Berita

 Network

 Partner

Pedofilia | Cerpen: Moh. Rofqil Bazikh
Ilustrasi: Van Gogh

Pedofilia | Cerpen: Moh. Rofqil Bazikh

Laksmita, mata kerling liontin, pipi mirip jeli, meski separuh tertutup ujung rambut. Rambut yang memang tidak mengenal sanggul, bagian belakangnya nyaris lewat dari pundak. Umpama akuarium, matanya terdapat macam-macam ikan dan pernik warna. Mata yang bukan kemarau, saban hari selalu ada saja ketenangan di sana. Waktu-waktu yang senggang, aku akan mencubit pipinya, ia tidak pernah marah. Tetapi, itu terjadi beberapa tahun sebelum lahir anak pertama—sekaligus terakhir. Sesudah itu, tidak pernah kulihat apalagi kupegang pipinya yang menurutku memang terbuat dari jeli. Ia kulepas setelah darah mengucur deras dari bagian bawah tubuhnya. Waktu itu, detik jam seperti mati langkah, ketiga jarumnya seketika patah-patah. Satu-satunya hal yang memang pantas kupersembahkan hanya tangisan. Aku tidak pernah malu untuk sesuatu hanya bisa digelar saat itu. Tetapi, aku tidak lupa pada kata-kata ibu; lelaki tidak boleh menangis, menangis adalah kepunyaan perempuan.

Laksmita dengan tega membiarkan kesunyian tumbuh di rumah pelan-pelan. Ia hanya menitipkan buah daging dari hasil bercinta kita malam-malam. Sesudahnya, ia tidak pulang, bahkan sampai bertahun-tahun, sampai Laksmini tumbuh besar. Anak kecil itu kuberi nama Laksmini, hampir mirip dengan nama ibunya. Semua kulakukan agar terasa tetap dekat dengan Laksmita. Tentu, agar Laksmini juga tidak lupa nama ibunya. Ia yang tidak pernah menatap kering mata ibunya yang liontin. Ia juga tidak pernah memegang pipinya yang terbuat dari jeli. Duh, sungguh menyedihkan Laksmini, tetapi aku selalu mencintainya sebagaimana mencintai Laksmita. Sesudah puluhan tahun dan angka umur Laksmini semakin bertambah , ia lebih tinggi dari ibunya. Tetapi, matanya bukan liontin juga tidak terdapat ketenangan sebagaimana mata Laksmita. Hanya pipinya yang terlihat kenyal dan tentu mirip jeli pula. Ini menyenangkan, aku bisa mencubitnya kapanpun mau. Laksmini juga seringkali membuat aduan kepadaku.

“Ayah, teman-teman selalu mencubit pipi Laksmini” ia selalu mengaduh seperti itu.

“Katakan, siapa yang berani memegang pipimu, pasti kujewer kupingnya.”

Berita Terkait :  Di Malecon Kau Raib | Puisi-Puisi D. Hardi

Ia menyebutkan nama teman-temannya dan aku pura-pura memerhatikannya. Pipinya memang benar-benar mirip jeli dan aku merasa Laksmita hidup kembali.  Nama yang disebut Laksmini semua adalah perempuan, tidak ada satu pun dengan kelamin lelaki. Itulah sebabnya aku hanya pura-pura mendengar, menurutku tidak elok jika orang tua harus selalu menuruti permintaan anak. Dan ketika kubalas teman perempuannya yang sering mencubit pipi Laksmini, tentu tidak sedikit yang menuduh aku manusia paling kasar pada anak perempuan. Aku tidak mau itu, aku adalah orang yang paling lemah pada perempuan, sebagaimana aku lemah kepada Laksmita dan pipinya.

Teman-temanku yang lain justru memaksaku menggelar lengkung janur kuning di depan rumah. Kata mereka aku masih muda dan masih pantas untuk kembali menikah. Saran mereka kutolak semua, aku hanya ingin bersama anakku. Aku hanya senang bersama dengan Laksmini dan terasa dekat dengan ibunya. Laksmita yang meninggal sepuluh tahun lalu, tetapi masih berdetak di dadaku sampai detik ini. Aku sudah bisa berdamai dengan keadaan, itu yang tidak diketahui banyak orang. Laksmini memang tinggi semampai, rambut yang tidak pernah kupotong dan dibiarkan memanjang. Setiap pulang sekolah aku menguncirnya menjadi dua bagian. Hal seperti itu dahulu yang diinginkan ibunya; ia ingin punya anak dan bersenang-senang selamanya.

“Yah, kenapa ibu tidak menunggu Laksmini besar dulu baru pergi?.”

Batinku bernar-benar koyak, kubayangkan satu anak panah melesat tepat di jantungku. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Dengan usaha yang keras, aku hanya mencari jawaban yang sekiranya masuk akal. Laksmini sudah besar, ia sudah mengerti mengapa ibunya lebih dahulu meninggal.

“Semua bukan kemauan ibumu, nak, kita hidup di dunia cuma sekadar dituntun untuk berjalan. Tuhan menentukan banyak hal, Ia yang menciptakan ayah, Ia yang menciptakan ibumu. Tentu, ia yang berhak mengambil ibumu.”

Mata Laksmini diterjang hujan. Air mata mengalir deras dari sana, kutarik tubuhnya dan meletakkannya di dada. Dadaku harus kuat untuk menampung kesedihan anakku satu-satunya. Pundakku memang terlalu berat untuk setiap beban selama beberapa tahun. Tetapi, cukup aku yang merasakan, haram hukumnya Laksmini juga merasakannya. Meski, hari ini ia menggelar tangisnya. Tidak pernah menatap keteduhan di mata ibunya, memang hal paling menyedihkan di dunia. Aku teringat pesan ayah, bahwa menjadi lelaki harus kuat melawan gempuran badai. Sungguh betul apa yang dikatakan ayah, menjadi dewasa tidak pernah menyenangkan. Kupeluk terus Laksmini erat-erat.

Berita Terkait :  Di Jembatan Charles, Sore Itu

Aku ingat kembali bagaimana mulanya mendapatkan Laksmita. Kita pacaran dan menjalin hubungan yang rumit dan tentu saja hampir putus. Tepat hari itu, saudara sepupuku, Andung, melamar Laksmita. Aku yakin Andung memang tidak tahu hubungan kami. Untungnya, Laksmita menceritakan itu dan meminta pendapatku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku menyerahkan semuanya kepada Laksmita. Beruntung keluarga Laksmita tidak setuju, atau lebih tepatnya Laksmita yang enggan untuk menjadikan Andung sebagai pendampingnya. Di rumah, aku hanya diam dan tidak bersuara apapun. Hubunganku dengan Laksmita memang diam-diam. Hanya aku, Laksmita, tentu saja yang satunya Tuhan yang tahu perihal hubungan itu.

Itulah sebabnya ketika Andung ditolak keluarga Laksmita aku memilih diam. Di dadaku seperti digelar sebuah upacara kesedihan sekaligus kesenangan. Kesedihan bercampur dengan segala hal yang membuatku gembira. Kasarnya, aku masih punya kesempatan untuk memiliki Laskmita. Selang setengah tahun, giliran aku yang melamarnya. Tidak mudah melamar Laksmita, harus melewati perdebatan yang alot dengan orang tua. Orang yang paling aktif di gelanggang perdebatan tentu saja paman Sam, ayah Andung, saudara ibu. Ia tidak setuju jika aku melamar Laksmita hanya karena Andung pernah ditolak. Aku tidak ingin malu duakali, katanya. Beruntung aku memenangkan perdebatan dan kedua orang tuaku setuju. Itu membuat paman Sam geram, segeram-geramnya. Apalagi lamaranku pada Laksmita diterima, yang sejak saat itu membuat paman Sam dan Andung benci pada kaluarga kami.

Berita Terkait :  Saat Aku Tergelepar | Puisi-Puisi Muhammad Yasir

Bahkan, setelah Laksmita meninggal dan Laksmini lahir ke dunia. Paman Sam atau bahkan Andung tidak sedikit pun menampakkan wajahnya ke rumah. Mereka benar-benar menyulut api permusuhan yang susah dipadamkan. Meski, ibu berkali-kali meminta maaf pada paman Sam akibat kelakuanku yang berani melamar Laksmita. Paman Sam merasa malu, ia menganggap ankanya, Andung, dikalahkan olehku dalam merebut hati perempuan. Tetapi, aku tidak berpikir ke situ, aku menganggap ini adalah rencana Tuhan yang baik. Meski, tidak lama setelah itu Laksmita juga pergi dan tidak pulang-pulang lagi.

“Lepas, yah, Laksmini ingin tidur.”

Suara Laksmini membuyarkan ingatanku sambil kulepas pelukan pelan-pelan. Suaranya yang miripi dengan Laksmita justru membuyarkan wajah ibunya dari kepala. Aku tahu, setelah itu, Laksmini meminta untuk ditemani tidur. Aku memang suka menamaninya tidur, kita tidur di ranjang yang bunyinya sudah tidak beraturan. Ditemani detak jam di pergelangan yang semakin kencang, malam meninggi sampai wuwungan rumah. Langit-langit kamar ini sungguh terasa sempit, sedang Laksmini sudah mulai menyulut dengkurnya. Kucium pipi Laksmini yang mirip jeli, kudekap erat-erat dari belakang. Setiap malam, tubuh sepasang ini menjadi satu, sambil kubayangkan Laksmita di situ.

“Ayah, ayah, kenapa namaku mirip perempuan, ayah. Laksmini kan laki-laki?”

Suara Laksmini memecah keheningan malam, aku bergeming. Segera kukatup mataku sungguh-sungguh, aku pura-pura tertidur dengan sangat nyenyak. Tentu, tak kulepaskan pelukan di tubuhnya yang putih. Laksmita, Laksmita, aku menemukan tubuhmu di anus anak kita.(*)

Yogyakarta, 2020


Moh. Rofqil Bazikh tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Harian Merapi, Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Analisa, Duta Masyarakat, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, dll. Bisa ditemui di surel [email protected] atau twitter [email protected]