Pembalasan Cinta Bumi

Cinta Bumi

Siti Nur Samsiyah

Mahasiswi Pascasarjana Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta


Air, tanah dan udara adalah elemen kehidupan bumi yang banyak mengalami pencemaran saat ini. Pencemaran lingkungan lazim kita menyebutnya.  Entah dimulai sejak kapan, tau-tau, kita sadar saat ketiganya tak lagi memberi sesuai keinginan. Air mulai beraroma tak sedap, tanah gersang dan kesuburan berkurang, atau udara yang dipadati polusi hingga bau menyengat pada rongga pernafasan saat jalan di pinggir sungai. Tindak tanduk keseharian kita yang tidak ramah lingkungan membawa kita pada kecemasan baru. Mungkinkah anak cucu kita nanti turut merasakan ketiga elemen kehidupan sebagaimana fungsinya, menghidupi kehidupan bumi.

Cinta bumi pada manusia tidak pernah putus, lihat saja berapa banyak tanda cinta bumi untuk manusia, sepuluh jari kita tidak akan sanggup menghitungnya. Air yang mengalir sepanjang waktu, lautan yang menyumbangakan ikan-ikan pada jaring nelayan, udara yang kita hirup setiap detik, sepoi angin yang menyejukkan di bibir pantai, tanah yang mengasilkan umbi-umbian, segala jenis buah dan sayur mayur yang menyehatkan badan selalu datang dari petani di setiap pagi. Lalu apa balasan kita untuk semua tanda cinta bumi itu?

Berita Terkait :  Italia Bangun Resor Ski Bebas Plastik Pertama di Eropa

Sebut saja upaya penambangan pasir laut di perairan pulau Sekopong Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sejak tahun 2016 sampai 2020 nelayan masih bersitegang dengan PT Sejati 555 Sampurna Nuswantara sebagai pengirim kapal penambang pasir. Jangan kira hanya pasir saja yang diboyong ke darat, anak ikan, telur, biota laut hingga terumpu karangpun akan turut musnah. Jika sudah seperti ini, nelayan kecil akan kesulitan mencari ikan di dekat pantai. Sementara untuk melaut lebih jauh dibutuhkan kapal besar dengan modal yag tidak sedikit. Penambangan pasir laut juga menjadi pemicu meningkatnya tensi abrasi di Pantai Cemara dan lenyapnya pulau-pulau kecil tempat transit para nelayan di sekitaran pulau Sekopong.

Bergeser ke zona padat penduduk, Pulau Jawa. Di Tahun 2014 silam kita digemparkan aksi mandi pasir warga kampung Miliran, Kota Yogyakarta, Provinsi D.I Yogyakarta, sebagai protes warga terhadap aksi gila-gilaan izin pembangun hotel yang menguras air bawah tanah. Banguan mewah yang tak terjamah kelas ekonomi bawah tersebut menyedot habis air sumur warga. Aksi protes terus dilayangkan warga Yogyakarta bersama sejumlah aktivis lingkungan dan mahasiswa belum juga usai hingga saat ini. Memang tidak bisa mengembalikan seketika, sebab apa yang sudah manusia rampas dari bumi tidak bisa kembali dalam waktu cepat, alam membutuhkan banyak waktu untuk mendaur ulang dan memproduksi yang terkandung dalam tanah.

Berita Terkait :  KBM Mix; Solusi Kembali Sekolah Tanpa Waswas

Kisah pasir dan tanah diatas adalah gambaran kecil dari laku picik manusia pada bumi, bahkan kerap terulang di lain tempat dengan modus baru untuk mengelabui kata pencemaran lingkungan. Mengapa manusia begitu serakah? Seolah, manusia adalah makhluk yang hanya ingin dicintai tanpa pernah mau membalas cinta bumi. Mengharap dikasihi tanpa tau balas budi, meminta nikmat tapi berlaku keparat. Mungkinkah kebengisan ini bermula dari laku acuh tak acuh kita pada lingkungan terkecil kita, halaman rumah tanpa tanaman.

Sesegera mungkin, membalas cinta bumi adalah jawaban untuk kelakuan “kurang ajar” kita selama ini. Menanam adalah salah satu wujud nyata membalas cinta bumi.  Menanam apa saja, dimana saja, kapan saja. Dengan menanam kita akan menumbuhkan harapan-harapan kehidupan yang pernah kita patahkan di masa lalu karena perilaku tak ramah lingkungan. Menanam akan mengajari kita perjalanan waktu, proses kehidupan yang terus berjalan dari waktu ke waktu.

Tanaman yang kita rawat dengan baik, kita jaga dengan sepenuh hati tidak akan mengingkari janji. Tanaman pasti akan tumbuh dan memberikan hasil terbaik darinya. Sebuah konspirasi baik dari air, tanah dan udara pada tanaman menciptakan keseimbangan hidup manusia bumi melalui tanda cintanya seperti oksigen, hasil bumi, dan penjagaan dari bendaca alam.

Berita Terkait :  Gubernur Jatim Diminta Cabut Izin Pertambangan di Banyuwangi

Menyemai biji, menemani batang dan daun yang tumbuh perlahan merupakan pelajar hidup yang sayang untuk kita lewatkan. Pepatah jawa menyebutkan, sopo seng nandur bakale panen (barang siapa yang menanam suatu hari ia akan memetik hasilnya). Jangan kebanyakan intrupsi tidak ada lahan, tak punya waktu, bukan passion atau apalah lainnya. Kita sudahi saja perilaku tuna asmara pada bumi, mencintainya tidak saja membawa kebaikan pada kelestarian alam tetapi juga terapi diri, menepi dari penatnya kehidupan.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan