Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Sri Mulyani: Pandemi Covid-19 Telah Lumpuhkan Negara-Negara Paling Kuat
Sri Mulyani dalam acara temu Stakeholder Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis, 25 Maret 2021

Sri Mulyani: Pandemi Covid-19 Telah Lumpuhkan Negara-Negara Paling Kuat



Berita Baru, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebutkan, pandemi Covid-19 ini telah melumpuhkan negara-negara yang bahkan paling kuat. Pertumbuhan ekonomi secara global terperosok di dalam kondisi yang tidak baik.

Hal itu disampaikan Sri Mulyani dalam acara temu Stakeholder Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis, 25 Maret 2021.

“Pandemi yang luar biasa ini di dalam skala dunia juga telah melumpuhkan negara-negara bahkan negara paling kuat, paling maju, paling kaya sekalipun. Mereka sekarang terperosok di dalam kondisi ekonomi yang tidak baik,” kata Sri Mulyani dikutip kanal YouTube Ministry of Finance Republic of Indonesia, Kamis (25/3/2021).

Sri Mulyani mencontohkan, pelemahan ekonomi terjadi pada kuartal II 2020. Misalnya, Italia yang mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sampai -12,8 persen. Selain itu, Filipina mengalami kontraksi yang mencapai -16,5 persen.

Sedangkan Indonesia juga mengalami pelemahan ekonomi, namun tidak terlalu dalam daripada negara-negara anggota G20 lainnya. Sepanjang 2020, tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia turun -2,07 persen.

Menurut Sri Mulyani, pandemi Covid-19 ini memberikan efek syok yang luar biasa di bidang kesehatan. Kemudian, efek syok ini menular ke bidang sosial ekonomi. Oleh sebab itu, tambahnya, pemerintah, telah merumuskan berbagai kebijakan di bidang perekonomian. 

“Salah satunya Peraturan Pengganti Undang-undang atau Perpu Nomor 1 Tahun 2020 yang waktu itu dirumuskan di bulan Maret. Begitu pandemi diumumkan pada tanggal 11 dan kemudian disampaikan oleh bapak presiden sebagai Perpu pada awal April,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan, di dalam Perpu itu memungkinkan untuk mengelola APBN secara fleksibel, namun tetap akuntabel. Bahkan, dalam APBN tahun 2020 dilakukan revisi sampai dua kali untuk belanja difokuskan di bidang kesehatan, melindungi masyarakat secara sosial, dan membantu dunia usaha terutama UMKM. 

“Anggaran kesehatan kita meningkat dari yang tadinya Rp 113 triliun tahun 2019, tahun 2021 itu mencapai hampir Rp 300 triliun. Jadi lebih dari dua kali lipat, karena sebagian besar adalah untuk Covid-19,” ucap Sri Mulyani.

Namun demikian, Sri Mulyani menyadari bahwa APBN tidak bisa bekerja sendirian. Oleh karena itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk menopang beban beras karena pandemi Covid-19.

Selain itu, Kemenkeu juga bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan jaminan kredit dan memberikan penempatan dana di perbankan yang mana harus melalui sektor keuangan. 

“Dalam hal ini OJK memberikan dukungan penuh melalui regulasinya. Selain itu, kita dengan Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS agar menjaga supaya konfiden masyarakat di dalam menempatkan dana di perbankan tetap terjaga,” tandas Sri Mulyani.