Silvya Makabori: Perempuan Adalah Pihak yang paling Dekat dengan Hutan

. Silvya M. A Makabori dari Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, dalam sesi diskusi Perspektif Beritabaru.co

Berita Baru, Tokoh – Satu dekade ini, bencana ekologis mengalami eskalasi. Silvya M. A Makabori dari Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, dalam sesi diskusi Perspektif Beritabaru.co bekerja sama dengan The Asia Foundation, UKaid, The David Lucile and Packard Foundation, menyebut bahwa pihak yang paling terdampak adalah perempuan.

Pasalnya, perempuanlah yang lebih bersingunggan, dekat, dengan hutan. “Iya, perempuan adat itulah yang paling sering ke hutan,” ujar Silvya pada Senin (22/4).

Kerentanan tersebut berhubungan dengan peran perempuan sendiri yang tinggi terhadap hutan. Dibanding laki-laki, meski sistem masyarakatnya patriarkat, perempuan lebih banyak ke hutan untuk mengelola hasil hutan baik untuk konsumsi keluarga ataupun dijual.

Akibatnya, ketika ada bencana, perempuan merupakan pihak pertama yang bisa merasakan.

“Yang paling jelas, biasanya bencana berakibat pada berkurangnya hasil hutan yang ini berimbas pada pemasukan, khususnya keluarga untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya dalam acara bertajuk Peran Perempuan dan Tantangan Bencana Ekologis di Tanah Papua ini.

Upaya menuju 70% untuk hutan lindung

Fungsi hutan, Silvya menyampaikan, setidaknya ada tiga (3) yang utama, yaitu konsumsi, lindung, dan konservasi. Fungsi hutan sebagai kawasan lindung, untuk Provinsi Papua Barat, pemerintah daerah sedang mengupayakan untuk bisa sampai di angka 70%.

“Salah satu yang kami lakukan, dan sebagai eksekusi dari Perdasus Provinsi Papua Barat nomer 10 tahun 2019, adalah dengan rehabilitasi beberapa lahan kosong. Dengan begini, perlahan tapi pasti, 70% untuk hutan lindung akan terealisasi,” jelas Silvya.

Adapun untuk pelibatan perempuan, berpijak pada 3 skema hutan di atas, para mama (sebutan untuk perempuan di Papua) sudah berperan aktif di bagian Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), terutama di produksi sarang semut sebagai teh.

“Yang mengelola usaha sarang semut ini ya mama-mama, tidak mungkin para bapak, dan sampai sekarang ada sekitar 70 hutan desa yang sudah siap untuk diarahkan ke produksi tersebut,” ujarnya.

Kuasa mama-mama Papua: dari tingkat tapak hingga gerakan

Tentang mama-mama Papua dan hutan, perempuan di Papua Barat, lanjut Silvya, tidak saja soal pengelolaan hutan, tetapi juga penjagaan.

Di Papua Barat bisa ditemukan semacam Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa) yang dijalankan oleh para mama di bawah payung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menjaga dan melindungi hutan.

“Kenapa ada banyak anggota perempuan sebab yang akrab dengan hutan ya mama-mama itu,” tandasnya.

Aktivisme mama-mama di hutan selama ini berlangsung mandiri, namun itu tidak berarti mereka sendirian. Secara pergerakan, mereka dibantu oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), khususnya di daerah Wondama, Kaimana, dan Raja Ampat.

Kolaborasi sedemikian rupa penting setidaknya untuk dua hal. Pertama guna mendorong serta mengawal pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro-hutan.

[Dengan adanya pendampingan, para mama jelas akan terbantu soal diskusi ide, pandangan, jaringan, dan sebagainya, sehingga upaya pengawalan terhadap pemerintah menjadi lebih mudah.

Dengan adanya pendampingan, para mama jelas akan terbantu soal diskusi ide, pandangan, jaringan, dan sebagainya, sehingga upaya pengawalan terhadap pemerintah menjadi lebih mudah.

Kedua, kolaborasi pun bisa berakibat pada mudahnya identifikasi persoalan di lapangan, pengembangan usaha, dan tentunya pasar.

“Untuk pasar, jelas ini adalah tugas pemerintah. Pemerintah harus hadir biar tidak dimainkan oleh tengkulak dan adalah tugas kami untuk melakukan dorongan sekaligus pengawalan,” tutur Silvya.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini