Api Kehidupan Soesilo Toer

Soesilo Toer
Soesilo Toer

Berita Baru, Sosok – Soesilo Ananta Toer atau Soesilo Toer merupakan sosok yang gigih menolak tua. Ketika teman-teman sebayanya lebih suka santai sambil mendikte anak cucunya di teras rumah sembari menikmati segala yang sudah dibuahkannya, Mbah Soes—sapaan akrabnya—justru mengambil jalan sebaliknya.

Dalam satu tahun, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mampu menyelesaikan tujuh (7) buku. Sebab, bagi Mbah Soes, pendidikan yang paling tinggi berpulang pada pendidikan untuk dan oleh diri sendiri. Hasrat Mbah Soes untuk menulis tidak lain adalah sebentuk pendidikan diri sendiri.

Sebagai seorang eks tahanan politik akibat studinya di Rusia, Soesilo Toer enggan menyebut bahwa pendidikan di sekolah itu mendidik, termasuk pendidikan (di) lingkungan ataupun keluarga. Satu-satunya pendidikan yang pendidikan adalah pendidikan diri.

Pandangan Mbah Soes ini bukan tanpa sebab. Kenyataan bahwa setiap dari kita memiliki keunikan, kebebasan, serta keterbatasannya sendiri merupakan alasan mengapa demikian. Keunikan berpotensi membawa individu untuk merambah pada apa pun yang menjadi kecenderungannya (passion) dengan kebebasan sebagai payung yang membukakan segala akses.

Jika pendidikan institusi selalu membatasi murid-muridnya pada apa yang menjadi visi sekolah, termasuk sejauh mana kemampuan tenaga pendidiknya, maka pendidikan diri membeberkan semuanya. Melepaskan segala yang ada untuk dipelajari seturut arus keunikan masing-masing individu.

“Jadi, kalau boleh menyimpulkan, sebenarnya tidak ada pendidikan kecuali pendidikan diri sendiri,” tegas Mbah Soes dalam sesi #Bercerita ke-37 pada Selasa (2/3).

Meski demikian, sebagaimana tidak ada gading yang tidak retak, setiap individu memiliki kelemahan. Namun, keterbatasan ini, lanjut Mbah Soes, bukanlah apa pun kecuali celah buat kita supaya tergerak untuk mengenal hakikat ke-diri-an kita.

Hakikat manusia itu makan

Keterbatasan pada dasarnya adalah pembimbing kita semua agar mau mengenal lebih jauh hakikat diri. Baik itu Pramoedya Ananta Toer, kakaknya, Toer, sang ayah, ataupun Multatuli, sosok idaman Pram dan Toer,  Mbah Soes menegaskan, memiliki anggitannya sendiri tentang manusia.

Mereka sudah memiliki pandangan ontologis atas manusia sebelum mengarang sebuah karya atau benar-benar siap menjalani kehidupan. Pram mendefinisikan hakikat manusia sebagai makhluk yang harus menulis. Sebab menulis adalah karya untuk keabadian.

Anggitan Pram ini dipengaruhi oleh sang ayah, Toer, yang meletakkan manusia sebagai makhluk yang harus berkarya. Toer, sosok pria asal Pare Kediri yang rela menghapus nama depannya—mas—karena berbau feodal, memahami aktivitas berkarya secara luas seperti memperjuangkan prinsip dan bertahan hidup yang lantas diterjemahkan oleh Pram—jika tidak disempitkan—sebagai menulis. Berkarya bermakna menulis.

Adapun Multatuli, mendahului keduanya, hadir dengan definisi yang lebih umum lagi, meski mendasar, yakni manusia adalah makhluk yang harusnya jadi manusia.

Berdasarkan tiga referensi tersebut, Mbah Soes tidak mau kalah. Ia punya pendapatnya sendiri tentang manusia. Di benak Mbah Soes manusia itu sangat sederhana, yaitu makhluk yang butuh makan dan minum.

“Ya coba kita bayangkan, bagaimana kita bisa jadi manusia ala Multatuli misalnya, jadi makhluk berkarya ataupun menulis untuk keabadian ala Pram jika kita lapar. Susah kan. Hayo,” tutur Soesilo Toer gaya keterbukaannya yang khas.

Antara (Mas)toer, Pram, dan Soesilo

Hal lain yang memengaruhi keberaniannya untuk menyebut, pendidikan yang pendidikan hanyalah pendidikan diri sendiri adalah pengalamannya dengan kakak-kakaknya dan sang ayah.

Dengan sang ayah, Mbah Soes memiliki kisah yang magis. Saat ayahnya meninggal, di umurnya ke-13, dan ia turut berseliweran di bawah keranda jenazah—berosotan dalam tradisi Blora dan sekitarnya—kepala Soesilo Toer terbentur bagian bawah keranda, padahal dia lebih pendek ketimbang Pram ataupun Koesalah Subagyo Toer.

Secara tradisi, anak yang terbentur keranda jenazah akan dibawa mati oleh sang jenazah. Mengetahui ini, seperti dikisahkan Mbah Soes, tidurnya tidak nyenyak selama beberapa hari dan puncaknya, ia semacam melihat penampakan sang ayah di pojok atas kamarnya dengan muka yang bersih, tanpa kumis dan jenggot sehelai pun.

Puluhan tahun berlalu dan berliku kehidupan membawanya jauh dari Blora, pada 2004 ia merasakan sesuatu yang aneh. Setibanya ia ingat pengalaman magisnya kala itu sekaligus kenangan dengan saudara-saudaranya–seperti Pram kecil yang pecundang karena marah akibat dilecehkan teman-temannya sebagai penggembala yang menghamili kambingnya sendiri–dan dari sini Soesilo Toer memutuskan untuk langsung kembali ke Blora, merawat peninggalan sang ayah, dan mendirikan perpustakaan Pataba.

“Jadi, sekujur hidup saya itu ya pembelajaran dan itulah pendidikan diri sendiri,” katanya.

Seni membaca buku

Secuil hal lagi yang tidak akan pernah kita dapat dari ruang angkuh sekolah, bahkan kampus, Mbah Soes mengingat, adalah soal seni membaca.

Pertama, membaca itu membaca apa pun. Kita tidak berakhlak ketika membatasi bacaan kita hanya pada bidang atau penulis tertentu, termasuk yang jelas-jelas bertentangan dengan kita.

Kedua, siapa pun tidak diperkenankan untuk membaca buku seperti memakan kacang: habis ditelan, langsung lupa rasanya. Kita harus berani untuk mencoret-coret gagasan yang seksi dari buku, bahkan membuat daftar sendiri atasnya.

“Jika ada yang menarik, apalagi yang relevan dengan kita, coret saja. Jangan takut. Soal buku harus berani,” ujar Soesilo Toer di sela mengisahkan pengalamannya tentang dimarahin petugas perpustakaan karena banyak bukunya jadi kotor.

Ketiga, kita tidak boleh kalah dan diperbudak oleh gawai, mengetahui musuh terlicik buku saat ini adalah ponsel. “Ponsel itu gunanya kan untuk komunikasi, jadi pakailah komunikasi jangan digunakan untuk bermalas-malasan, membuang-buang waktu,” kata pria yang cukup terpengaruh oleh Tresno Yuwono, Ernest Hemingway, dan Thomas Mann ini.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini