RCCC UI Gelar Diskusi Virtual Bertajuk “Basic Income, Setuju atau Tidak?”

-

Berita Baru, Jakarta – Dalam rangka peluncuran Laporan Basic Income for Nature and Climate, Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) menggelar diskusi virtual yang bertemakan “Basic Income, Setuju atay Tidak?” pada Selasa, (27/04/21).

Gelaran diskusi tersebut merupakan serangkaian acara sebelum peluncuran laporan pada Jumat mendatang.

RCCC UI menghadirkan dua pembicara pada kegiatan diskusi tersebut, yaitu Cania Citta Irlanie (Geolive) dan Ranitya Nurlita (Environmental & Youth Activist). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.00-15.00 WIB tersebut diikuti oleh sekitar 60 peserta.

Nurlita menyampaikan paparan materi terlebih dahulu. Menurutnya, dia termasuk pribadi yang sangat afirmasi terkait wacana Basic Income for Nature and Climate seiring dengan fenomena temperatur global yang mengalami pergeseran signifikan serta dapat membahayakan.

“Jika selama ini wacana Basic Income hanya didiskusikan mengenai jaminan pendapatan tanpa syarat untuk masyarakat, saya ingin berbicara lebih jauh dalam konteks ini jaminan yang diperuntukkan untuk keselamatan alam kita, yang pada akhirnya juga untuk kenyamanan hidup masyarakat,” paparnya.

Meski demikian, Nurlita juga menuturkan bahwa sampai hari ini wacana Basic Income masih menjadi perdebatan, terutama mengenai mekanisme pendanaan serta kesiapan SDM dalam pengoperasiannya.

“Skema pendanaan barangkali menjadi tantangan terberat dalam misi penyelamatan alam ini, sumber dana yang masih belum terskemakan harus menjadi PR kita. Kemudian tak kalah penting SDM yang berintegritas dan mumpuni juga harus kita persiapkan, jika tidak fenomena yang tidak diharapkan seperti halnya korupsi adalah konsekuensi terburuk,” tegasnya.

Seirama dengan pernyataan Nurlita, Cania yang mendapat giliran bicara kedua. Dirinya yang sejak lama terlibat dalam diskusi-diskusi mengenai Basic Income menyatakan sikap pro terhadap wacana tersebut.

Menurut Cania, model Basic Income ini bisa diskemakan seperti Welfare Policy agar realisasinya berjalan profesional dan adil.

“Menurut saya soal pendanaan bisa dikonsep model Carbon Devidence, dengan cara tersebut artinya kita punya tanggung jawab mensosialisasikan bahwa setiap orang butuh oksigen dan setiap pulau yang menghasilkan oksigen harus dibantu secara material, untuk keberlangsungan alam dan kenyamanan hidup kita,” tuturnya.

Cania menambahkan bahwa oksigen dibutuhkan oleh semua individu di dunia ini, dan faktanya yang memproduksi oksigen di dunia ini hanya segelintir saja yang itu dinikmati oleh seluruh manusia di bumi.

“Saya mencontohkan Kalimantan dan Papua, dua pulau tersebut adalah salah satu yang sampai saat ini terus memproduksi oksigen terbaik karena terhitung masih banyak hutan. Oksigen yang diproduksi dinikmati oleh manusia sedunia tanpa ada atensi terhadap dua pulau ini, bagiku it’s not fair aja,” tegasnya.

Menurut Cania, harus ada kesadaran kolektif oleh masyarakat dunia tentang urgensi atensi pada pulau-pulau penghasil oksigen dengan membantu menjaga kelestariannya dengan materi, bukan hanya kemudian sebatas menikmati oksigennya.

Dalam wacana Basic Income ini, Cania juga menyoroti tentang design system dana yang diterjunkan ke masyarakat.

“Kita harus menjamin design systemnya adalah yang memungkinkan untuk menngontrol para penerima agar tetap produktif, jangan sampai karena masyarakat kita menerima Basic Income kemudian menjadi pemalas dan tidak produktif. Saya juga berpandangan pentingnya keberadaan institusi yang jelas menaungi kebijakan atau dengan adanya alternatif pihak ketiga,” pungkasnya.

Di sesi akhir diskusi, kedua pembicara memberikan kesimpulan bersama. Menurut keduanya, Basic Income adalah wacana yang relatif masih baru dan perlu untuk terus digaungkan, agar misi kemanusiaan, penyelamatan alam, serta iklim mampu terwujud.

Dengan begitu, diharapkan akan terjadi perubahan besar di dunia, yang dimulai dan dirancang secara bersama..

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments