Rembuk Desa Sebagai Penyatuan Desa Sukodadi

    Rembuk desa sebagai penyatuan Desa Sukodadi dengan keberagaman dan toleransi di dalamnya

    Oleh : Ana Oktaviana
    (Ilmu Administrasi Bisnis, Universitas Brawijaya)

    Terletak disebelah timur  Gunung Kawi dengan ketinggian 610 meter di atas permukaan laut, dukuh Krajan Genderan dalam kecamatan Wagir kabubaten Malang, Jawa Timur. Tahun 1885, Belanda datang untuk menduduki pedukuan-pedukuan diantaranya penduduk Jamuran, pedukuan Ampelantuk, pedukuan Kebonkuto, pedukuan Genderan, pedukuan Jengglong, dan pedukuan Petungpapak.

    Melihat kesuburan tanah dengan hawa yang sejuk akhirnya Belanda memutuskan tinggal di pedukuan Genderan. Untuk seterusnya menyebar ke semua pedukuan untuk menanam kopi jawa dan membangun pabrik dan Gudang. Karena penghasilannya selalu mengalami kerugian yang sangat besar maka pada tahun 1897 Belanda meninggalkan perkebunan beserta pabrik dan gudangnya[1].

    Pada tahun 1898 penduduk lain daerah banyak yang berdatangan untuk menguasai lahan perkebunan tersebut diantaranya Sumirno dari Jawa Tengah. Tahun 1899 dibentuk pamong dusun dengan nama-nama sebagai berikut: Kamituwo (Parwi), Kepetengan (Dalim), Carik (Karsan),  Mudin (M. Irsad),  Kebayan (Ngatemin) dan pamong tersebut membawahi enam wilayah pedukuan yaitu Dusun Jamuran, Ampelantuk, Kebonkuto, Genderan, Jengglong dan Petungpapak.

    Tangal 29 Nopember 1912 tepatnya pada hari senin legi, dengan diadakan pemusyawarahan desa untuk menyatukan enam dusun yang akan diberi nama Desa Sukodadi artinya yang disukai itulah yang menjadi pemimpin. Bapak Rasono yang pertama kali menjabat sebagai kepala desa[2].

    Dengan luas 745.901 Ha[3] dan terdapat beberapa pamong desa di dalamnya yang menjadikan desa Sukodadi menjadi desa yang beragam dengan jenis individu yang berbeda pula. Terdapat perbedaan baik itu perbedaan pendapat, pandangan, agama, ras, budaya, dan perbedaan lainnya.

    Lalu bagaimana Desa Sukodadi bisa terus berdiri bahkan berkembang menjadi seperti sekarang ini? Seperti yang kita ketahui, dimana adanya Desa Sukodadi ini merupaka hasil penyatuan dari berbagai macam dusun yang berbeda-beda. Dan apa sebenarnya yang menjadi pegangan kuat pada Desa Sukodadi ini?

    Berita Terkait :  Pembunuh Begal di Malang Dituntut Hukuman Seumur Hidup

    Dapat kita jumpai perbedaan dalam mata pencharian para penduduknya, dan juga dalam soal agama yang dianutnya. Ada lima agama yang dianut penduduk Desa Sukodadi ini yaitu, Islam, Kristen, Katholik, Hindhu dan Budha.Dengan nilai toleransi yang telah lama dipraktekan disini dan dijadikan tempat mencari pengetahuan, sehingga nantinya dapat menerapkan hidup toleransi beragama.

    Toleransi

    Pembinaan agama ditekankan pada penerimaan dan pemahaman dasar Negara Pancasila dan pengembangan wawasan kebangsaan melalui upacara bendera, rapat koordinasi dan pembinaan-pembinaan lainya[4].

    Dalam keberagaman suku bangsa, budaya, etnis dan agama, Indonesia terbukti mampu bersatu menjadi satu bangsa dan negara yang utuh hingga kini. Maka, agar keutuhan dan persatuan bangsa ini selalu terjaga, toleransi adalah sikap yang paling dituntut dari setiap bangsa Indonesia[5].

    Sama halnya yang diterapkan oleh Desa Sukodadi ini yaitu toleransi, sehingga Desa ini semakin harmonis dengan para penduduknya yang berbeda agama. Sikap toleransi dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Itulah yang menjadikan Desa ini masih berdiri hingga sekarang.

    Baru-baru ini,TIM Doktor Mengabdi yang diketuai oleh Dr. Nur Chanifah, M. Pd.I , dalam sambutannya menyampaikan akan membranding Desa Sukodadi ini untuk dijadikan desa wisata edukasi tolerasi. Program ini sangatlah penting sebagai wujud dari pengabdian civitas akademik Universitas Brawijaya, untuk mendorong potensi-potensi yan dimiliki warga setempat. Sehingga dapat dikembangkan jauh lebih berguna baik bagi masyarakat setempat dan masyarakat luar.

    Berita Terkait :  17 Narasi Kerja "Visi Indonesia" Presiden Jokowi

    Untuk itu diadakan musyawarah antara tim doctor mengabdi, kepala desa sukodadi dan masyarakat desa yang menjadi peran pemuda karang taruna dan ibu-ibu PKK. Para pemuda karang taruna akan dilatih terlebih dahulu agar mengerti seluk beluk pariwisata, dari potensi, pengelolaan, pembuat paket wisata hingga penyebaranya ke media-media sosial sebagai ajang promosi.

    Sementara untuk ibu-ibu PKK akan dilatih membuat batik toleransi. Tim batik yang akan mendampingi ibu-ibu selama pelatihan telah membuatkan gambar batik yang menggambarkan toleransi agama warga dan diberi nama Batik Lereng Rarem serta Batik Kertokusuma. TIM Doktor mengabdi sangat berharap antusiasme warga ini dapat dipertahankan sehingga dapat terwujud desa wisata edukasi.[6]

    Semangat hidup Bersama secara dinamis dan harmonis di tengah-tengah kemajemukan dan berbagai perbedaan  yang ada di masyarakat kita, merupakan pengertian dari pro-eksitensi [7].Banyak sekali contoh yang menerapkan sikap toleransi, seperti menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain, saling membantu dan tolong-menolong sesama tanpa membeda-bedakan, dan masih banyak lagi.

    Desa Sukodadi sendiri pun sudah membuktikan dengan penerapan hasil nyata dari pro-eksitensi itu sendiri. Sebagai contohnya yaitu pada saat salah satu kelompok agama membangun rumah ibadah mereka secara bersama sama ikut serta membantu dalam prosesnya. Dan tiga macam rumah ibadah dapat berdiri karena gotong-royong warga, serta kegiatan keagamaan berjalan dengan kerjasama dari berbagai pihak[8].

    Dan juga pada saat penduduknya yang 30% beragama hindu melakukan kegiatan sembahyang catur Brata yang dilanjutkan dengan tawur Agung kesanga. Kegiata ini dibantu oleh warga muslim dan Nasrani. Ritual Catur Brata merupakan ritual penyembahan kepada para butakala, selain itu ritual ini untuk mengusir hal-hal negatif menjelang perayaan nyepi. Sehingga para umat hindu melaksanakan kegiatan keagamaan dengan khusyuk.

    Berita Terkait :  Kejurprov Jatim, Tuban Berhasil Borong Medali & Dapat Juara Umum

    Budaya

    Kegiatan kirab ogoh-ogoh atau tawur Agung kesanga adalah agenda tahunan yang kali ini di ikuti oleh 37 sanggar, dimana harapan kedepanya agar dinas pariwisata kabupaten malang menjadikan kegiatan ini menjadi agenda wisata bagi para wisatawan lokal maupun domestik karena desa sukodadi menjadi contoh desa yang menjunjung nilai toleransi beragama yang di mana warga masyarakat desa Sukodadi hidup rukun walaupun berbeda-beda keyakinan[9].

    Desa Sukodadi ini berpegang teguh pada Bhinneka Tunggal Ika. Dimana penerapan yang sudah mereka lakukan yang mencerminkan nilai-nilai dari itu sendiri. Walaupun berbeda keyakinan, tetapi tetap menjunjung dan menjaga rasa kebersamaan itu penting, tanpa melihat Suku,Ras dan Agama  karena kita satu bangsa Indonesia.

    Desa Sukodadi ini bisa  menjadi cerminan untuk desa-desa lainnya. Dan menjadikan icon untuk Indonesia sebagai Desa toleransi, yang dimana nantinya akan menjadikan tempat belajar hidup bersama tanpa memandang perbedaan agama dan keyakinan.

    toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Sesungguhnya kita sebagai manusia merupakan mahluk sosial dimana kita tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

    Dengan adanya toleransi terhadap sesama yang menciptakan suasana menjadi rukun, damai dan harmonis dalam masyarakat. Sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi sikap toleransi, kita juga harus mewujudkan kerja nyata dari pro-eksitensi itu sendiri, membangun bersama dengan bergotong-royong. Sehingga menciptakan suatu inovasi baru untuk negeri tercinta ini. Karena sesungguhnya perbedaan itu bukan penghalang bagi kita untuk dapat mengeksplor dunia.


    Tinggalkan Balasan