Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Juru Bicara IOC, Mark Adam saat konferensi pers terkait Skandal Doping Olimpiade Beijing 2022, Sabtu 12 Februari 2022. Foto: Reuters.
Juru Bicara IOC, Mark Adam saat konferensi pers terkait Skandal Doping Olimpiade Beijing 2022, Sabtu 12 Februari 2022. Foto: Reuters.

Skandal Doping Olimpiade Beijing 2022, Badan Antidoping Dunia Selidiki Delegasi Valieva

Berita Baru, Beijing – Badan Antidoping Dunia selidiki delegasi Valieva yang terbukti dites positif menggunakan obat terlarang saat mengikuti Olimpiade Beijing 2022.

Badan Anti-Doping Dunia (WADA) mengatakan pihaknya akan meminta Departemen Intelijen dan Investigasi independen untuk menyelidiki para pelatih, dokter, dan orang dewasa lainnya di sekitar atlit skating atau seluncur indah asal Rusia tersebut.

Sebelumnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) secara resmi meminta WADA untuk melakukan penyelidikan.

“Kami memiliki kebijakan 100% melawan doping,” kata juru bicara IOC Mark Adams.

Badan Anti-Doping Rusia (RUSADA) mengindikasikan sudah mulai menyelidiki delegasi tersebut karena Valieva masih di bawah umur, menurut pernyataan WADA pada Reuters, Minggu (13/2).

Valieva dites positif menggunakan obat jantung terlarang di kejuaraan nasionalnya pada Desember lalu, namun obat tersebut dapat betahan hingga enam minggu, sehingga memungkin dirinya untuk bisa tampil di Beijing dengan efek obat tersebut, menurut laporan Reuters.

Masa depan Valieva di Olimpiade Beijing 2022, termasuk medali emas untuk Komite Olimpiade Rusia dalam acara beregu yang membuatnya mendominasi cabang olahraga skating, kini terancam.

Sementara itu, pelatih skating Valieva, Tutberidze belum menanggapi email Reuters.

Pada hari Sabtu (12/2), dia mengatakan dia yakin Valieva “bersih dan tidak bersalah” dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Rusia.

Pemain skating ‘ajaib’ yang berumur 15 tahun itu merupakan salah satu atlet termuda tercatat positif menggunakan doping di ajang Olimpiade.

Catatan itu menambah deretan panjang catatan buruk penggunaan doping Rusia dalam ajang olahraga bergengsi internasional tersebut dan memicu kecaman negara-negara.

Skandal doping yang didukung negara Rusia setelah Olimpiade Sochi 2014 semakin memperjelas bahwa para atlet sering kali tidak bertindak sendiri tetapi didukung oleh jaringan, termasuk petugas medis, pelatih, agen, serta keluarga dan teman.

Komisi dapat memberikan sanksi kepada individu untuk sejumlah pelanggaran yang mencakup doping, perilaku tidak sportif, dan pelecehan. Sanksi dapat berkisar dari teguran hingga pengucilan permanen dari Olimpiade.