Petuah Kiai Sepuh | Cerpen Muhtadi ZL

Petuah Kiai Sepuh
(Cerpen, Muhtadi.ZL)

Setiap pulang dari dhalem Kiai Sepuh, wajah Rakmin selalu tampak murung. Pikirannya dibuat linglung dengan berbagai macam pertimbangan yang Kiai Sepuh lontarkan, tak jarang pula, ketika ia menuturkan ke camat, bentakan seolah melahap wajahnya.

“Tidak setuju lagi,”sambar Parman, camat desa Gedangan.

“Benar, Kiai Sepuh tidak mau, beliau takut jika itu terjadi, musibah besar akan datang menimpa desa ini,”ujar Rakmin setelah menyemburkan asap rokoknya.

Di teras rumah Rakmin, kegelisahan bercampur aduk, seolah bergelantungan bak kelelawar siang dibenak mereka. Kedua petinggi desa itu bingung dengan pendapat Kiai Sepuh yang selalu tidak setuju dengan program desa untuk memajukan sumber daya manusia. Padahal mereka sudah punya jalan cepat untuk mewujudkan hal itu. 

Rakmin yang saat ini menjabat kalebun desa Gedagan sangat optimis dengan cara yang sudah dikatonginya. Saat dirapatkan dengan pimpinan dan divisi yang lain, sangat sedikit yang mengatakan tidak setuju. Namun ketika sowan ke Kiai Sepuh, justru semua keputusan orang banyak bak tembikar bertebaran di pinggir trotoar.

“Lalu ini bagaimana, mumpung ada kesempatan,”ujar Parman dengan mata yang terbelalak, mimiknya sangat serius, sampai urat di dahinya bermunculan, seolah benar tampak bahwa  ia bebal dengan pendapat Kiai Sepuh.

Rakmin sudah paham betul dengan perangani Parman, jadi wajar, bila Parman tidak begitu percaya dengan perkataan Kiai Sepuh, sebab dari riwayat pendidikan, ia alumni sekolah negeri, sampai strata satu pun mengekori. Namun berbeda denga Rakmin mulai dari  MTs-nya sudah mengeyam pendidikan pesantren. Ia tercatat sebagai alumni pesantren Kiai Sepuh, kurang lebih tiga tahun, lalu pindah ke pesantren salaf yang ada di pulau garam.

Jemu buka tidak bersemayam dalam batok kepala dan hati kedua petinggi desa itu, apalagi Parman. Namun ia lebih mendunkung apa yang dikehendaki Rakmin ketimbang Kiai Sepuh yang selalu menanggalkan recananya, untuk mewujudkan desa maju dengan cara instan.

“Begitulah sulitnya, kalau satu desa masih ada yang sepuh,”tambah Parman ketika selesai menyerumput kopi yang tinggal separuh di cangkirnya.

“Hus…. jaga mulutmu, beliau itu Kiai Sepuh, petuah-petuahnya mudah terkabul.”

“Terkabu! Buktinya apa? Desa kita baik-baik saja.”

“Beliau tidak melihat sekarang, tapi kelak, di masa depan.”

“Masa depan? Sok tahu saja Kiai Sepuh itu,”ujarnya ketus sambil kembali menyulut rokoknya.

Dalam hati, Rakmin berisigfar dan berharap, apa yang dilontarkan Parman tidak mendapat balak. Di samping ia lebih percaya pada penjaga negeri ketimbang penjaga gedung politisi, seperti Parman, kolega kerjanya.

***

Sebenarnya Rakmin tahu, setiap ia sowan, dapat dipastikan jawaban yang akan ia dapat selalu membuat linglung pikirannya, karena ia takdzim kepada Kiai Sepuh, ia akan terima walau berat dada, sebab jika bukan karena restu Kiai Sepuh, mungkin ia tidak akan menjadi kalebun di desa Gedangan. Ia sangat bersyukur dengan restu itu, karena bukan hanya ia yang sowan ke Kiai Sepuh sebelum pemilihan kalebun berlangsung. Musuh terdekatnya pun begitu.

“Pak kiai, banyak orang luar negeri yang ingin memebeli tanah di desa ini, kira-kira kiai setuju tidak?”tanya Rakmin saat sowan suatu hari.

Kiai Sepuh diam, menunduk dan merapal, entah kalimat apa. Kulit keriput dan jenggot putihnya, membuat ia teramat disanjug oleh warga desa Gedangan. Setiap kali ada permasalahan, Kiai Sepuh selalu menjadi hakim yang arif, sebab ia tidak pernah menggunakan kata-kata yang sekiranya tidak menyakiti perasaan orang lain, meskipun orang itu sudah benar bersalah. Kiai Sepuh akan mengambil keputusan yang bijak.

“Tak perlulah kau tergiur dengan hal sekejap itu,”suara serak kering Kiai Sepuh terdengar sumbang di gendang telinga Rakmin. Tidak jarang bila sedang bebrbicara dengan Kiai Sepuh Rakmin  harus mendekatkan jarak.

“Tapi kiai….”

Tiba-tiba Kiai Sepuh mengangkat tangan setinggi dada, pertanda Rakmin harus bungkam. Kiai Sepuh tahu apa yang akan terjadi bila banyak tanah terjual kepada orang asing. Karena dalam mimpinya, akan ada bencana besar yang melanda desa Gedangan, jika ketakutannya terus dilanggar , salah satu jalannnya berawal dari tawaran yang selalu Rakmin ajukan pada Kiai Sepuh.

“Sudahlah, tugasmu hanya mengabdi pada masyarakat…”Kiai Sepuh tiba-tiba batuk berat, membuat kalimatnya menggantung seketika.

“Lakukan tugasmu, jangan tergiur,”suara Kiai Sepuh terdengar sangat sumbang.

Rakmin keluar ruangan setelah selesai sungkem dan mengucap salam. Ketika sampai di halaman, ia menundukkan kepala, dengan mimik yang  murung seketika. Ia teramat menyayangkan kesempatan itu tak mendapat tanggapan semestinya, tapi apalah daya, ia tidak bisa membangkak dari petua Kiai Sepuh.

*** 

“Terus bagaimana, apa kita terus seperti pelayan,”ujar Parman sambil melihat kopinya yang tandas.

Kelimpungan,besemayam dalam  di benak Rakmin, ia juga bingung, apa jabatannya hanya untuk menjadi pelayan, ia tidak begitu menghiraukan. Yang ia pikirkan bagaimana setiap kali sowan ada yang diterima, meski harus berpasangan sengan pertimbangan.

“Kita tunggu ilham saja,”wajahnya sanga datar.

“Apa! Tunggu ilham, kamu ngacok, kita bukan Nabi, mana mungkin mendapatkan hal itu.”

Untuk yang kesekian kali Rakmin beristigfar. Dari penampilan dapat di tebak, kalau Parman orang  perkotaan, lebih pasnya, ia lahir di kota. Apalagi dari sikap dan tutur bicara, sangat jelas pertanda sok priayiannya.

“Memangnya apa yang ditakutkan kiai tua bangka itu?”

Dalam hati Rakmin bertanya. Kenapa hamba sekolega kerja dengan orang yang seperti ini? Batinnya bertanya.

“Beliau sangat menyayangkan jika banyak tanah yang tejual di desa ini kepada orang asing. Andai yang membeli masih satu desa atau desa tetangga, beliau tidak keberatan.”

“Maksud kiai tua itu apa? Kenapa tua bangka itu lebih suka pada hal-hal yang murah. Kudet amat pikirannya,”ucapnya kesal sambil menyemburkan asap rokoknya ke segala arah.

“Beliau hanya menjalankan amanah bujhuk terdahulu. Lebih baik menjaga tanah daripada menjaga uang yang tak seberapa itu,”dengan suara halusnya, Rakmin berkata pelan.

Parman bingung harus berucap apa, ia tidak tahu jika keinginan Kiai Sepuh masih memilih kehidupan masa depan, dan ia tidak percaya dengan ha;-hal yang berbau spritual. Karena baginya hal seperti itu hanya ada di dunia fiksi. Begitu ia mengandaikan.

“Kang ini kopinya kalau sudah habis,”ucap istrinya lantang dari dapur.

Rakmin langsung berdiri dan meninggalkan Parman dengan kekesalan yang menggerogoti tubuhnya.

Parman sangat bingung, ia tidak tahu harus merayu Rakmin dengan apa lagi agar mau menjual tanah warga yang jauh dari harga jual biasa. Kenapa aku tidak mendatangi yang punya tanah saja? Ucapnya pelan dan menulis sesuatu di kertas rokok yang baru saj ia robek. Lalu pergi—dengan segumpal resah dan gelisah—tanpa sepengetahuan Rakmin. Ia sangat bosan dengan pendapat Rakmin yang masih mengantungkan semua nasib desa kepada Kiai Sepuh.

Ketika Rakmin keluar dengan dua cangkir kopi yang masih mengepul. Di ambang pintu ia terperanjat saat tak mendapati Parman di tempanya. Ia bingung dengan Parman yang pergi entah kemana. Tapi saat meletakkan kedua cangkir kopinya, ia terbelalak melihat kertas sobekan rokok dan bertuliskan tinta hitam.

“Aku muak dengan petuah kiai tua itu, pecat aku jika kau percaya pada kata-kata konyol kiai-mu itu.”

Rakmin terdiam, ia bimbang dengan surat yang di tinggalkan Parman. Sebananya Parman amanah dalam mengemban tugasnya, apalagi mencari menjalin hubungan dengan pejabat luar, Parman sangat bisa di andalkan. Namun kebohongan yang ia pendam, membuat Parman bosan dengan kinerja Rkamin yang masih memutuskan sesuatu dengan sepihak. Andai Parmna tahu, dalam kepalanya, Rakmin setuju dengan pendapat kolega kerjanya. Sebab setiap tawarannya menggiurkan, dan ingin hal itu, tapi karena tawadhuknya pada guru , Rakmin tidak melakukan hal itu. Dan ia rela mengorbankan misi besarnya, menjadikan desa Gedangan sebagai desa yang permai dan lebih maju dari desa-desa yang lain berkat penjualan tanah warga.

“Apakah aku harus membangkak dari pertimbangan Kiai Sepuh demi mewujudkan cita-cita desa? Mungkin itu sangat perlu, tapi…?”tanyanya pada angin yang menyeret kepul kopinya.

Annuqayah, 2019

Muhtadi.ZL adalah Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman (INSTIKA) dan Pengurus Perpustakaan PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di Komunitas Penulis Kreatif (KPK) dan Komunitas Cinta Nulis (KCN) Lub-Sel. Menulis Esai, Resensi dan Cerpen serta karya tersebar dibebrapa media. E-mail [email protected].

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini