Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gus Rozin
Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Abdul Ghaffar Rozin. (Foto: Tangkap Layar)

RMI PBNU Dorong Empat Fokus Transformasi Digital di Pesantren



Berita Baru, Jakarta – Ketua Umum Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) Abdul Ghaffar Rozin meminta transformasi digital di pesantren fokus pada empat hal. 

“Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam transformasi digital di pesantren. yakni transformasi di bidang kesehatan, pendidikan, tata kelola, dan ekonomi digital,” kata Gus Rozin, sapaan akrabnya.

Hal itu ia sampaikan dalam Webinar Series Pra-Muktamar PCINU Sedunia dengan tajuk Transformasi Digital di Lingkungan NU dan Pesantren Perlukah?, pada Minggu 12 Desember 2021.

Menurut Gus Rozin, transformasi digital di bidang kesehatan saat ini sangat penting karena Indonesia  masih berada di masa pandemi COVID-19. “Layanan kesehatan dan dunia pesantren masih memiliki jarak,” ujarnya.

“Tidak semua pesantren memiliki fasilitas kesehatan. Sehingga aplikasi seperti salamdoc, yang setiap konsultasi bayarnya pakai fatihah satu kali sangat penting dan membantu,” tambah Gus Rozin.

Kedua adalah transformasi digital dalam pendidikan. Gus Rozin mencontohkan, calon wali santri tidak perlu lagi datang ke pesantren ketika instansi tersebut memiliki ruang pameran secara digital.

“Digital bisa memperkuat fokus pendidikan lebih terbantu, seperti hafalan Qur’an, ushul fikih, baca kitab kuning, sehingga lebih intens dan lebih mudah diakses. Silaturahim ilmiah secara digital,” ungkapnya.

Ketiga, Gus Rozin juga mendorong adanya tata kelola pesantren berbasis digital. Pesantren menurutnya perlu untuk meningkatkan akuntabilitas pengelolaan keuangan secara digital. Apalagi setelah ada UU pesantren, maka pelaporan kegiatan dan keuangan harus jelas.

“Perlu ada pengembangan ekonomi digital di pesantren yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, ketika membicarakan transformasi digital di NU, tidak bisa meninggalkan transformasi digital dunia pesantren. 

“24 ribu pesantren yang berafiliasi dengan NU jenisnya sangat beragam dan luas. Ada pesantren yang sudah mampu membuat aplikasi, program dan sisi lain masih ada pesantren yang sama sekali belum berkenalan dengan teknologi,” terangnya. 

“Inisiatif apapun yang berkaitan dengan dunia digital sangat relevan. Baik yang sangat dasar maupun yang sudah mahir. Karena jenisnya banyak. Tinggal digunakan untuk pesantren mana,” imbuh Gus Rozin.

Usaha RMI-NU dalam transformasi digital, lanjutnya, di antaranya menjalin kerja sama dengan Amazon, pembuatan aplikasi salamdoc, kerjasama dengan PCINU Jerman untuk digitalisasi saat Covid-19, antisipasi virus muncul di pesantren. 

RMI juga bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja RI menginisiasi memanfaatkan balai latihan kerja untuk masuk ke dunia digital. 

“Kalau saya berposisi bahwa dunia digital adalah keniscayaan tinggal bagaimana kita menyiapkan diri memanfaatkan dengan baik,” tegasnya.

Gus Rozin menyebutkan transformasi dunia pesantren menjadi sebuah keniscayaan dewasa ini. Hal ini dikarenakan hampir seratus persen santri saat ini adalah generasi yang akrab dengan digital sejak lahir.

“Santri yang lahir tahun 2000-2005 memandang masalah dengan cara berbeda. Pendekatan cara menyelesai masalah juga beda. Biasanya pendekatan praktis,” ungkap Gus Rozin

Maka, kata Gus Rozin, ketika pesantren menolak transformasi digital, seolah pesantren ini menolak sebuah keniscayaan yang datang. 

“Kita pernah sedikit telat antisipasi peperangan pemikiran di dunia digital. Kita banyak kecolongan dengan banyaknya generasi muda yang belajar agama lewat media sosial,” sambungnya.

Lebih lanjut, Gus Rozin menyebut pesantren dan NU terlambat mengisi media sosial dengan ajaran ahlussunnah.

“Dampaknya sangat mengkhawatirkan. Untungnya ketertinggalan ini segera disadari dan kemudian ada gerakan masif dari pemuda NU lewat berbagai organisasi. Sekarang sudah mampu mengimbangi. NU tidak boleh ketinggalan lagi,” pesannya.

Selain itu, Gus Rozin juga menyampaikan, saat ini RMI PBNU mendapatkan wakaf tanah 10 hektar di Karanganyar. Pihaknya berharap tanah wakaf itu dapat dimanfaatkan sebagai pusat pendidikan teknologi bagi warga NU.

“Kita ingin setiap cabang mengirim murid terbaik untuk belajar teknologi,” tandasnya.