Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Dalam file foto 1998 ini tersedia Jumat, 19 Maret 2004, Ayman al-Zawahri, kiri, mendengarkan selama konferensi pers dengan Osama bin Laden di Khost, Afghanistan. Foto: AP Photo/Mazhar Ali Khan.
Dalam file foto 1998 ini tersedia Jumat, 19 Maret 2004, Ayman al-Zawahri, kiri, mendengarkan selama konferensi pers dengan Osama bin Laden di Khost, Afghanistan. Foto: AP Photo/Mazhar Ali Khan.

Pejabat CIA Paparkan Kronologi Pembunuhan Al-Zawahiri



Berita Baru, Washington – Pemimpin Al Qaeda Ayman al-Zawahiri dilaporkan tewas dalam sebuah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) di Kabul, Afghanistan pada Sabtu (30/7) pukul 01:48 GMT.

Kematian Al-Zawahiri tersebut, jika benar, maka dipastikan akan menjadi pukulan telak bagi Al Qaeda sejak Sang Pendiri Osama Bin Laden tewas pada 2011.

Namun, bagaimana sebenarnya Amerika Serikat, melalui Presiden Joe Biden, mengatakan bahwa pihaknya mengklaim berhasil membunuh Al-Zawahiri?

Al-Zawahiri diketahui bersembunyi selama bertahun-tahun dan hampir tidak pernah muncul di hadapan publik untuk menghindari pembunuhan, mengingat ia mempunyai Bounty $25 juta karena dianggap sebagai salah satu ‘kreator’ insiden 9/11 yang menewaskan ribuan warga AS.

Muncul isu bahwa Al-Zawahiri berada di wilayah suku Pakistan atau di dalam Afghanistan.

Seorang pejabat senior pemerintah (CIA) mengatakan kepada Reuters dengan syarat anonim bahwa operasi untuk menemukan dan membunuhnya adalah hasil kerja “sabar dan gigih” oleh komunitas kontra-terorisme dan intelijen.

Pejabat tersebut memberikan perincian berikut tentang operasi tersebut:

Pertama, selama beberapa tahun, pemerintah AS telah mengetahui jaringan yang dinilai mendukung Al-Zawahiri. Selama setahun terakhir, setelah penarikan Amerika Serikat dari Afghanistan pada Agustus tahun lalu, para pejabat telah mengamati indikasi kehadiran Al Qaeda di negara itu.

Tahun ini, para pejabat mengidentifikasi bahwa keluarga Al-Zawahiri – istrinya, putrinya dan anak-anaknya – telah pindah ke rumah aman di Kabul dan kemudian mengidentifikasi Al-Zawahiri di lokasi yang sama.

Kedua, selama beberapa bulan, para pejabat intelijen semakin yakin bahwa mereka telah mengidentifikasi Al-Zawahiri dengan benar di rumah persembunyian Kabul dan pada awal April mulai memberi pengarahan kepada pejabat senior administrasi.

Jake Sullivan, Penasihat Keamanan Nasional, kemudian memberi pengarahan kepada Presiden Joe Biden.

“Kami mampu membangun pola kehidupan melalui berbagai sumber informasi independen untuk menginformasikan operasi tersebut,” kata pejabat itu.

Begitu Zawahiri tiba di rumah persembunyian Kabul, para pejabat tidak menyadari dia meninggalkannya dan mereka mengidentifikasi bahwa memang dia ada di rumah persembunyian tersebut denga dirinya terlihat muncul di balkon rumah.

Ketiga, para pejabat menyelidiki konstruksi dan sifat rumah persembunyian dan meneliti penghuninya untuk memastikan Amerika Serikat dapat dengan percaya diri melakukan operasi untuk membunuh Al-Zawahiri tanpa mengancam integritas struktural bangunan dan meminimalkan risiko bagi warga sipil dan keluarga Al-Zawahiri.

Keempat, dalam beberapa minggu terakhir, presiden mengadakan pertemuan dengan penasihat kunci dan anggota Kabinet untuk meneliti intelijen dan mengevaluasi tindakan terbaik.

Lalu, pada 1 Juli, Presiden Joe Biden diberi pengarahan tentang operasi yang diusulkan di Ruang Situasi Gedung Putih oleh anggota kabinetnya termasuk Direktur CIA William Burns.

Pejabat tersebut mengatakan, Presiden Joe Biden “mengajukan pertanyaan terperinci tentang apa yang kami ketahui dan bagaimana kami mengetahuinya” dan memeriksa dengan cermat model rumah persembunyian yang dibangun dan dibawa oleh komunitas intelijen ke pertemuan tersebut.

Presiden Joe Biden juga bertanya tentang pencahayaan, cuaca, bahan konstruksi, dan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan operasi serta meminta analisis tentang konsekuensi potensial dari protes yang mungkin muncul di Kabul.

Kelima, Sebuah lingkaran ketat pengacara antar-lembaga senior memeriksa pelaporan intelijen dan menegaskan bahwa AlZawahiri adalah target yang sah berdasarkan kepemimpinan Al Qaeda yang berkelanjutan.

Pada 25 Juli, presiden mengumpulkan anggota kabinet dan penasihat utamanya untuk menerima pengarahan terakhir dan membahas bagaimana pembunuhan Zawahiri akan mempengaruhi hubungan Amerika dengan Taliban, di antara masalah-masalah lain.

Setelah meminta pandangan dari orang lain di ruangan itu, Biden mengizinkan “serangan udara yang disesuaikan dengan tepat” dengan syarat meminimalkan risiko korban sipil.

Keenam, serangan akhirnya dilakukan pada pukul 21:48. ET (01:48 GMT) pada 30 Juli oleh sebuah pesawat tak berawak yang menembakkan apa yang disebut rudal “hellfire” atau “api neraka”.