Penyebab Naiknya Resiko Tekanan Darah Tinggi pada Anak

-

Berita Baru, Inggris – Dari hasil studi, anak-anak yang terpapar polusi udara tingkat tinggi di dalam rahim dan usia dini lebih mungkin menderita tekanan darah tinggi.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, Bayi yang terpapar polusi udara ketika mereka masih dalam kandungan mungkin mengalami masalah tekanan darah yang lebih tinggi saat masih anak-anak.

Peneliti mempelajari efek paparan faktor lingkungan seperti polusi, kebisingan dan lingkungan yang diatas rata-rata, pada bayi sebelum dan sesudah lahir.

Para ahli, dari Institut Barcelona untuk Kesehatan Global, mengamati para ibu dan bayi yang tinggal di enam kota Eropa, termasuk di Bradford di Inggris.

Mereka menemukan hubungan antara tekanan darah tinggi saat anak-anak dan paparan polusi udara tingkat tinggi, serta kepadatan bangunan, kebisingan, paparan yang rendah dengan ruang hijau, dan status sosial ekonomi yang rendah.

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, seperti penyakit arteri koroner dan serangan jantung.

Para ahli mengatakan, perencana kota perlu memperhitungkan efek dari faktor-faktor tersebut untuk menyelamatkan anak-anak dari penyakit kardiovaskular pada saat mereka mencapai usia dewasa.

“Hasil kami menunjukkan bahwa, sejak pembuahan dan seterusnya, lingkungan perkotaan dapat memengaruhi tekanan darah pada anak-anak prasekolah,” kata penulis studi Charline Warembourg dari Barcelona Institute for Global Health, pada kamis (12/11).

“Ini berarti bahwa, perlu adanya komitmen terhadap desain perkotaan dan perencanaan transportasi. Serta dirancang untuk mengurangi paparan lingkungan yang merusak dan berpotensi mengurangi risiko penyakit kardiovaskular di masa dewasa”

Untuk mempelajari dampak paparan perkotaan pada anak-anak, tim peneliti menganalisis data dari sampel 4.279 anak berusia antara empat hingga lima tahun.

Anak-anak itu tinggal di salah satu dari enam kota Eropa – Bradford di Inggris, Poitiers dan Nancy di Prancis, Sabadell dan Valencia di Spanyol, dan Heraklion di Yunani.

Tim menilai berbagai aspek lingkungan anak – awalnya, selama periode tempat tinggal ibu selama kehamilan, dan selanjutnya rumah anak tersebut setelah lahir.

Faktor-faktor yang dipelajari meliputi lingkungan binaan, ruang alam, lalu lintas, polusi udara, kebisingan, iklim dan tingkat kesulitan sosial dan ekonomi.

Menilai tekanan darah anak-anak ketika mereka berusia antara empat dan lima tahun memungkinkan mereka untuk mempelajari efek jangka panjang dari paparan yang dianalisis.

Analisis hasil menunjukkan bahwa paparan terhadap tingkat polusi udara yang lebih tinggi, terutama selama dua periode pertama kehamilan, dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih tinggi di masa kanak-kanak kelak.

Tim tersebut mempertimbangkan tingkat nitrogen dioksida (NO2), sebagai polutan yang diketahui menyebabkan masalah kesehatan seperti radang saluran pernapasan, sekaligus dapat memperburuk penyakit jantung dan paru-paru yang ada.

Tim menemukan, peningkatan NO2 sebesar 9,1 mikrogram per meter kubik (μg / m3) dikaitkan dengan peningkatan 0,9 milimeter merkuri dalam tekanan darah diastolik.

Nilai batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melindungi penduduk dari efek merusak NO2 adalah 40 μg / m3. Suatu ambang batas terlampaui secara aman dan teratur di kota-kota seperti Barcelona dan Madrid.

Karakteristik lain dari lingkungan perkotaan selama masa kanak-kanak juga penting, kata tim tersebut.

Kepadatan bangunan yang tinggi dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih tinggi, sementara konektivitas transportasi perkotaan yang baik ditemukan terkait dengan tekanan darah yang lebih rendah.

“Ada kemungkinan bahwa asosiasi ini mencerminkan bagaimana orang-orang bergerak di dalam kota dan mungkin menunjukkan bahwa konektivitas yang lebih besar mendorong aktivitas fisik didalam populasi masyarakat” kata Warembourg.

Paparan kebisingan juga tampaknya terkait dengan tekanan darah yang lebih tinggi pada anak-anak.

Menurut WHO, kebisingan lalu lintas jalan raya dianggap sebagai faktor risiko hipertensi, kemungkinan besar disebabkan oleh respons tekanan (Stress) fisiologis.

Berdasarkan analisis mereka, satu dari setiap lima anak tinggal di lingkungan perkotaan yang ditandai dengan tingkat polusi udara, kebisingan, dan kepadatan bangunan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih tinggi daripada yang diamati pada anak-anak yang tidak terpapar faktor lingkungan tersebut.

Tekanan darah tinggi adalah salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, suatu kondisi yang saat ini menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia.

“Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan tekanan darah tinggi lebih mungkin mengembangkan penyakit hipertensi di kemudian hari,” kata Martine Vrijheid, pemimpin studi dan direktur Barcelona Institute for Global Health’s Childhood and Environment Program.

Hasil penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya mengidentifikasi paparan lingkungan yang berkontribusi terhadap hipertensi pada awal kehidupan.

Tim peneliti mengungkapkan, mengingat meningkatnya urbanisasi populasi dunia, peran desain perkotaan dan transportasi dalam kesehatan menjadi topik yang semakin memprihatinkan

menurut PBB, populasi perkotaan dunia telah tumbuh pesat sejak 1950-an hingga 2050, 68 persen populasi dunia diproyeksikan tinggal di daerah perkotaan,

“ Pertumbuhan urbanisasi ini akan meningkatkan jumlah orang yang terpapar faktor buruk dari perkotaan yang merugikan dan akan berdampak pada kesehatan dan layanan kesehatan dalam jangka panjang” kata mereka didalam makalah penelitian, yang diterbitkan di Environment International.

“Namun dalam menangani akar penyebab untuk mencegah paparan tersebut, mungkin lebih tepat melalui desain kota untuk mempromosikan aktivitas fisik dan mengurangi bahaya lingkungan didalam perkotaan”, tambah tim.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments