Perselisihan Media, China Menolak Memperbarui Kartu Pers Jurnalis AS

(Foto: Getty Images)

Berita Baru, Internasional – Akibat hubungan yang terus memanas, otoritas China menolak memperbarui kredensial pers untuk tiga reporter organisasi berita AS yang berbasis di China sebagai akibat dari gesekan kedua negara tersebut.

Menurut sebuah keterangan sepeerti dilansir dari The Guardian, Jurnalis dari Wall Street Journal, CNN dan Getty Images, tidak dapat melakukan pembaharuan kartu pers mereka karena tindakan AS baru-baru ini terhadap jurnalis China di AS.

Sebaliknya, para jurnalis diberi surat yang memberi mereka izin sementara untuk bekerja menggunakan kredensial pers mereka yang sudah habis masa berlakunya, yang biasanya berlaku selama satu tahun. Otoritas China seolah mengindikasikan bahwa masa depan kartu pers para reporter AS bergantung pada apakah Gedung Putih mengizinkan jurnalis China untuk terus bekerja di AS atau tidak. .

CNN mengatakan bahwa korespondennya yang berbasis di Beijing, David Culver, seorang warga negara Amerika, diberitahu oleh pejabat China bahwa pembatasan itu merupakan “tindakan timbal balik” terhadap keputusan AS dalam membatasi visa para jurnalis China di AS.

Berita Terkait :  Cina Lanjutkan Operasi Militer di Laut Cina Selatan ketika Angkatan Laut AS Berperang Melawan COVID-19

“Namun, kehadiran kami di China tetap tidak berubah dan kami terus bekerja dengan otoritas lokal untuk memastikan hal itu berlanjut,” kata CNN dalam sebuah pernyataan.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Jeremy Page, seorang reporter Inggris di biro Beijing juga terdampak terhadap kebijakan tersebut. Baik CNN dan Wall Street Journal mengatakan kepada wartawan bahwa visa mereka, yang bergantung pada validitas kartu pers, akan diperpanjang tetapi dipersingkat menjadi dua bulan. Sementara Getty Images menolak berkomentar tentang masalah ini.

Berbulan-bulan China dan AS melakukan aksi saling balas dendam terhadap konflik jurnalis di kedua negara. Pada bulan Maret, China mengusir belasan lebih jurnalis AS setelah AS mencap media pemerintah China yang beroperasi di AS sebagai misi asing.

Perselisihan media AS-China semakin dalam ketika Beijing mengisyaratkan balas dendam atas pembatasan pada media pemerintah

Kemudian pada bulan Mei, sebagai tanggapan atas penindasan terhadap jurnalis AS di China, pemerintahan Trump membatasi jangka waktu reporter China untuk tinggal di AS selama tiga bulan, dengan kemungkinan pembaruan. Visa tersebut dilaporkan akan berakhir pada November – sekitar waktu yang sama, visa jurnalis CNN dan Wall Street Journalist yang baru saja terkena dampak akan berakhir jika tidak diperpanjang.

Berita Terkait :  Demonstrasi Chile Memakan Korban, 23 Orang Meninggal

Sejak itu, kondisi pelaporan di China semakin memburuk dengan pemblokiran koresponden asing dalam melakukan wawancara dan diikuti oleh agen keamanan. Beberapa akademisi mengatakan bahwa mereka harus melalui proses persetujuan khusus untuk dapat berbicara dengan media asing.

Awal bulan ini, seorang reporter Los Angeles Times yang melaporkan protes di Mongolia dicekik tenggorokannya dan ditahan dalam sel di sebuah kantor polisi selama empat jam.

Juru bicara kementerian luar negeri China Hua Chunying mengatakan pada hari Kamis bahwa masalah media antara AS dan China adalah salah satu yang lahir dari mentalitas Perang Dingin.

“Jika AS terus bergerak ke jalur yang salah, China tidak punya pilihan selain mengambil tindakan balasan yang dapat dibenarkan dan diperlukan untuk dengan tegas menegakkan hak-haknya yang sah,” katanya.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan