BBM naik,” beber Muzi.

Dari hasil audiensi selama dua jam, nelayan bersepakat dengan SPBU untuk memperbaiki distribusi solar ke nelayan. Mereka dijatah 4 KL (4Ton) ribu per hari.

“Alhamdulillah sudah ada ACC, MoU antara nelayan dan pihak SPBU, semoga terlaksana,” terangnya.

Muzi menjelaskan, ada sekitar 300 nelayan Campurejo yang menggantungkan hidup dari melaut. Dia berharap, demo kali ini ada hasilnya. “Sehingga nelayan tak kesulitan solar lagi,” tambah dia.

Informasi yang didapat di lapangan, jatah solar subsidi yang diberikan pertamina ke SPBU Banyutengah ada 24 KL (24 Ton). Nah, separuh yakni 12 KL (12 Ton) diklaim sudah tersalur ke nelayan. Pengiriman setiap dua hari sekali

Jika memang ada 12 Ton tersalurkan seluruhnya ke nelayan, maka nelayan tidak akan kekurangan solar. Jika dihitung, kebutuhan nelayan hanya 4 Ton.

Lalu sisanya kemana? informasi terpercaya menyebut jatah solar nelayan juga dipakai untuk industri di sekitar. Hal itu sudah tak jadi rahasia umum.

Sementara itu, Pengawas SPBU Banyutengah, Ainur Rofiq mengklaim selama ini jatah solar subsidi sudah tersalurkan ke nelayan.

“Jadi untuk nelayan ada 4 KL atau 4 Ton per hari. Agar tepat sasaran, nelayan diwajibkan memiliki NIB,” ujarnya sambil menjelakan sejak harga naik, memang ada sedikit keterlambatan pengiriman dari Pertamina.

Selain nelayan, SPBU Banyutengah juga melayani pembelian solar untuk truk-truk besar yang melewati jalur Pantura. Jadi, di SPBU bukan hanya untuk nelayan.

“Separuh untuk nelayan, separuh untuk umum ya bisa truk-truk itu,” imbuhnya.

Ketika ditanya adanya pembelian diatas 200 liter dengan memakai kendaraan roda tiga (Tossa), Ainur tidak menampik. Bahkan membenarkan. Dia pun melayani.

“Namun, saat ini dia tidak melayani pembelian sebanyak itu, Paling banyak hanya 120 liter solar. Aturan itu baru kami buat empat hari lalu,” pungkasnya.