Berita

 Network

 Partner

Pemimpin Tertinggi Iran Sebut Biden Tak Beda dengan Trump
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Hosseini Khamenei. Foto: Reuters.

Pemimpin Tertinggi Iran Sebut Biden Tak Beda dengan Trump

Berita Baru, Teheran – Pada hari Sabtu (28/8), Pemimpin Tertinggi Iran Ali Hosseini Khamenei menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sebagai “serigala pemangsa” dan tidak jauh berbeda dengan mantan Presiden Donald Trump.

“Di balik layar kebijakan luar negeri Amerika, ada serigala pemangsa yang terkadang berubah menjadi rubah yang licik,” kata Khamenei, dikutip dari AFP.

Hal itu disampaikan Khamenei saat mengunjungi kabinet baru Presiden Ebrahim Raisi yang disahkan pada Rabu (25/8) kemarin dan sebagian besar anggotanya banyak masuk daftar hitam AS.

Pernyataan Khamenei itu muncul sesaat sebelum Iran AS, bersama dengan kekuatan dunia lainnya, diperkirakan akan kembali ke Wina untuk melakukan pembicaraan kesepakatan nuklir Iran 2015.

Terkait kesepakatan nuklir, pada kesempatan yang sama, Khamenei juga mengecam perilaku “tak tahu malu” AS.

Berita Terkait :  Mike Pence Jamin Keamanan Prosesi Transisi dan Pelantikan Presiden Joe Biden

Ia menilai AS berperilaku seolah-olah Iran yang salah dan meninggalkan perjanjian padahal AS sendiri yang pada 2018 secara sepihak menarik diri dari kesepakatan dan langsung menjatuhkan sanksi keras pada Iran.

Dia juga mengecam para peserta dari Eropa yang ikut dalam kesepakatan itu, dengan mengatakan, “mereka juga seperti AS, tetapi dalam kata-kata dan retorika mereka selalu menuntut, seolah-olah Iranlah yang telah lama mengejek dan merusak negosiasi”.

Perkembangan ini juga muncul setelah Jumat (27/8), Menlu Iran yang baru, Hossein Amirabdollahian melakukan panggilan telepon pertamanya dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell.

Borrell meminta komitmen Iran untuk menghadiri diskusi di Wina terkait kesepakatan nuklir.

Iran sendiri telah mengatakan akan kembali untuk melanjutkan enam putaran pembicaraan yang berakhir pada 20 Juli, tanggal tertentu belum ditentukan.

Berita Terkait :  Covid-19 India: Angka Kematian Lampaui 400.000 Kasus

Sementara AS dalam pemerintahan Biden mengatakan ingin kembali ke kesepakatan nuklir, namun sanksi “tekanan maksimum” peninggalan mantan Presiden Trump tetap berlaku.

Pejabat Iran dan AS sejauh ini berselisih tentang bagaimana dan sanksi apa yang perlu dicabut, dan bagaimana Iran perlu mengurangi kembali program nuklirnya.

Iran saat ini memperkaya uranium hingga 60 persen, tingkat yang lebih tinggi.

Khamenei secara khusus mengarahkan kabinet Raisi untuk merencanakan pengelolaan ekonomi negara yang sedang sakit dengan asumsi bahwa sanksi AS akan tetap berlaku.

“Diplomasi tidak boleh dipengaruhi dan dikaitkan dengan masalah nuklir karena masalah nuklir adalah masalah terpisah yang harus diselesaikan dengan cara yang sesuai dan layak bagi negara,” katanya.

Berita Terkait :  Bicara Via Telepon dengan Xi Jinping, Biden Angkat Kasus HAM China

Pada kesempatan itu, Khamenei juga mengungkapkan kesedihannya atas insiden bom bunuh diri di luar bandara Kabul pada hari Kamis (26/8) yang menewaskan puluhan warga Afghanistan dan 13 personel AS.

“Masalah dan kesulitan ini adalah urusan orang Amerika yang selama 20 tahun menduduki negara itu dan memberlakukan berbagai kekejaman pada orang-orang di negara itu,” ungkapnya, dilansir dari Al Jazeera.

Taliban kini telah menguasai hampir seluruh Afghanistan dan Khamenei mengatakan Iran mendukung rakyat di negara itu karena, seperti sebelumnya, ‘pemerintah datang dan pergi tetapi rakyat tetap ada’.

“AS tidak mengambil satu langkah pun untuk kemajuan Afghanistan. Jika Afghanistan hari ini tidak ketinggalan dalam hal perkembangan sosial dan sipil dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, itu tidak maju,” imbuhnya.