Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Penyimpanan Minyak
(Foto: REUTERS / Jean-Paul Pelissier)

Ratusan Juta Barel Minyak Mengambang di Laut, Dunia bisa Kehabisan Penyimpanan Minyak pada bulan Mei

Berita Baru, Internasional – Pada hari Sabtu (18/4) kemarin, surat kabar Reuters dengan merujuk pada beberapa sumber, menulis laporan bahwa sekitar 160 juta barel minyak saat ini disimpan di kapal tanker raksasa di laut karena kurangnya ruang penyimpanan di darat. Jumlah itu mencatatkan rekor penyimpanan minyak tertinggi sejak 2009, di mana lebih dari 100 juta barel mengambang di laut, bahkan bisa dua kali lipatnya.

Pada bulan Februari, sekitar 10 kapal very large crude carriers (VLCC) atau biasa disebut kapal supertanker karena daya penyimpanan minyaknya hingga 2 juta barel, disewa untuk menyimpan minyak di laut sebagai pengganti fasilitas minyak konvensional.

Pada awal April, jumlah kapal itu diperkirakan sudah berjumlah 25-40 kapal, dan sekarang sudah meningkat hingga 60 kapal. Sebagian kapal-kapal itu mengambang di dekat Singapura dan di Pantai Teluk AS. Diyakini bahwa tarif sewa penyimpanan kini telah mencapai $ 350.000 sehari – dua kali lipat dalam sebulan.

Tidak hanya kapal supertanker, kapal penyimpanan minyak kecil juga digunakan untuk penyimpanan karena para pedagang berusaha menyimpan minyak dalam penyimpanan sampai situasi stabil dan permintaan minyak global kembali ke “normal.”

Gregory Lewis, seorang analis pengiriman BTIG mengatakan kepada Reuters, bahwa “Ini adalah masa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kapal tanker. Tidak hanya kapal penyimpanan tanker VLCC yang bergerak dan menjadi berita utama, tanker minyak mentah dan yang lebih kecil juga digunakan untuk penyimpanan.”

Bahkan, menurut perkiraan yang disampaikan Lewis, jumlah kapal VLCC yang digunakan untuk penyimpanan minyak bahkan bisa tiga kali lipat dalam beberapa bulan mendatang.

Mengapa Ada Banyak Minyak?

Kekenyangan saat ini terutama dipicu oleh penurunan permintaan minyak global, sebagai akibat dari pandemi virus korona yang sedang berlangsung. Pandemi COVID-19 itu telah menghentikan kegiatan ekonomi dan jalur perdagangan, dan mengakibatkan kehancuran permintaan yang substansial.

Sementara itu, produksi minyak semakin meningkat. Gagalnya kesepakatan OPEC+ pada bulan Maret bahkan menciptakan perang harga di antara negara-negara penjual minyak. Dan pada tanggal 9 Maret, OPEC+ kembali mengadakan pertemuan dan menyepakati pemotongan produksi minyak hingga 9.7 juta barel per hari pada bulan Mei hingga Juni sebagai upaya untuk menghilangkan sebagian kelebihan pasokan dari pasar.

Tingginya produksi dan kurangnya permintaan membuat pasokan minyak mengalami kekenyangan. Dan tingginya pasokan minyak membuat harga minyak mengalami terjun bebas di harga yang terendah dalam beberapa dekade.

Kelebihan pasokan kini telah mencapai sekitar 9 juta barel per hari, yang telah menciptakan pengisian unit penyimpanan yang berlebihan. Meskipun OPEC+ bulan April sudah menyepakati pemotongan produksi, namun itu masih berlaku pada bulan Mei, sementara di bulan April, produksi masih tinggi. Para ahli kemudian khawatir bahwa dunia dapat kehabisan penyimpanan minyak pada bulan Mei.


SumberSputnik News