Rudal China Ancaman Signifikan bagi AS

Rudal China 1
(Foto: Missile Threat)

Berita Baru, Internasional – Menurut Global Fire Power, tingkat militer China berada di peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Rusia. Power Index China menunjukkan angka 0.0691, di mana angka 0,0000 dianggap sempurna. Penilaian itu didasarkan dari jumlah militer, alutista (darat, laut, udara) kekuatan alam, logistik, finansial dan geografi.

Meski demikian, AS perlu waspada dengan peluru kendali (rudal) China karena beberapa rudal China mampu menjadikan wilayahnya menjadi target. Hal itu disampaikan oleh Missile Threat yang fokus mengkaji ancaman rudal di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jumat (26/6).

“Beijing memiliki misil yang paling menonjol … yang menggunakan kombinasi rudal balistik dan rudal jelajah yang diluncurkan dari udara, darat dan laut untuk menargetkan aset militer sekutu AS dan AS di wilayah Asia-Pasifik,” tulis Missile Threat, 26 Juni 2020.

Sebagai wadah pemikir untuk kebijakan luar negeri AS, CSIS juga mengakui bahwa China mengembangkan sejumlah kemampuan canggih seperti rudal balistik antikapal yang dapat melakukan manuver, MIRV dan rudal boost-glide hipersonik.

“Republik Rakyat China (RRC) sedang dalam proses membangun dan mengerahkan persenjataan rudal yang canggih dan modern, meskipun terselubung kerahasiaan karena ambiguitas yang disengaja maupun karena keengganan China untuk memasuki kendali senjata atau perjanjian transparansi lainnya,” tulis Missile Threat.

Sebelumnya, Jumat (26/6), Sekretaris Jendral NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa China harus bergabung dengan negosiasi trilateral kotrol senjata global baru, yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China.

Berita Terkait :  Deplu AS: Perlombaan Senjata AS-Rusia-China Akan Merugikan Dunia

Namun Kementerian Luar Negeri China dengan tegas menolak ikut campur mengenai hal itu.

Missile Threat juga menyebutkan bahwa China kini memiliki rogram pengembangan rudal yang paling aktif dan beragam di dunia. Terutama dalam bidang rudal balistik antarbenua atau Intercontinental Ballistic Missile (ICBM).

ICBM merupakan rudal balistik yang mempunyai jangkauan yang begitu jauh dan dirancang untuk bisa membawa senjata kelas berat, nuklir misalnya. Setidaknya China mempunyai 3 rudal ICBM, yaitu DF-4 (4.500-5.500 Km), DF-31 (8.000-11.700 Km), DF-5 (13.000+ Km), dan DF-41 (12.000-15.000 Km).

Beberapa ahli militer berpendapat bahwa DF-41 sebagai rudal dengan jangkauan terjauh di dunia. Ia melebihi jangkauan rudal ICBM terbaik AS, yaitu LGM-30 Minuteman yang memiliki daya jangkau sekitar 13.000 Km.

Dengan demikian, jika melihat jarak AS dan China (sekitar 11.000 Km), maka China mempunyai setidaknya 3 rudal balistik ICBM yang bisa menyerang wilayah AS.

“China juga memiliki rudal balistik antarbenua nuklir yang relatif kecil namun berkembang dan mampu menyerang tanah air AS, serta armada kapal selam rudal balistik nuklir yang berkembang,” tulis Missile Threat.

Berita Terkait :  AS Keluhkan Ketidakhadiran China dalam Perundingan Nuklir AS-Rusia

Tidak hanya dalam pengembangan rudal balistik ICBM, China juga mengembangkan beragam rudal balistik regional.

Secara detil, rudal regional China dibagi menjadi 4 kelas: rudal jelajah (0-1.500 Km), rudal balistik jarak menengah atau ICBM (300-1.000 Km), rudal balistik medium atau MRBM (1.000-3.000 Km), dan rudal balistik jarak pendek atau SRBM (3.000-5.500).

Di kelas rudal jelajah didominasi oleh rudal seri Hong Niao (HN). Terdapat tiga seri HN dengan kemampuan masing-masing, yaitu HN-1, HN-2, dan HN-3. Rudal jelajah HN bertujuan untuk membuat rudal jelajah berkemampuan nuklir dengan jangkauan sampai 3.000 Km.

Di kelas SRBM, China mempunyai DF-11A (600 Km), DF-12 (420 Km), DF-16 (1.000 Km), DF-15C (900 Km), dan DF-15B (900 Km). Di kelas MRBM, China mempunyai DF-17 (2.000+ Km), DF-21C/D (1.500+ Km), dan DF-21A (1.750+ Km). Dan di kelas IRBM, China mempunyai DF-26 (4.000+ Km).

“Gudang senjata rudal China yang bayak dan beragam merupakan ancaman signifikan bagi AS dan pasukan sekutu di kawasan indo-pasifik.”

Berita Terkait :  Kendalikan Nuklir, Trump Pertimbangkan New START dengan Rusia

Di samping pengembangan rudal balistik dan rudal jelaja, CSIS juga mengatakan bahwa Angkatan Laut China juga mengerahkan armada baru kapal selam rudal balistik nuklir dan kapal induk canggih.

Berkat peningkatan Intelligence, Surveilence, dan Reconnaissance (ISR) China, kemampuan rudal balistik China berpotensi menyerang angkatan laut lain, termasuk AS dan sekutunya.

Pada kesempatan yang berbeda, Oktober 2019, CSIS juga pernah merilis laporan bahwa bukan hanya kekuatan rudal dan misil China yang berpotensi menghancurkan aset AS.

Namun China juga menyiapkan cara perang baru yang bertujuan untuk memimpin kekuatan militer dunia dan menargetkan wilayah AS.

“Banyak dari sistem baru China dirancang untuk menurunkan perintah, kontrol, kesadaran situasional, dan penargetan presisi AS sembari meningkatkan kemampuan China sendiri di bidang ini,” tulis CSIS.

China memprioritaskan pada sistem teknologi tinggi seperti peperangan elektronik, sistem tak berawak, dan rudal jelajah serta rudal balistik dengan target yang luas dan presisi.

“Persenjataan semacam itu meningkatkan kemampuan China untuk merusak pasukan AS dari melakukan operasi militer yang rumit di sebagian besar Asia-Pasifik.,” imbuh CSIS.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan