Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Setelah Insiden Sabotase Pipa Nord Stream, Inggris Kirim Fregat ke Laut Utara
(Gambar: Sputnik News)

Setelah Insiden Sabotase Pipa Nord Stream, Inggris Kirim Fregat ke Laut Utara

Berita Baru, Internasional – Pekan lalu, operator jaringan pipa Nord Stream melaporkan adanya penurunan tekanan besar dan kebocoran bahan bakar. Pihak berwenang Swedia dan Denmark kemudian mengkonfirmasi bahwa mereka telah menemukan dua kebocoran gas, dengan kesimpulan bahwa insiden itu adalah hasil sabotase.

Seperti dilansir dari Sputnik News, setelah insiden sabotase, Angkatan Laut Kerajaan Inggris mengirim fregat ke Laut Utara, kata Kementerian Pertahanan. Menurut London, pihak berwenang Inggris bekerja sama dengan angkatan laut Norwegia untuk meyakinkan mereka yang bekerja di dekat jaringan pipa gas.

Tidak disebutkan fregat mana yang dikirim, namun, laporan menunjukkan kemungkinan HMS Somerset (F82), yang telah berlatih dengan pasukan Norwegia di dekat Stavanger.

Nord Stream 1 dan 2 mengalami kebocoran bahan bakar setelah mengalami penurunan tekanan yang cepat pada 26 September. Operator menyebut bahwa kerusakan semacam itu pada sistem pipa belum pernah terjadi sebelumnya.

Rusia menyebut sabotase itu sebagai tindakan terorisme negara yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Anglo-Saxon menargetkan jaringan pipa dengan sengaja untuk menghancurkan infrastruktur energi Eropa.

Pada hari Minggu, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan bahwa negara-negara yang menentang pembangunan pipa – yaitu, AS, Polandia dan Ukraina – bisa menjadi penerima manfaat langsung dari insiden Nord Stream.

Serangan tersebut terjadi di tengah krisis energi yang sedang berlangsung di Eropa. Harga telah melonjak secara global sejak 2021, namun, situasinya semakin memburuk setelah AS, Inggris dan Uni Eropa mengadopsi beberapa putaran sanksi anti-Rusia untuk mengutuk operasi militer khusus Moskow di Ukraina. Selama beberapa bulan terakhir, harga gas melonjak tinggi, mengakibatkan inflasi besar dan meningkatnya biaya hidup di UE, Inggris, dan banyak bagian dunia lainnya.